Tauhid
Tauhid

Kritik Trilogi Tauhid Wahabi (2) : Membongkar Kebohongan Tauhid Rububiyah Wahabi

Sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya bahwa Tauhid Rububiyah merupakan pengakuan terhadap Allah swt sebagai maha pencipta segala hal, termasuk dalam menciptakan mudharat dan manfaat bagi makhluk. Menurut Salafi Wahabi, Tauhid Rububiyah ini diakui oleh seluruh umat beragama. Sebab itu, yang membedakan antara agama Islam dengan agama yang lain terletak pada Tauhid Uluhiyahnya.

Namun apakah benar orang musyrik bertauhid Rububiyah, meyakini satu-satunya dzat yang menciptakan dan memberikan manfaat dan mudharat adalah hanya Allah swt ?

Mari kita lihat nash-nash di bawah ini;

Pertama, ayat 74 surat Yasiin:

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللهِ آلِهَةً لَعَلَّهُمْ يُنْصَرُونَ

Artinya: “Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan” (QS. Yasiin: 74)

Dalam ayat ini Allah swt menceritakan bahwa orang-orang musyrik menganggap selain Allah swt dapat memberikan pertolongan. Ibn Katsir berkata: “Allah swt berfirman dengan menolak terhadap orang-orang musyrik yang menjadikan selain Allah swt sebagai sesembahan bersama Allah swt. Mereka berharap agar sesembahan itu dapat menolong mereka, memberi rizki dan mendekatkan mereka kepada Allah swt”[1].

Di ayat lain, Allah juga berfirman:

يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُ وَمَا لَا يَنْفَعُهُ ذَلِكَ هُوَ الضَّلَالُ الْبَعِيدُ

Artinya: “Ia menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat dan tidak (pula) memberi manfaat kepadanya. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh” (QS. Al Hajj: 12)

Tentang ayat tersebut, Ibn Katsir menjelaskan: “Yang dimaksud adalah Berhala-berhala dan sekutu-sekutu selain Allah swt, dimana mereka meminta pertolongan, bantuan, dan rizki kepada berhala dan sekutu-sekutu itu, padahal itu semua tidak akan dapat memberikan manfaat dan mudharat”[2]

Dua ayat ini menjadi saksi bagaimana Salafi Wahabi berdusta melalui Tauhid Rububiyah bahwa orang Islam dengan orang kafir tidak berbeda dalam keyakinan ini. Namun faktanya, ayat ini mengabarkan bahwa orang musyrik justru menganggap sesembahan mereka, selain Allah swt yang dapat memberikan manfaat dan mudharat.

Baca Juga:  Melihat Sejarah dan Konsep Darul Islam dan Darul Kufur

Dalam sebuah riwayat Anas bin Malik ra tentang Islamnya budak Zinniyah:

الإصابة في تمييز الصحابة (7/ 664)

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَتْ لِيْ أُمُّ هَانِئٍ بِنْتُ أَبِيْ طَالِبٍ أَعْتَقَ أَبُوْ بَكْرٍ زِنِّيْرَةَ فَأُصِيْبَ بَصَرُهَا حِيْنَ أَعْتَقَهَا فَقَالَتْ قُرَيْشٌ مَا أَذْهَبَ بَصَرَهَا إِلَّا اللَّاتُ وَالْعُزَى فَقَالَتْ كَذِبُوْا وَبَيْتِ اللهِ مَا يُغْنِي اللَّاتُ وَالْعُزَى وَلَا يَنْفَعَانِ. فَرَدَّ اللهُ إِلَيْهَا بَصَرَهَا

Artinya: “Dari Anas bin Malik berkata, Ummu Hani’ binti Abi Thalib ra berkata: “Abu Bakar ra memerdekakan Zinddirah, lalu matanya menjadi buta ketika dimerdekakan. Orang-orang Quraisy berkata, “Tidak akan memberikan kebutaan kecuali Lata dan Uza”, Zinnirah menjawab: “Mereka berdusta, demi Baitullah, Lata dan Uza tidak bisa memberikan kekayaan dan tidak juga memberikan manfaat”, Lalu Allah swt mengembalikan penglihatannya”[3]

Riwayat ini menunjukkan bahwa orang-orang musyrik kafir Quraisy beri’tiqad bahwa Lata dan Uza dapat membuat seseorang buta. Mereka tidak meyakini semata-mata Allah swt yang mampu memberikan penyakit dan kesembuhannya. Lalu bagaimana mungkin seseorang yang meyakini selain Allah swt dapat memberikan manfaat dan mudharat dikatakan bertauhid ?

Lalu bagaimana sebenarnya keyakinan orang kafir kepada Allah swt ?

Di dalam al Qur’an, Allah swt berfirman:

أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بَلْ لَا يُوقِنُونَ

Artinya: “Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)” (QS. Ath Thuur: 36)

Berkaitan dengan ayat tersebut, Abu Su’ud al Imadi menjelaskan: Ketika mereka (kafir Qurasy) ditanya tentang siapa yang menciptakan dirinya, langit dan bumi, mereka menjawab “Allah”. Hanya saja mereka tidak meyakini terhadap jawaban mereka sendiri. Seandainya mereka benar-benar meyakininya, lalu mengapa mereka berpaling dari Allah swt ?[4].

Keterangan yang sama juga disampaikan Ibn al Jauzi dalam kitabnya Tafsir Zadi al Masir: “Sebenarnya orang-orang musyrik tidak meyakini kebenaran Allah, yaitu keesaan Allah dan kekuasaan_Nya, membangkitkan manusia dari alam kubur”[5]

Baca Juga:  Sejarah Berulang Akibat Wabah di Tengah Musim Haji

Apakah meragukan Allah swt sebagai pencipta manusia, langit dan bumi, serta tidak mempercayai Allah swt mampu membangkitkan orang mati dari alam kubur masih dianggap bertauhid Rububiyah ? inilah yang seharusnya dipikir kembali oleh Salafi Wahabi.

Kesimpulannya, dari keterangan di atas Salafi Wahabi telah berdusta dalam dua hal:

1. Berdusta bahwa orang kafir juga mengakui Allah swt sebagai Tuhan pencipta alam beserta isinya, dan yang mampu memberikan manfaat dan mudharat

2. Berdusta bahwa orang muslim dan orang kafir sama-sama bertauhid Rububiyah, yang berbeda hanyalah dalam aspek Tauhid Uluhiyahnya saja.

Wallahu a’lam


[1] Ibn Katsir, Tafsir Ibn Katsir, Juz 6, Hal 593

[2] Ibn Katsir, Tafsir Ibn Katsir, Juz 5, Hal 401

[3] Ibn Hajar al Atsqalani, al Ishabah fi Tamyiz al Shahabah, Juz 7, Hal 664

[4] Abu Su’ud al Imadi, Tafsir Abi al Su’ud, Juz 6, Hal 218

[5] Ibn al Jauzi, Tafsir Zaid al Maisir, Juz 5, Hal 434

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About M. Jamil Chansas

M. Jamil Chansas
Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember