musa dan firaun
musa dan firaun

Kisah Nabi Musa dan Firaun: Adab Mengkritik Seorang Penguasa yang Sangat Dzalim

Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia ingat atau takut. (QS Taha: 43-44).

Demikianlah bunyi ayat 43-44 dari surat Taha. Melalui ayat tersebut, Allah Swt., memberikan pesan kepada Nabi Musa dan saudaranya, Nabi Harun agar berbicara lemah lembut kepada Firaun.

Firaun yang dimaksud di sini adalah Ramses II. Ia Raja Mesir Kuno yang memimpin selama 66 tahun. Sebuah waktu yang lama. Ia diperkirakan hidup antara tahun 1303-1213 SM. Pada masanya, Mesir mencapai puncak kejayaannya.

Mungkin karena hal itu, Firaun kemudian mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Sebuah pengakuan yang akhirnya ditentang oleh anak angkatnya sendiri, Musa.

Firaun dikenal sebagai seorang pemimpin kejam pada masanya. Ia membunuh semua bayi laki-laki yang lahir di wilayahnya. Semua itu bermula dari sebuah mimpi yang datang di tidurnya.

Suatu ketika, Firaun bermimpi melihat api dari Baitul Maqdis membakar segala kekuasaannya. Mimpi itu ditakwilkan oleh para ahli nujum kerajaan dengan mengatakan bahwa akan ada anak laki-laki yang menjungkalkan dirinya dari kursi kekuasaan.

Mendengar ramalan itu, Firaun ketakutan. Nafsunya untuk berkuasa lebih lama, membuatnya bertindak kejam. Ia memerintahkan agar semua bayi laki-laki yang lahir di wilayahnya dieksekusi mati. Dan perintah raja tidak boleh ditentang. Maka, terjadilah tragedi itu.

Beruntung, Musa kecil selamat dari tragedi itu. Ia malah bisa masuk dan tinggal di istana Firaun karena menjadi anak angkatnya.

Ketika Firaun sudah melewati batasan-batasannya, Musa yang memang disiapkan Allah Swt., sebagai nabi-Nya, diutus untuk menghadapi Firaun.

Walaupun Firaun sudah mengaku sebagai Tuhan, Nabi Musa yang ditemani saudaranya, Nabi Harun diperintahkan untuk tetap berbicara lemah lembut kepada Firaun. Dengan kata lain, secara tersirat perintah tersebut juga mengandung larangan Nabi Musa dan Nabi Harun berbicara kasar, mencaci maki dan juga menghina Firaun.

Baca Juga:  Respon Mengejutkan Sayyid Ali Zainal Abidin Ketika Dicaci Maki

Lalu seperti yang sudah kita ketahui, Firaun tidak mau menerima dakwah Nabi Musa dan Nabi Harun. Egonya tidak mau mengakui kenabian anak angkatnya tersebut. Dan, terjadilah apa yang ditetapkan oleh Tuhan. Firaun binasa di tengah lautan. Jasadnya abadi. Sebagai sebuah pelajaran untuk semua generasi.

Peristiwa itu ditegaskan oleh al-Qur’an, di surat Yunus ayat 92. Bunyinya seperti ini, “Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu (Firaun) supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu, dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.”

Pelajaran Berharga

Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun yang diperintahkan oleh Allah Swt., berbicara lemah lembut kepada Firaun, sesungguhnya menyimpan pelajaran berharga. Secara tidak langsung, Allah Swt., memberikan pelajaran kepada kita semua adab berbicara atau pun mengkritik seorang pemimpin.

Sebagaimana pun kejamnya Firaun, ia adalah seorang pemimpin. Ketika ada seorang pemimpin, maka ada yang dipimpin. Jika dibuatkan sebuah bagan, seorang pemimpin lebih tinggi daripada yang dipimpin. Pemimpin di atas, yang dipimpin berada di bawah. Diakui atau tidak, begitulah kenyataannya.

Bisa diibaratkan, pemimpin adalah orang yang “lebih tua” daripada yang dipimpin. Oleh karenanya, berbicara atau pun mengkritiknya harus menggunakan bahasa lemah lembut. Jangan kasar, apalagi mencaci maki. Kritik yang disertai caci maki, apalagi fitnah, akan kehilangan esensi. Dan sudah pasti, antara kritik dan caci maki, bedanya jelas sekali.

Hal yang sama juga seharusnya bisa dilakukan oleh kita semua. Ketika tidak sependapat atau pun tidak setuju dengan kebijakan pemerintah, maka sampaikanlah kritik dengan penuh adab. Tirulah Nabi Musa dan Nabi Harun yang tetap berbicara lemah lembut kepada seorang Firaun. Mereka berbicara tanpa emosi dan juga tanpa provokasi. Seperti itulah seharusnya adab kepada seorang pemimpin.

Baca Juga:  Merawat Nilai Kemanusiaan dan Kebersamaan

Dalam semesta demokrasi, kritik adalah sebuah keharusan. Tanpa adanya kritik, seorang pemimpin akan menjadi tiran dan lupa batasan-batasan. Tapi sekali lagi, sampaikanlah kritik dengan cara-cara elegan, bukan dengan cara bar-bar.

Seorang pemimpin juga harus menjadi seorang yang bijak. Menerima segala kritik dengan terbuka. Dengan begitu, ia akan selalu ingat bahwa kepemimpinannya selalu diawasi oleh rakyat.

Jangan sampai, seorang pemimpin tidak menerima kritik. Apabila seorang pemimpin selalu merasa benar dan tidak mendengarkan kritik dari rakyatnya, maka sangat berbahaya. Ia berpotensi menjadi pemimpin yang tiran.

Nabi Musa dan Nabi Harun sudah memberikan teladan, saatnya kita meniru dan melanjutkan. Sampaikan kritik dengan penuh adab.

Bagikan Artikel ini:

About Nur Rokhim

Avatar of Nur Rokhim
Mahasiswa Pasca Sarjana Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Kalijaga. Aktif di Majalah Bangkit PWNU DIY

Check Also

makkah

Ketika Masjidil Haram Ditutup karena Wabah Melanda

Presiden Jokowi telah menetapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat mulai tanggal 3-20 Juli mendatang. …

nabi palsu

Prediksi Rasulullah Perihal Kemunculan Nabi Palsu

Lagi, untuk kesekian kalinya, ada orang mengaku sebagai seorang nabi. Adalah seorang berinisial R yang …