kritik dalam Islam
kritik dalam Islam

Takut Mengkritik? Lakukanlah Kritik dengan Beradab dan Islami

Dalam iklim demokrasi, kebebasan berpendapat adalah bagian nafas penting dalam menjaga roda pemerintah sesuai aspirasi rakyat. Kritik tidak boleh dianggap sebagai ancaman. Pemerintah atau penguasa harus bisa menerima kritik sebagai bagian dari vitamin yang menguatkan pemerintahan.

Namun, kritik juga harus bersifat konstruktif, bukan destruktif. Kritik harus dilandasi untuk memperbaiki bukan menghancurkan yang ada. Begitu pula kritik harus mengarah pada subtansi bukan pada personalitas diri penguasa untuk mencemarkan nama baik. Kritik diarahkan pada kebijakan, bukan pada pribadi perorangan.

Terkadang penguasa memang alergi terhadap kritik. Namun, terkadang pula kritik juga tidak dibangun berdasarkan kerangka yang subtansial dan konstruktif. Dalam Islam sebenarnya tradisi kritik dan menasehati sudah ada panduannya. Kritik bukan pada tujuan pemberontakan dan kritik harus dibangun dengan cara yang beradab.

Salah seorang dari Imam empat madzhab dalam Islam, Imam Ahmad menegaskan, ”Barangsiapa memberontak imam kaum muslimin padahal umat telah bersatu di bawahnya dan mengakui kekhalifahannya, baik dengan kerelaan maupun dengan kekuatan maka ia telah memecah-belah kesatuan umat Islam dan menyalahi hadits-hadits Rasulullah saw. Kalau ia mati, maka ia mati dengan kematian jahiliyah. Tidak halal bagi seorang pun memerangi dan menyerang sultan (penguasa). Barangsiapa melakukannya, maka ia adalah pelaku bid’ah, menyimpang dari sunnah dan jalannya.”

Tentu saja, Islam sangat menghormati kepemimpinan. Namun, bukan berarti Islam menghendaki otoritarianisme tanpa kritik. Namun, kritik bukan berarti pembangkangan karena akan menghasilkan mudharat yang lebih besar. Islam menempatkan penghormatan kepada pemimpin bukan pula sebagai penghormatan buta. Menasehati dan kritik adalah bagian penting.

Rasulullah telah memperingatkan umatnya dalam hadistnya, Rasulullah bersabda, “Barang siapa ingin menasehati pemerintah, janganlah disampaikan terang-terangan. Tapi pegang tangannya, bawa tempat sepi (lalu sampaikan nasehat). Jika nasehatnya diterima maka bagus. Jika ditolak, ia telah menyampaikan kepada pemerintah sesuatu yang tidak baik baginya.” (HR Ahmad).

Baca Juga:  Keistimewaan 10 Hari Terakhir Bulan Ramadan

Dalam konteks terang-terangan sejatinya bermakna tidak ingin mempermalukan penguasa. Kritik yang dibangun dengan tujuan mempermalukan pimpinan adalah niat dan cara yang tidak baik. Kritik harus prosedural yang bisa efektif disampaikan langsung kepada penguasa. Jika kita tidak memiliki akses untuk bertemu kepala Negara, kritikan tersebut disampaikan melalui perwakilan rakyat (DPR/MPR/DPD) atau para ulama yang lebih paham dengan agama dan memiliki kedekatan terhadap sang pemimpin.

Dari hadist di atas menunjukkan bahwa dalam mengkritik seorang pemimpin tidak boleh dilakukan secara terang-terangan di muka umum dalam arti mengkritik untuk mempermalukan. Dalam mengkritik hendaknya dilakukan secara privat, bisa dengan bertemu langsung atau melalui media lainnya seperti surat-menyurat melalui lembaga resmi atau menyuarakan melalui perwakilan rakyat.

Namun, pertanyaannya jika memang pemimpin itu dzalim dan tidak mau menerima kritik? Dari Hudzaifah bin Al Yaman, Rasulullah bersabda, “Akan ada setelahku para penguasa yang tidak melakukan petunjuk-petunjukku dan tidak melakukan sunnah-sunnahku. Dan akan ada di antara mereka orang-orang yang hati-hati mereka adalah hati-hati syaitan yang terdapat di jasad manusia.” Aku (Hudzaifah) berkata, “Bagaimana aku harus bersikap jika aku mengalami hal seperti ini?” Rasulullah bersabda, “Engkau tetap harus setia mendengar dan taat kepada pemimpin meskipun ia memukul punggungmu atau mengambil hartamu, maka tetaplah untuk setia mendengar dan taat!” [H.R. Muslim dari Shahabat Hudzaifah Ibnul Yaman]

Dalam pemerintahan yang buruk telah dikabarkan oleh Rasulullah bahkan Rasulullah pun juga telah memberikan solusi dalam menyikapinya. Kritik yang dilakukan juga dengan bahasa yang beradab. Bahkan ketika Nabi Musa dan Harun diperintahkan oleh Allah untuk menghadap Raja paling dzalim Fir’aun keduanya diminta untuk menyampaikan dengan bahasa yang baik dan beradab.

Baca Juga:  Tiga Sikap Orang Tua terhadap Anak yang Dibenci Rasulullah

Namun, jika kritik kita terhadap penguasa tidak di terima maka kita disarankan untuk tetap bersabar. Bersabar terhadap kedzaliman bukan berarti membenarkannya. Membangkang terhadap pemimpin akan justru menimbulkan mafsadat yang lebih besar. Yakinlah Allah akan selalu menolong hamba yang berada dalam kebenaran. Bukankah Nabi Musa pun mampu menghancurkan raja dzalim bukan dengan pembangkangan. Allah akan mengulurkan tanganNya untuk melakukan perubahan yang lebih baik. Amin.

Bagikan Artikel ini:

About Imam Santoso

Avatar of Imam Santoso

Check Also

Haji

Tidak Bisa Haji dapat Pahala Haji : Ulama Besar Pun Kaget dengan Amalan Tukang Sol Sepatu Ini

Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al Marwazi yang merupakan ulama terkenal di Makkah pada …

tidak mengambil keringanan

Peringatan Rasulullah bagi yang Tidak Mengambil Keringanan: Mereka Merasa Lebih Dekat dengan Allah?

Sesungguhnya dalam Islam sudah ada keringanan yang juga disyariatkan ketika kondisi yang susah. Namun, terkadang …