prinsip kritik dalam islam
prinsip kritik dalam islam

Inilah Seni Mengkritik dalam Islam [3]: Stop Nyinyir, Let’s Dzikir!

Di tengah arus keterbukaan informasi dan berekspresi yang begitu deras, kita seringkali tidak bisa membedakan antara sebuah kritikan atau justru sebuah nyinyiran belaka. Namun, realita mengatakan bahwa nyinyir yang mengatasnamakan kebebasan berpendapat sudah marak terjadi.

Meskipun beberapa aktivis media sosial yang gemar nyinyir sudah diamankan oleh pihak kepolisian dan yang berwenang, tetap saja nyinyir masih bisa kita jumpai di mana-mana. Tentu saja fenomena yang demikian itu tidak boleh dibiarkan begitu saja karena bisa menjadi sebuah batu sandungan bagi kesehatan dan kedamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Orang yang shalih, lurus dan tulus, tidak anti-kritik. Justru mereka senantiasa meminta petunjuk dan pendapat dari orang-orang yang benar-benar memiliki kapasitas yang mumpuni dan yang memiliki integritas tinggi. Orang-orang yang benar-benar memiliki ilmu tinggi dan memegang teguh prinsip mengkritik sangat dinantikan kehadiran dan peranannya. Sebab, dengan cara ini, mereka dapat mengetahui kesalahan dan kekurangannya sehingga bisa dengan cepat kembali kepada kebenaran.

Fenomena Nyinyir Menurut Islam

Belakangan banyak kalangan yang ngakunya sedang melakukan kerja luar biasa, yakni memberikan masukan untuk pemerintah dengan cara mengkritik, namun ternyata ia terjebak dalam sebuah nyinyiran. Kritik yang kemudian menjelma menjadi ajang untuk membuka gerbang keburukan (Baharun, 2011: 253).

Nyinyir, mencemooh dan mengolok-olok dalam Islam hukumnya jelas tidak boleh. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Hujarat ayat 11, bahwa Allah melarang umatnya untuk mengolok-olok. Dalam hadis juga ditegaskan, Nabi bersabda: “Barangsiapa yang menghujat sahabatku, maka cambuklah ia.” (HR. Bukhari).

Nyinyir memang menemui puncak ‘kejayaannya’ di era media sosial. Karena dalam media sosial, seseorang bebas mengekspresikan dirinya, mulai dari mengupload foto pribadi, video sampai curhat masalah pribadi. Bahkan, kita juga bisa menggunakan akun ‘fake’ di media sosial. Tentu dengan akun ‘fake’ alias palsu, aktivitas nyinyir bisa lebih leluasa.

Baca Juga:  Inilah Seni Mengkritik dalam Islam [1]: Prinsip-prinsip Mengkritik

Untuk menghindari dan menyikap fenomena nyinyir sebagaimana digambarkan di atas, perlu dicarikan sebuah solusi yang efektif untuk mencegahnya. Setidaknya ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

Pertama, berkata baik atau diam.

Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam; barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia menghormati tetangganya; barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.“(HR Bukhari Muslim).

Hadis ini sangat populer dan bahkan relevan di era kemajuan teknologi seperti saat ini. Bahwa dalam bermedia, sedah seharusnya kita menjadikan hadis Nabi di atas sebagai pedoman. Jika tidak sanggung berkata baik, lebih baik diam (tidak like, komen dan share).

Ibnu Hajar Asqalani mengomentari hadis ini sebagai nilai-nilai yang harus dijunjung tinggi oleh umat Islam. Bahwa melalui hadis di atas, Nabi memberi pedoman untuk berakhlak baik dengan menjaga lisan. Menjaga lisan dari berkata kotor, keji dan menyakiti orang lain. Lisan di sini tentu saja makna kontekstualnya adalah menjaga jari.

Kedua, tidak fanatisme berlebihan.

Menurut Ahmad Santoso (2018), fenomena nyinyir di media sosial merupakan buah dari kebencian yang membati buta atau fanatisme berlebihan dalam mendukung dan mengikuti seseorang atau kelompok. Lebih menukik lagi, Fadillah (2016: 45) mengatakan, fanatisme berlebihan tidak dibenarkan lantaran akan menutupi sikap kritis dan mengundang truth claim yang nggak ketulungan sehingga memandang kelompoknya paling benar dan kelompok lain salah serta kelompok lain itu harus dihujat dan sejenisnya.

Dalam kaitannya dengan hal di atas, ada sebuah riwayat yang patut kita renungi dan implementasikan. Bahwa mendukung dan mencintai seseorang atau kelompok harus dilakukan secara proporsional (sewajarnya). Nabi bersabda: “Cintailah kekasihmu sewajarnya, karena bisa jadi suatu saat dia akan menjadi seorang yang engkai benci. Dan bencilah orang yang engkau benci sewajarnya saja karena bisa jadi suatu saat dia akan menjadi kekasihmu.” (HR. Tirmidzi).

Baca Juga:  Jejak Ulama Nusantara (1) : Kisah Mbah Maksum dan Etnis Tionghoa

Stop Nyinyir, Let’s Dzikir

Sungguh nyinyir tidak akan mendatangkan manfaat yang besar. Dalam hadis Bukhari N0. 49 dan Shahih Musli No. 116 terdapat sebuah hadis: “Mencaci maki orang Muslim adalah fasiq dan memeranginya adalah kafir.” Oleh karena itu, mari sudahi aktivitas yang dilarang dalam Islam itu. Mari gunakan dan penuhi aktivitas kita sehari-hari dengan dzikir: “Stop Nyinyir, Let’s Dzikir!”

Daripada nyinyir, mending dzikir. Allah SWT memuji orang yang banyak dzikir dengan sebutan yang mulia:

إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ 

Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”(QS. Al-Imran: 190-191).

Dalam ayat lain, Allah berfirman bahwasannya diantara keutamaan dzikir adalah menjadikan hati tenang (QS. Ar-Ra’du: 28). Begitu pun dalam hadis. Dari Abu Hurairah ra, nabi bersabda: “Tidakkah kalian mau jika aku memberitahukan kepada kalian tentang amal perbuatan yang paling baik dan paling suci di sisi Tuhan kalian serta derajat kalian yang paling tinggi, juga lebih baik lagi bagi kalian dari pada menginfakkan emas dan perak, … Maka para sahabat berkata: Kami mau, wahai Rasulullah. Nabi menjawab: “Berdzikir kepada Allah SWT.” (HR. Tirmidzi: 5/549 no. 3377).

Baca Juga:  Hijrah Millenial (3) : Meneladani Semangat HOS Tjokroaminoto dalam Melawan Provokasi dan Perpecahan

Dengan demikian, nyinyir bukanlah termasuk seni mengkritik dalam Islam. Bahkan, aktivitas nyinyir dilarang dalam Islam dan ancamannya masuk neraka. Lebih baik dzikir kepada Allah daripada terus terusan nyinyir di media sosial.

Bagikan Artikel ini:

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Avatar of Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag
Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir

Check Also

perusakan masjid ahmadiyah

Perusakan Masjid Ahmadiyah Tak Sesuai dengan Syariat Islam!

Miris memang menyimak berita terkini terkait sejumlah massa yang merusak masjid milik jamaah Ahmadiyah di …

persatuan

Tafsir Kebangsaan [2]: Inilah Cara Islam Membangun Persatuan dalam Keberagaman

Realitas historis dan sosiologis menunjukkan bahwa umat Islam terdiri dari berbagai macam golongan (firqah), madzhab, …