prinsip kritik dalam islam
prinsip kritik dalam islam

Inilah Seni Mengkritik dalam Islam [1]: Prinsip-prinsip Mengkritik

Belakangan ini publik disibukkan dengan narasi liar yang mengatakan bahwa pemerintah saat ini anti kritik. Narasi ini kemudian dibumbui dengan sejumlah kasus yang kemudian ‘digoreng’ sedemikian rupa agar terlihat pemerintah ‘rajin’ mengkriminalisasi orang yang gemar mengkritik pemerintah.

Tentu fenomena di atas tidak dapat dibiarkan begitu saja sehingga akan menimbulkan kegaduhan di masyarakat yang berujung pada disintegrasi sosial. Anehnya, banyak masyarakat yang terpengaruh oleh narasi liar tersebut sehingga mereka menjadi menaruh rasa curiga terhadap pemerintah. Jika yang demikian terjadi, maka kebencianlah yang akan menyelimuti hati dan pikiran orang tersebut.

Kebencian inilah yang kemudian akan melahirkan kritik yang menjatuhkan. Kritik yang menjatuhkan yang didasari atas rasa benci ini biasanya akan lahir dalam bentuk fitnah. Terkait hal ini, Reda Manthovani (2019) menegaskan bahwa pada dasarnya, kritik adalah tindakan yang diperbolehkan bahkan tidak dapat disebut sebagai tindak pidana. Namun kritik yang dilakukan dengan rasa benci untuk kemudian dijadikan untu fitnah dan penghinaan, dapat dipidana. Dan yang demikian itu tidak termasuk kriminalisasi, tetapi memang tindakan kriminal.

Dalam kamus umum Bahasa Indonesia, WJS. Poerwadarminta mengartikan kritik sebagai sanggahan dan bantahan. Sementara dalam KBBI, kritik diartikan sebagai sebuah tanggapan disertai uraian dan pertimbangan baik-buruknya terhadap suatu hasil karya atau pendapat. Lebih lanjut, M. Nasir Mahmud dalam Kritik Sosial dalam Perspektif Islam (2017), menjelaskan kritik adalah usaha manusia untuk menetapkan apakah sesuatu (pengertian) itu benar atau tidak dengan jalan meninjaunya secara mendalam.

Prinsip Islam tentang Seni Mengkritik

Sebagai pedoman hidup, Islam juga menaruh perhatian terhadap fenomena sosial seperti etika, prinsip dan seni mengkritik. Allah menurunkan agama Islam sebagai petunjuk dan pedoman hidup manusia agar manusia mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Maka, melaksanakan ajaran Islam menjadi kuncinya.

Baca Juga:  Islam dan Budaya Lokal: Meneladani Cara Rasul Mengarifi Tradisi

Terkait hal ini, Imam Syafi’i berkata: “Ilmu mendahului amal. Pemahaman (yang mendalam dan lurus), sudah barang tentu hanya bisa diupayakan dan dilakukan oleh orang-orang yang berakal dan berpikir.” Apa yang diungkapkan oleh Imam Syafi’i sejatinya memberikan semacam rambu-rambu kepada kita bahwa segala sesuatu, termasuk mengkritik, haruslah dicari petunjukkan dalam ajaran Islam.

 Untuk itu, berikut penulis uraikan beberapa prinsip Islam tentang aktivitas mengkritik.

Pertama, prinsip perbedaan pendapat, ide atau gagasan. Seringkali seseorang atau kelompok melakukan sebuah kritik asal-asalan; yang penting orang dikritik adalah mereka yang berbeda pandangan. Yang demikian tentu saja terkesan menaruh rasa curiga dan benci. Walhasil, kritik yang dilayangkannya pun tidak objektif.

Islam sangat menghargai perbedaan. Sekalipun terhadap orang yang berbeda; baik afiliasi dan lainnya. Bahkan meskipun berbeda, Islam tetap menganjurkan orang yang berbeda bertegur sapa dan bekerjasama dalam hal kebaikan.

Kedua, kritik haruslah berasaskan manfaat. Islam melarang umatnya untuk melakukan aktivitas yang sia-sia, bahkan menimbulkan kemadlaratan. Begitu pun dalam aktivis mengkritik, haruslah berpedoman pada asas manfaat bagi sesama manusia. Sebuah kritik akan menjadi bermanfaat jika dilakukan secara santun dan disertai kritikan yang membangun serta menawarkan solusi.

Ketiga, harus objektif. Kritik bukanlah sekedar melontarkan sorotan atau sebuah nyinyiran, sebagai sebuah ekspresi atas ketidakpuasan atau atas dasar suka atau tidak suka (like or dislike), melainkan harus objektif. Tentu objektif di sini maksudnya adalah sebuah kritik yang disertai dengan fakta-fakta yang akurat, data yang valid, dan pengetahuan yang dapat dipertanggung jawabkan.

Keempat, mengkritik dengan santun. Quraish Shihab dan Buya Hamka ketika menafsirkan QS. Thâhâ: 44, adalah salah satu petunjuk bagi juru dakwah dalam menghadapi orang yang telah melampui batas. Ayat tersebut turun berkenaan dengan sikap keras Fir’aun terhadap dakwah yang dilakukan oleh Nabi Musa. Dalam permulaan berhadap-hadapan dengan orang yang typenya bak ‘Fir’aun’, janganlah langsung keras, melainkan harus disikapi dengan santun dan damai.

Baca Juga:  Catatan Pencarian Jejak Khilafah Di Nusantara (Bagian 3)

Perintah kritik dengan santun ini juga bisa dilacak dalam Alquran. Terkait hal ini, Alquran menggunakan istilah Qaulan ma’rufâ (perkataan yang baik). Istilah ini terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 235, An-Nisâ’ ayat 5 & 8, dan Al-Ahzab ayat 32. Lagi-lagi terkait hal ini, Quraish Shihab menegaskan bahwa perintah mengucapkan yang ma’ruf, mencakup pengucapan serta tindakan.

Jika dipahami secara kontekstual, fenomena Fir’aun sebagaimana disebutkan di atas memberikan petunjuk kepada kita bahwa melakukan dakwah, termasuk mengkritik penguasa misalkan, harus disampaikan dengan santun dan lemah lembut. Fir’aun yang amat durhaka saja Allah memerintahkan kepada Nabi Musa untuk menyampaikan risalah dengan lemah lembut.

Dari beberapa prinsip mengkritik di atas dapat disimpulkan sekaligus menjadi sebuah penegasan bahwasannya kegiatan mengkritik bukanlah kegiatan untuk menunjukkan kesalahan orang lain atau memojokkan lawan. Lebih dari itu, kritik sebagaimana dalam ajaran Islam haruslah dilakukan semata-mata karena untuk menghadirkan perbaikan dan kemanfaatan yang besar.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Avatar
Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir