Tauhid
Tauhid

Kritik Trilogi Tauhid Wahabi (3) : Tujuan Tauhid Rububiyah

Pada dasarnya, umat beragama baik muslim atau kafir sepakat bahwa jika dzat sudah diyakini sebagai penguasa alam semesta, mampu memberikan manfaat dan mudharat, mengatur perjalanan hidup manusia, maka secara otomatis ia akan berkeyakinan dzat itu yang pantas disembah. Artinya tidak ada perbedaan antara Tauhid Rububiyah dengan Tauhid Uluhiyah. Sebab itu, Allah swt dalam masalah ketuhanan, hanya mencukupkan salah satu dari kedua istilah tersebut dalam firmannya. Misal dalam ayat 25 surat al Anbiya’, Allah swt berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Artinya: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku (Allah)”. (QS. Al Anbiya’: 25)

Tanpa “La rabba illa ana (tidak ada Tuhan Rabb, kecuali aku)”. Karena sudah diyakini, dzat yang disembah adalah dzat yang mengatur kehidupan alam semesta.

Begitu juga dalam hadits Mutawatir, Nabi Muhammad saw bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ

Artinya: “Aku diperintahkan memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Nabi Muhammad utusan Allah” (HR. Bukhari dan lainnya)

Sesuai hadits tersebut, seseorang dinilai beriman dan selamat dari peperangan melawan Rasulullah saw jika sudah bersaksi tidak ada Tuhan (ilah) selain Allah. Nabi Muhammad saw tidak melanjutkan dengan “tidak ada rabb kecuali Allah”. Ini menunjukkan bahwa Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah merupakan satu kesatuan yang tidak terpisah.

Jika demikian faktanya, lalu mengapa Salafi Wahabi masih memetakan antara Tauhid Rububiyah dengan Tauhid Uluhiyah ?

Jawabannya sederhana, mereka ingin mengkafirkan para sahabat Nabi saw, ulama’ salaf, tabi’in dan umat Islam selain Salafi Wahabi, hanya karena mereka senang bertawassul, bertabarruk, beristighasah, ziarah kubur dan melakukan takwil terhadap ayat mutasyabihat. Bukti ini dapat dilihat dalam kitab-kitab Salafi Wahabi sendiri, misal kitab Majmu’ Fatawa karangan Ibn Taimiyah, tokoh utama dalam Salafi Wahabi, ia berkata:

Baca Juga:  Amalan Pendatang Kebinasaan (Bagian 1)

وَأَمَّا زِيَارَةُ قُبُورِ الْأَنْبِيَاءِ وَالصَّالِحِينَ لِأَجْلِ طَلَبِ الْحَاجَاتِ مِنْهُمْ أَوْ دُعَائِهِمْ وَالْإِقْسَامِ بِهِمْ عَلَى اللَّهِ أَوْ ظَنِّ أَنَّ الدُّعَاءَ أَوْ الصَّلَاةَ عِنْدَ قُبُورِهِمْ أَفْضَلُ مِنْهُ فِي الْمَسَاجِدِ وَالْبُيُوتِ فَهَذَا ضَلَالٌ وَشِرْكٌ وَبِدْعَةٌ بِاتِّفَاقِ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ مِنْ الصَّحَابَةِ يَفْعَلُ ذَلِكَ

Artinya: “Berziarah ke makam para Nabi dan orang-orang shalih karena meminta terkabulnya kebutuhan dari mereka, atau meminta kepada mereka dan bersumpah dengan mereka atas nama Allah , atau menyangka bahwa berdo’a atau shalat di kubur-kubur lebih utama dari pada shalat dimasjid-masjid dan rumah-rumah. Maka ini merupakan kesesatan, syirik, dan bid’ah berdasarkan kesepakatan umat Islam, dan tidak ada seorang pun dari sahabat yang melakukan hal itu”[1]

Muhammad Ahmad Basyamil al Wahabi juga menuturkan dalam kitabnya Kaifa Nafhamu Tauhid:

كيف نفهم التوحيد (ص: 11)

عَجِيْبٌ وَغَرِيْبٌ أَنْ يَكُوْنَ أَبُوْ جَهْلٍ وَأَبُوْ لَهَبٍ أَكْثَرَ تَوْحِيْدًا للهِ وَأَخْلَصَ إِيْمَانًا بِهِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ الَّذِيْنَ يَتَوَسَّلُوْنَ بِالْأَوْلِيَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَيَسْتَشْفِعُوْنَ بِهِمْ إِلَى اللهِ

Artinya: “Aneh dan heran, ternyata Abu Jahal dan Abu Lahab lebih banyak bertauhid kepada Allah, dan lebih murni dibanding orang-orang Islam yang bertawassul kepada para Nabi, orang-orang shaleh dan meminta syafaat dengan perantara mereka”[2]

Dua pernyataan tokoh Salafi Wahabi menvonis kafir bagi orang-orang yang meminta pertolongan kepada para anbiya’ dan shalihin, karena dianggap telah ingkar terhadap Tauhid Rububiyah.

Muhammad bin Jamil Zainu al Wahabi mengatakan:”Diantara perkara-perkara yang dapat membatalkan keislaman seseorang yaitu meminta kepada selain Allah, seperti meminta kepada para Anbiya’, awliya’, orang-orang yang sudah meninggal atau meminta kepada orang yang masih hidup”[3]

Wahabi extrim ini telah menvonis seluruh umat Islam sejak masa sahabat hingga sekarang karena bertawassul kepada para anbiya’, awliya’ dan orang-orang shalih.

Baca Juga:  Memahami Ayat-ayat Toleransi dan Perang [2]: Alquran Kitab Toleransi

Jadi inilah sebenarnya tujuan konsep Tauhid Rububiyah, tidak lain hanya semata-mata ingin mengkafirkan orang-orang yang tidak sepaham dengan Salafi Wahabi. Mereka menganggap, bertawassul, beristighasah, dan bertabarruk  berarti telah menyekutukan Allah swt, menganggap selain Allah swt dapat memberikan manfaat dan mudharat. Sehingga mereka menganggap orang-orang yang melakukan perbuatan tersebut telah ingkar terhadap Tauhid Rububiyah.

Wallahu a’lam


[1] Ibn Taimiyah, Majmu’ al Fatawa, Juz 17, Hal 471

[2] Muhammad bin Ahmad Basyamil, Kayfa Nafhamu al Tauhid, Hal 11

[3] Muhammad bin Jamil Zainu, Tawjihat Islamiyah Li Ishlah al Fardwa al Mujtama’, hal 22

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About M. Jamil Chansas

M. Jamil Chansas
Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember