Tauhid
Tauhid

Kritik Trilogi Tauhid Wahabi (1) : Mengenal Tauhid Ala Salafi Wahabi

Salafi Wahabi dikenal membagi Tauhid menjadi tiga kategori. Ketiganya itu yaitu:

1.    Tauhid Rububiyah

2.    Tauhid Uluhiyah

3.    Tauhid Asma’ was Sifat

Tauhid Rububiyah adalah berkeyakinan bahwa Allah swt sebagai Tuhan yang menciptakan, mengatur seluruh alam jagat raya ini, yang memberikan rizki kepada hamba-hambanya, mewujudkan, menghancurkan segala sesuatu dan yang memberi manfaat serta mudharat. Dalam fase ini, seluruh ummat manusia, baik muslim atau kafir dianggap sudah bertauhid karena meyakini bahwa Allah swt yang menciptakan alam semesta serta mengaturnya.

Dalil yang dijadikan bukti tentang Tauhid Rububiyah ini yaitu firman Allah swt:

قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ

Artinya: “Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata” (QS. Al Isra’: 102)

Kemudian yang dimaksud Tauhid Uluhiyah adalah mengesakan Allah swt sebagai satu-satunya dzat yang disembah tanpa ada sekutu satu pun. Di sinilah kemudian Wahabi membedakan antara keimanan orang Islam dengan musyrik. Orang musyrik tidak dianggap bertauhid uluhiyah karena belum menjadikan Allah swt sebagai satu-satunya yang disembah. Terbukti mereka masih menyembah kepada selain Allah swt seperti api, matahari, berhala dan lainnya.

Adapun bukti tentang harus mengimani terhadap Tauhid Uluhiyah adalah firman Allah swt dalam al Qur’an al karim:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Artinya: “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”

Sedangkan yang dimaksud dengan Tauhid Asma’ wassifat adalah harus berkeyakinan bahwa Allah swt memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang telah dijelaskan di dalam al Qur’an atau al Sunnah tanpa ada kebolehan memberikan makna dengan selain makna hakikat dari yang termaktub dalam al Qur’an dan al Hadits. Seperti istiwa harus diartikan “berdiam” atau “duduk”, nuzul harus diartikan “turun”, dan seterusnya.

Baca Juga:  Mengangkat Khalifah melalui Mekanisme Demokrasi

Adapun dalil bahwa Allah swt memiliki nama-nama dan sifat-sifat adalah al Qur’an dan al Hadits. Di antara dalil al Qur’an yang menunjukkan Allah swt memiliki sifat yaitu:

إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

Artinya: “Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Al Mujadalah: 1)

Di dalam hadits juga disebutkan:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ

Artinya: Rasulullah saw bersabda: Tuhan kita tabaraka wa ta’ala turun kepada langit dunia setiap malam manakala masih tersisa sepertiga malam terakhir” (HR. Bukhari dan lainnya)

dan dalil-dalil lainnya yang menyebutkan tentang sifat-sifat Allah swt.

Kemudian oleh Salafi Wahabi, dalil di atas dijadikan bukti bahwa turunnya Allah dari langit ke dunia merupakan sifat yang harus diyakini oleh orang mukmin tanpa boleh ditakwil.[1]

Sepintas melihat pembagian Tauhid menjadi tiga ala Salafi Wahabi ini tidak ada masalah. Karena faktanya Allah swt selain sebagai pencipta alam jagat raya ini juga sebagai dzat yang disembah. Di samping itu juga memiliki sifat-sifat yang telah dikabarkan dalam al Qur’an dan al Hadits. Namun sebenarnya pembagian Tauhid menjadi tiga sebagaimana disebutkan di atas, adalah akar permasalahan antara Salafi Wahabi dengan mayoritas ummat Islam. Dan Tri Tauhid ala Salafi Wahabi ini juga yang menjadi cikal bakal penyesatan dan pengkafiran terhadap ummat Islam yang tidak se aliran dengan Salafi Wahabi.

Berangkat dari pembagian Tauhid ini, Muhammad bin Ibrahim al Hamdi berkata: “Tidak seorang pun yang mengingkari Tauhid Rububiyah kecuali orang-orang yang syadz, sombong, durhaka dan orang-orang yang mengingkari terhadap apa yang telah ditetapkan oleh Allah”[2]

Penyesatan terhadap orang-orang yang mengingkari Tauhid Rububiyah sesuai pandangan Salafi Wahabi bukti bahwa pembagian Tauhid ala Salafi Wahabi akar masalah dari sekian banyak masalah antara Salafi Wahabi dengan ummat Islam lainnya. Inilah kenapa menjadi penting mengenal serta mengetahui Tauhid Salafi Wahabi.

Baca Juga:  Sejarah Berulang Akibat Wabah di Tengah Musim Haji

Wallahu a’lam


[1] Muhammad bin Jamil Zainu, Minhaj al Firqah al Najiyah, Hal 10

[2] Muhammad bin Ibrahim al Hamdi, Anwa’ al Tauhid al Tsalatsah, Hal 1

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About M. Jamil Chansas

M. Jamil Chansas
Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember