prinsip kritik dalam islam
prinsip kritik dalam islam

Inilah Seni Mengkritik dalam Islam [2]: Kiat Rasulullah dalam Memberikan Kritik

Kritik atau koreksi merupakan sejenis nasihat. Terkait hal ini, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Allah ridha terhadap kalian dalam tiga hal, (diantaranya) saling memberi nasihat dengan orang yang Allah beri jabatan untuk mengurus urusan kalian.” Hadis ini menjelaskan betapa kritik atau koreksi terhadap pemimpin atau suatu pemerintahan yang sedang berkuasa adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dibungkam. Sebab, kritik atau nasihat sangat diperlukan sebagai bahan perbaikan.

Namun sayang seribu kali sayang. Dewasa ini tidak sedikit tindakan yang mengatasnamakan amar ma’ruf nahi munkar, justru menjadi sebab munculnya tindakan munkar, bahkan menjadi dosa yang lebih besar. Sama halnya dengan tindakan yang mengatasnmakan kritik, ternyata malah menimbulkan kegaduhan dan perpecahan di tengah masyarakat. Adanya buzzerRP adalah contohnya.

Rasulullah bukan saja seorang pemimpin agama (spiritualis), namun beliau juga seorang pedagang dan politikus ulung. Sehingga, Rasulullah pernah memberikan kritik. Lantas bagaimana kiat Rasulullah dalam memberikan sebuah kritikan?

Jawaban atas pertanyaan di atas sangat mendesak untuk dikemukakan. Terlebih disaat seperti saat ini di mana banyak umat yang gemar mengkritik tapi tidak diimbangi dengan pengetahuan yang benar sehingga kebanyakan mereka jatuh dalam kubangan ujaran kebencian dan sejenisnya.

Berikut beberapa kiat dari Rasulullah ketika melakukan sebuah kritik:

Pertama, mengkritik dengan nasihat. Diriwayatkan, Abu Mas’ud al-Badri mencambuki budaknya karena kesalahan yang diperbuatnya. Mengetahui perlakuan demikian, Rasulullah lantas berkata: “Ketahuilah wahai Abu Mas’ud. Ketahuilah wahai Abu Mas’ud.” Abu Mas’ud pun terkejut lalu meletakkan cambuknya.

Kemudian Rasulullah menegaskan: “Ketahuilah wahai Abu Mas’ud, Allah lebih brkuasa melakukan hal itu (mencambuk) terhadapmu daripada yang kamu lakukan terhadap budakmu.” Abu Mas’ud pun merasa khilfah dan tidak akan mengulangi perbuatannya lagi, bahkan ia akan membebaskan budak tersebut demi mengharap keridhaan Allah. Hal ini bisa dilacak dalam kitab Shahih Muslim hadis nomor 1659 dan kitab hadis karya Imam Tirmidzi.

Baca Juga:  Cara Belajar Islam dengan Madzhab Salaf

Kedua, tidak untuk menjatuhkan, tapi mengkritik untuk memberikan solusi. Mencela dan menyalahkan adalah fenomena yang lazim kita jumpai ketika orang sedang mengkritik sesuatu, entah itu pemerintah, pemimpin atau kelompok lain.

Terkait hal ini, Rasulullah pernah mengoreksi kesalahan Jubair bin Nufair dalam berwudlu. Awalnya Rasulullah memerintahkan Jubair untuk berwudlu. Dalam kondisi ini, Jubair tidak membersihkan tangannya terlebih dahulu. Artinya, ia langsung mengambil air dengan mulutnya. Menyaksikan hal itu, Rasulullah pun mengoreksinya: “Janganlah berwudlu seperti orang kafir!” (sebab orang kafir tidak biasa membasuh kedua tangan sebelum memasukkannya ke dalam ember).

Kemudian Rasulullah memberikan solusi konkret dengan ‘memperagakan wudlu yang benar. Beliau pun meminta diambilkan seember air untuk mempraktekkan bagaimana cara berwudlu yang benar kepada Jubair. Riwayat ini dihimpun oleh Imam Baihaqi dalam Sunan-nya (1/46).

Ketiga, menjaga marwah. Pada hakikatnya, mengkritik itu bukan untuk menjatuhkan lawan atau orang yang dikritik, melainkan justru kita berkewajiban untuk menjaga marwah atau kehormatannya. Oleh sebab itu, Rasulullah menegaskan bahwa dalam melakukan sebuah kritik, janganlah sampai dengan tujuan untuk menyudutkan seseorang atau membuat malu seseorang.

Diriwayatkan oleh Imam Nasa’i, bahwa Rasulullah pernah menunaikan shalat subuh dengan membaca surat ar-Rum. Namun, tiba-tiba beliau lupa akan bacaannya. Selesai shalat, beliau bersabda: “ Mengapa masih ada diantara kalian shalat dengan kami tapi tidak bersuci dengan baik? Merekalah yang membuatku lupa (bacaan) Alquran yang sedang kubaca.”

Dalam kondisi di atas, Rasululullah sengaja tidak menyebutkan secara spesifik orang atau sahabat yang tidak bersuci terlebih dahulu ketika hendak mengerjakan shalat. Hal ini dimaksudkan untuk membuat orang yang bersangkutan malu.

Demikianlah kebijaksanaan Rasulullah dalam mengoreksi atau mengkritik seseorang. Beliau mengetahui betul kapan sebuah kritik itu harus dilakukan dengan terang benderang dan kapan harus mengkritik tanpa harus meruntuhkan marwah orang.

Baca Juga:  Haruskah Afirmasi Hak Beragama Ahmadiyah [3]: Ajaran atau Doktrin

Keempat, mengisolir orang yang bersalah/dzalim. Diantara metode Rasulullah dalam mengoreksi atau memberikan masukan kepada orang yang bersalah atau dzalim yang sudah keterlaluan (kesalahannya besar dan fatal) adalah dengan mengisolir pelakunya. Hal ini terjadi, salah satunya, pada diri Ka’ab bin Malik dengan dua orang sahabatnya. Mereka telah melakukan kesalahan yang cukup besar, yakni tidak mengikuti perang Tabuk tanpa alasan yang jelas.

Terhadap mereka, Rasulullah mendiamkan, bahkan beliau melarang kaum muslimin untuk berbicara dengan mereka bertiga. Cara seperti ini ditempuh oleh Rasulullah untuk memberikan efek kejutan secara psikologis agar orang yang bersalah itu sadar diri dan mau berubah.

Kelima, mengajak dialog. Kalau sekedar melontarkan perkataan, apalagi di media sosial, tentu saja banyak orang yang bisa. Namun, cara seperti itu lebih banyak madlaratnya karena bisa jadi cara seperti itu akan menuntun pada pelakunya untuk berbuat nyinir belaka.

Rasulullah ketika hendak mengkritik dan mengoreksi seseorang, maka seseorang atau kelompok tersebut diajak dialog. Hal ini dilakukan supaya kedua belah pihak yang bersangkutan menemukan sebuah solusi yang efektif. Bahkan dialog ini juga sebagai cara untuk menghilangkan kebodohan atau kesesatan yang menutupi hatinya karena rasa benci dan sejenisnya.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Avatar
Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir