tauhid scaled
tauhid scaled

Kritik Trilogi Tauhid Wahabi (4) : Tujuan Utama di Balik Tauhid Asma’ Wa Shifat

Sebenarnya Salafi Wahabi terjebak kepada istilah konsep dirinya tentang Tauhid. Memang benar, bahwa Allah swt memiliki sifat-sifat yang harus diimani karena hal tersebut sudah termaktub dalam firman-firman_Nya yaitu al Qur’an. Di samping itu hadits juga mengabarkan tentang sifat-sifat Allah swt.

Tidak ada seorang pun yang mengingkari keberadaan sifat-sifat ini. Hanya saja Salafi Wahabi keliru menempatkan beriman kepada Asma’ Wassifat bagian dari Tauhid. Sebab makna Tauhid sendiri adalah meng-esa-kan Allah swt. Muhammad bin Jamil Zainu, salah satu tokoh Salafi Wahabi ekstrim berkata:

اَلتَّوْحِيْدُ هُوَ إِفْرَادُ اللهِ بِالْعِبَادَةِ اَلَّتِيْ خَلَقَ اللهُ الْعَالَمَ لِأَجْلِهَا

Artinya: “Tauhid adalah mengesakan Allah swt dalam beribadah di mana Allah swt menciptkan alam karena ibada itu”[1]

Sementara Asma’ Wassifat Allah swt tidak ada keterkaitan dengan pengesaan Allah swt, begitu juga kaitannya dengan masalah penghambaan. Asma’ Wassifat Allah swt bertujuan manusia dapat mengenali terhadap yang disembahnya. Sebab untuk mengenali suatu hal tentu perlu pengetahui sifat-sifatnya itu. Jadi saya tegaskan lagi “Tidak ada keterkaitan antara Tauhid dengan asma’ dan SIFAT-sifat Allah swt”.

Lalu mengapa Salafi Wahabi tetap memaksa Asma’ Wassifat bagian dari inti Tauhid ?

Tentu ada tujuan terselubung dibalik dibentuknya konsep Tauhid Asma’ Wassifat ini, tiada lain gunanya untuk menipu dan menyesatkan umat Islam yang benar-benar bertauhid kepada Allah swt.

Mari kita lihat bagaimana fatwa Ibn Taimiyah dalam tentang nash asma’ wassifat: “Hingga saat ini, saya tidak menjumpai seorang pun dari sahabat Nabi yang mentakwil terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits sifat yang menyalahi dari pemahaman dari yang dikehendaki ayat dan hadits tersebut yang sudah terkenal, tetapi mereka menegaskan sifat-sifat Allah, menetapkannya serta menjelaskan bahwa hal tersebut adalah sifat-sifat Allah yang menyalahi terhadap perkataan-perkataan para pentakwil[2]

Arah pembicaraan Ibn Taimiyah, yang secara berdusta memberikan pernyataan bahwa para sahabat Nabi saw tidak ada yang melakukan takwil terhadap ayat atau hadits sifat, jelas-jelas ingin menggiring umat Islam kepada konsep yang ia miliki. Yaitu menolak metode takwil yang biasa dilakukan oleh ulama khalaf.

Baca Juga:  Wahabi bukan Pengikut Ulama Salaf, Ini Buktinya ?

Muhammad bin Jamil Zainu ketika menjelaskan Tauhid Asma’ Wassifat ia berkata: “Tauhid Asma’ Wassifat adalah beriman kepada seluruh sifat-sifat Allah swt yang datang dari al Qur’an atau hadis shahih tanpa ada takwil, takyif dan tafwid, seperti berdiam, turun, tangan, dan sifat-sifat lainnya”

Titik tekan dari pernyataan Muhammad bin Jamil Zainu ini sebenarnya sama dengan yang diinginkan Ibn Taimiyah, yaitu larangan melakukan takwil, takyif dan tafwid. Sebab itu Muhammad bin Jamil Zainu pada pernyataan berikutnya, lebih tajam menyoroti kepada pemaknaan sifat-sifat Allah swt dengan metode yang dibuat mereka sendiri, yaitu takwil bittasybih atau tafwid bil kaifiyah.[3]

Kedua pernyataan tokoh Salafi Wahabi ini sama sekali bukan masalah meyakini sifat-sifat Allah swt yang dikhabarkan oleh al Qur’an atau al Hadits, melainkan kepada metode memahami ayat atau hadits sifat tersebut. Ini terbukti, dari komentar-komentar mereka yang lain, misal Ibn Taimiyah dalam kitab al Risalah al Tadmiriyah: “Sudah maklum bahwa metode yang dilakukan ulama’ Salaf yaitu menetapkan sifat-sifat sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh Allah swt atau utusan_Nya tanpa takyif (bagaimana), tamtsil (menyamakan), tanpa tahrif (merubah makna) dan tanpa ta’thil (menolak maknanya)”[4]

Dalam Fatawa al Kubra, Ibn Taimiyah menilai bahwa orang-orang yang mentakwil ayat dan hadits sifat adalah kelompok yang sesat, sementara orang-orang yang meyakini sifat-sifat Allah swt sesuai dengan makna dzahirnya yang datang dari Allah swt dan Rasul_Nya adalah jalannya orang mukmin.[5]

Dua pernyataan Ibn Taimiyah yang diikuti oleh Salafi Wahabi setelahnya sudah cukup sebagai bukti bahwa Tauhid Asma’ Wassifat bukan masalah mengimani sifat-sifat Allah swt. Tetapi merupakan penggiringan terhadap metode pemahaman terhadap ayat atau hadits sifat agar memiliki kesimpulan yang sama dengan pola pikir Ibn Taimiyah.

Baca Juga:  Pemahaman Tentang Tangan Allah Swt (3) : Lemahnya Aqidah Salafi Wahabi Tentang Yad Allah

Sehingga dengan ini, dapat kita pahami tentang penolakan Salafi Wahabi terhadap metode takwil yang biasa digunakan mayoritas ulama khalaf dan tafwid bil makna yang digunakan mayoritas ulama’ Salaf adalah mensifati Allah swt sesuai sifat-sifat yang dipahami oleh mereka, tanpa mau berpikir akan konsekwensi adanya tasybih (penyerupaan dengan makhluk) atau tajsim (menganggap Allah memiliki anggota tubuh). Dan ini lah tujuan utama Tauhid Asma’ Wassifat yang sesungguhnya.

Wallahu a’lam


[1] Muhammad bin Jamil Zainu, Manhaj al Firqah al Najiyah, Hal 13

[2] Ibn Taimiyah, Majmu’ al Fatawa, Juz 6, Hal 394

[3] Muhammad bin Jamil Zainu, Manhaj al Firqah al Najiyah, Hal 13

[4] Ibn Taimiyah, Risalah al Tadmiriyah, Hal 2

[5] Ibn Taimiyah, Fatawa al Kubra, Juz 6, Hal 468

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

wanita ghamidi

Belajar Menghargai Orang Lain dari Kisah Wanita Ghamidi yang Berzina

Satu hari, ada seorang wanita hamil dari suku Ghamidiyah mendatangi Rasulullah saw. ia meminta dirajam …

syirik

Syirik menurut Aswaja dan Wahabi (3) : Gara-Gara Salah Konsep, Wahabi Kafirkan Seluruh Umat Islam

Pada Artikel sebelumnya telah disampaikan bahwa konsep syirik ala Wahabi lebih menekankan pada pengingkaran Tauhid …