akal budi
akal budi

Islam adalah Agama Bagi Orang Orang Berakal Budi

Kaum minoritas (fi’ah qalilah) dalam kelompok agama, yang khawatir terhadap kaum mayoritas (fi’ah katsirah), atau kaum mayoritas yang membanggakan posisi statistic kepada kaum minoritas, jelas sama buruknya karena keduanya tengah melakukan politisasi keluruhan agama dan beragama. Agar tidak begitu, keduanya harus bertemu dalam satu meja makan jamuan yang bernama”toleransi”

Toleransi oleh segelintir pihak dinilai konsep basi yang tak sanggup mengatasi. Mulanya, toleransi  bukanlah problematika agama. Ia tak lebih hanya sekedar gejolak yang menggejala dari persoalan pemikiran beragama, yang mengemuka sebagai konsekuensi logis dari perubahan perubahan sosio-akademik.

Di dalam perubahan ini, bergeliat ketegangan sosial dan akademis. Keduanya lalu, memvisualkan anomi liar, pada tingkat individu maupun kelompok, karena anutan lama merasa tergusur dan pijakan baru tak mampu memberikan kejelasan sosok dan arahnya cenderung tampil mengganti.

Munculnya wacana nyentrik toleransi yang dianggap eksentrik oleh beberapa golongan, adalah klimaks dari ketegangan sosial dan akademis. Narasi al-muhafadhah bi al-qadim al-shalih wa al-akhdu bi al-jadid ashlah (mempertahankan nilai nilai lama yang masih layak dan menerapkan nilai nilai baru yang lebih layak lagi) ternyata, makin memperkeruh suasana.

Lantas mengapa semua ini harus terjadi?! Biangnya, adalah salah paham atau paham yang keliru dalam memahami agama Islam. Ibarat kalimat, Islam bukanlah hal yang sulit untuk dieja, bila tahu dan mengenal aksara aksaranya. Bagi yang tidak mengetahui dan mengenal aksaranya, Islam akan menjadi susunan huruf tak beraturan yang sulit dibaca. Dan endingnya, gagal paham.

Ribuan tahun nan silam, Rasulullah memproklamasikan Islam sebagai agama nasehat.  (al-Din al-Nasihah) HR. Muslim 107.  Nasehat untuk siapa? Ya jelas untuk jalan kebenaran dan kesentosaan umat (Allah dan RasulNya, tokoh dan masyarakatnya). Saling menasehati dalam hal kebenaran adalah amanah al-Qur’an al-‘Ashr ,03. Kebenaran yang dikehendaki oleh al-Qur’an ini adalah kebenaran dengan segala dimensinya; kebenaran ilmiah, non ilmiah dan kebenaran filsafat.

Baca Juga:  Pembelaan Tauhid di Indonesia sudah Selesai

Berbicara tentang tiga kebenaran ini, tolok ukurnya adalah akal budi, pemikiran yang toleran, dan hati yang berempati. Jikalau narasi ini diterima tanpa konflik, maka sejatinya, Islam itu adalah agama bagi orang orang yang berakal budi, agama bagi orang yang berpikir toleran dan berempati. Dengan akal budi yang berpikiran toleran serta hati yang penuh empati, Islam mampu dikenal sebagai  agama rahmatan lil alamin (QS: 21:107) dan agama yang kaffah (QS: 34:28)

Kisah Mu’adz Ibn Jabal menggambarkan betapa akal budi mampu menerjemahkan kebenaran al-Qur’an dan al-Sunnah. Saat Mu’adz Ibn Jabal diamanahi menjadi  duta Rasulullah untuk Negara Yaman. Sebelum beranjak, Rasulullah meng-interview MU’adz Ibn Jabal.

“Bagaimana sikapmu, Jika engkau dihadapkan pada persoalan hukum dan sosial”, tanya Rasul.

“Aku akan menyelesaikannya dengan berlandaskan al-Qur’an”, jawab Mu’adz.

“Bagaimana seandainya di dalam al-Qur’an tidak engkau temukan jawabannya” kembali Rasul mengujinya.

“Aku akan menyelesaikannya dengan berlandaskan al-hadits”, jawab lugas Muadz. Rasulullah mengejar dengan pertanyaan pamungkas “Lalu, jika ternyata dalam al-Hadits pun tidak engkau temukan jua”.

“Aku akan menggunakan akal budiku untuk menyelesaikannya” jawab Muadz dengan yakin.

Sembari tersenyum penuh bangga, Rasul menepuk dada Mu’adz Ibn Jabal. Seraya berujar lirih dalam sebait syukur “segala puji bagi Allah yang telah memberikan petunjuk kepada duta Rasulullah untuk melakukan hal yang diridhai oleh Allah”.  HR: al-Baihaq, 4169  dan al-Thabrani,  362

Menarik! ternyata, menggunakan nalar dalam beragama adalah hal yang benar. Sekaligus semakin mengukuhkan bahwa Islam adalah agama berakal. Bukan agama untuk mengumbar nafsu belaka. Akal budi ditempatkan terakhir ketika sandaran al-Quran dan Hadist tidak ditemukan. Begitu pula akal budi digunakan untuk membedah dan meraih kebenaran al-Quran.

Baca Juga:  Dari Dulu, Saling Bunuh dan Tuduhan Kafir Sesama Muslim Itu karena Politik

Sungguh Islam adalah agama yang menghormati akal budi dan menempatkannya sebagai bagian dari cara meraih kebenaran. Islam bukan agama purba yang menuntut umatnya secara doktriner tanpa pengayaan akal budi untuk mencari kebenaran. Beragama dengan sehat dan baik adalah dengan cara mendayagunakan akal budi untuk mencari kebenaran. Jangan bodoh dalam beragama.

Bagikan Artikel ini:

About Abdul Walid

Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo

Check Also

doa iftitah

Menyanggah Ustadz Adi Hidayat yang Berulah tentang Doa Iftitah

“iini wajjahtu itu, kalau Anda teliti kitab haditsnya, itu bukan doa iftitah, tapi doa setelah …

akhlak

Ciri Gagal Beragama : Mementingkan Iman dan Syariat, Mengabaikan Akhlak

Di negeri yang seratus persen menjalankan agama secara kontinu, namun ironis, Tindakan korupsi makin menjadi …