Mbah Maksum
Mbah Maksum

Jejak Ulama Nusantara (3) : Mbah Maksum dan Rahasia Amalan Shalawat Nariyah

Pada tulisan jejak ulama nusantara 1 dan 2, sudah banyak penulis ceritakan tentang perjuangan Mbah Maksum dan menuntut ilmu dan berusaha untuk mengajarkan ilmu yang sudah di dapat. Pesantren Al-Hidayat merupakan saksi kunci perjuangan Mbah Maksum.

Dengan Pondok Pesantren Al-Hidayat pula inilah, sosok Mbah Maksum mampu menjadi magnet tersendiri yang mampu menyedot animo masyarakat untuk berbondong-bondong ingin belajar memperdalam agama Islam. Namun tidak jarang, beberapa diantara mereka yang sengaja datang langsung (red:sowan) untuk meminta ijazah (amalan).

Akan tetapi, jangan berharap banyak, apalagi menggantungkan banyak gambaran akan memperoleh banyak ijazah atau amalan dari Mbah Maksum. Karena pada umumnya, amalan yang akan disampaikan oleh Mbah Maksum juga sama seperti ulama lainnya. Seperti untuk selalu istiqomah mengerjakan sholat lima waktu, memperbanyak sholat malam dan sholat dhuha, rajin bersedekah, ramah terhadap tetangga, rutin membaca sholawat, dzikir setelah selesai sholat, dan lain sebagainya.

Hanya saja, ada satu hal yang berbeda dari Mbah Maksum. Yakni amalan sholawat nariyyah. Secara keseluruhan, amalan Sholawat Nariyyah yang Mbah Maksum amalkan sama seperti amalan Sholawat Nariyyah yang diamalkan oleh ulama lainnya.

Sebagai sedikit pembeda dan bisa dianggap sebagai sesuatu yang khusus, bacaan Sholawat Nariyyah yang sering diamalkan Mbah Maksum. Perbedaan ini terletak pada lafadz “…‘ala Muhammadin tanhallu bihi al-‘uqad…,” tanpa kata sambung “alladzi” sebagaimana versi umumnya.

Ditengarahi bahwa redaksi Shalawat Nariyyah ini diwarisi Kiai Maksum dari leluhurnya yang berasal dari tanah Minangkabau. Yakni Sultan Mahmud atau Sunan Mingkabau (dimakamkan di kawasan Bonang, sebelah timur Lasem). Mbah Maksum juga menyebut bahwa redaksi yang dipakai ini dinilai lebih cespleng (red:mujarab) disbanding dengan versi umumnya.

Baca Juga:  Islam dan Budaya Lokal: Meneladani Cara Rasul Mengarifi Tradisi

Gus Zaim pernah menceritakan sebuah kisah unik terkait dengan bacaan Shalawat Nariyyah ini. Cucu dari Mbah Maksum ini menceritakan bahwa suatu ketika Kiai Imron Hamzah (pernah menjabat sebagai Rois Syuriyah PWNU Jawa Timur) sowan kepada Mbah maksum. Karena begitu penasaran dengan Shalawat Nariyyah yang biasa dibaca oleh Mbah Maksum, begitu pula penasaran dengan perbedaan redaksi yang diapakai oleh Mbah Maksum dan pada umumnya.

“Kiai, kenapa kok salawat ini dibaca 4444? Kenapa harus sebanyak itu? Apa alasannya?”, tanya Mbah Imron kepada Mbah Maksum.

“Begini ya, Cung,” kata Kiai Maksum, menjawab dengan sabar pertanyaan Imron Hamzah muda. “Setiap angka itu ada sirr-nya, ada rahasianya.” Kiai Maksum berhenti sejenak. Tetapi Mbah Imron Hamzah muda ndak sabar, lalu menyergah dengan nada agak meninggi:

“Apa rahasianya, Kiai?”

Dengan santai, Kiai Maksum menjawab: “Ya saya ndak tahu. Kalau saya tahu, namanya bukan sirr, bukan rahasia lagi.” Sesaat, Mbah Imron langsung lemas mendengar jawaban dari Mbah Maksum yang sangat sederhana.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About M. Arif Rohman Hakim

Avatar
Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta