Belajar Toleransi kepada Gus Sholah dan Gus Hotman Paris

0
605
gus sholah dan hotman paris

“Selamat jalan Sahabatku Gus Sholah! Namaku Gus pemberian Gus solah (acara pemakaman di Pesantren Tebu Ireng! Hotman Kristen satu satunya yang hadir dan diterima dengan ramah oleh para kyai senior dan muda)(cuma aku yang batak dan agama kristen saat itu disana)”


Itulah salah satu kicauan Hotman Paris, pengaca kondang yang kerap menjadi perhatian publik dengan gaya hidupnya yang glamor. Hotman mengunggah kicauan dan momen mengharukan saat menghadiri acara pemakamannya sahabatnya, KH. Salahuddin Wahid atau akrab dipanggil Gus Sholah yang wafat pada minggu malam (2/2/2020).

Wafatnya Gus Sholah, adik KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sekaligus cucu pendiri Nahdlatul Ulama ini memang meninggalkan duka teramat dalam bagi masyarakat, salah satunya Hotman Paris. Kenapa Hotman begitu antusias untuk menghadiri perpisahan terakhir dengan sahabatnya ini hingga rela terbang dari Bali ke Jombang?

Kalimat Hotman dalam kicauannya: “Hotman Kristen satu-satunya yang dan diterima dengan ramah” adalah sebuah ungkapan nyata praktek toleransi yang begitu nyata. Hotman yang berbeda agama tidak risih untuk bergabung dalam komunitas pesantren. Para kiayi dan santri juga menerima dengan ramah kehadirannya layaknya saudara.

Ini memperlihatkan bahwa tidak ada sekat persahabatan dan pertemanan karena beda agama. Tidak ada sekat untuk berempati dan merasa kehilangan karena berbeda keimanan. Praktek toleransi ini sungguh memberikan harapan besar bagi bangsa Indonesia untuk tetap hidup rukun dan merawat persaudaraan dan persahabatan dalam perbedaan.

Pelajaran seperti ini patut dicontoh di tengah sebagian kecil pandangan masyarakat yang mulai alergi dengan kata-kata “lintas agama” dan toleransi. Pertemuan dan perkumpulan lintas agama ditolak karena dianggap mendangkalkan akidah. Memiliki teman yang berbeda, berkumpul dengan tetangga yang berbeda dan mewujudkan kampung toleransi dianggap mendangkalkan akidah. Sungguh ironi umat saat ini.

Baca Juga:  Selamat Jalan Kiayi: Catatan Seorang Santri Gus Sholah dari Lombok

Kedatangan Hotman ke pesantren bukan kali ini. Sebelumnya ia telah diterima dengan hangat di pesantren yang diasuh oleh Almarhum Gus Sholah ini untuk menjadi pembicara di tengah santri. Bahkan kedekatannya dengan kalangan pesantren ia diberikan gelar “Gus” sebutan untuk keluarga kiayi di pesantren. Jadilah Namanya “Gus Hotman” dan dia bangga mendapatkannya.

Selama melayat di kediaman almarhum, Gus Hotman Nampak begitu akrab. Gaya glamor yang sering ditampilkan di media seakan runtuh dengan gaya santri. Ia rela berdesakan dan menangkat jenazah almarhum.

Momen yang viral itu muncul saat Gus Hotman dipersilahkan masuk dan ikut dalam jamaah salah zuhur. Saat pelaksanaan shalat dia tidak diusir keluar. Para kiayi mempersilahkannya tetap di dalam yang berada di shaf paling belakang sambil duduk tenang dengan jamuan makanan.

Hal ini terungkap dalam kicauan di akunnya : “Netizen jangan nyinyir dulu! Sebelum tiba jenazah Gus Solah maka para Kyai sholat dzhuhur di rumah peninggalan pendiri NU (Hasyim Asy’ari). Hotman sudah mau keluar ruangan tapi oleh para kyai disuruh duduk dan dikasi makan,” tulis Hotman.

Pesantren sekali lagi menampilkan praktek agama yang sungguh indah dan jauh dari kesan sangar dan anti perbedaan. Tentu saja praktek menghormati tamu yang berbeda seperti ini bukan mendangkalkan akidah, tetapi bagian dari perwujudan iman. Kiayi pesantren tentu lebih memahami dalilnya dari pada peserta aksi yang sering menolak toleransi.

Hadirnya Gus Hotman  semakin menunjukkan sosok almarhum Gus Sholah yang bisa diterima semua kalangan, tanpa memandang agama. Begitu pula memberikan kesan dunia pesantren adalah institusi yang menyemai toleransi dan selalu menerima perbedaan.

Tapi, apresiasi cukup tinggi patut juga diberikan kepada Gus Hotman yang menampilkan ketulusan yang dalam untuk menghadiri perpisahan terakhir dengan sahabatnya walaupun berbeda agama. Mantan mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin bahkan memuji dalam akun twitternya: “Saya respek kepada Pak Hotman Paris yang tak hanya ikut menunggui jenazah KH. Salahuddin Wahid saat dishalatkan berulang kali di rumah kasepuhan, tapi lelaki berjas lengkap dan berdasi itu juga sejak awal berada di tepi liang lahat hingga prosesi penguburan selesai,”.

Baca Juga:  Islam Kaffah: Meneguhkan Toleransi dan Kesantunan di Tengah Perbedaan

Pelajaran Gus Sholah dan Gus Hotman adalah bagian dari praktek toleransi dan persaudaraan yang patut diambil contoh. Bukan karena berbeda harus menjadi tidak bersahabat, bersaudara dan berkumpul bersama. Islam menghargai perbedaan. Dan penghormatan terhadap perbedaan adalah perwujudan iman, bukan pandangkalan akidah.

Tinggalkan Balasan