haid
haid

Fikih Puasa untuk Milenial (5) : Berhenti Haid Malam Hari, Tapi Belum Mandi Sampai Pagi, Puasa atau Tidak?

Hal alamiah yang dialami semua perempuan dewasa adalah haid. Pada saat menstruasi atau sedang haid ada beberapa ibadah yang dilarang dikerjakan, satu di antaranya adalah puasa. Namun demikian, tidak berarti wanita yang sedang haid tidak memperoleh keutamaan puasa Ramadhan. Sebab, tidak berpuasanya mereka bukan karena melanggar perintah, namun karena mengerjakan perintah. Mereka dilarang berpuasa saat itu tetapi wajib mengganti di luar bulan Ramadhan.

Karenanya, wanita haid tetap memperoleh pahala dan keutamaan bulan Ramadhan dengan syarat harus menggantinya (qadha’) setelah Ramadhan.

Namun, ada satu problem wanita haid yang harus diurai hukum fikihnya. Yakni, ketika malam hari darah haid tuntas, tetapi belum sempat mandi sampai pagi. Apakah wanita tersebut wajib puasa karena hukumnya sama dengan suami istri yang melakukan hubungan badan di malam hari dan mandi sampai tiba waktu subuh, atau dilarang untuk berpuasa hanya wajib qadha’?

Menurut madhab Hanabilah, status hukum wanita yang haidnya tuntas di malam hari namun belum sempat mandi besar sampai waktu subuh tiba sama dengan suami istri yang bersenggama di malam hari dan belum mandi janabah sampai subuh tiba. Artinya, wanita tersebut wajib berpuasa asalkan darah haidnya benar-benar berhenti.

Tentunya, ia juga harus berniat di malam hari. Seandainya lupa berniat di malam hari (tabyitun niyah), tetapi di awal puasa berniat berpuasa penuh sebulan, maka puasanya tetap sah dengan bertaklid kepada Imam Malik yang tidak mengharuskan niat setiap hari yang penting di awal Ramadhan berniat berpuasa seluruhnya.

Akan tetapi, menurut al Auza’i, al Hasan Ibnu Huyay, Abdul Malik bin al Majisyun, dan lain-lain, wanita tersebut wajib mengqadha’, tidak wajib puasa. Sebagaimana ditulis oleh Dr. Abdul Karim Zaidan dalam kitabnya Al Mufhashshal fi Ahkam al Mar’ah wa Al Bait al Muslim fi al Syari’ah al Islamiyah.

Baca Juga:  Kaidah Fikih Cabang Kedua: Asas Praduga Tak Bersalah

Kesimpulannya, wanita yang haidnya tuntas di malam hari, namun belum sempat mandi besar sampai tiba waktu subuh boleh memilih salah satu dua pendapat.

Pertama, boleh dan sah berpuasa asalkan telah berniat di malam hari, atau telah berniat berpuasa penuh sebulan di awal Ramadhan dengan bertaklid kepada Imam Malik.

Kedua, tidak sah berpuasa dan harus mengganti di luar bulan Ramadhan seperti dikatakan oleh Imam Al Auza’i, al Hasan Ibnu Huyay, Abdul Malik bin al Majisyun, dan beberapa ulama yang lain.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

Allah mengabulkan doa

Cara Allah Mengabulkan Doa Hambanya

Apakah semua doa hamba kepada Rabbnya akan dikabulkan? Kita harus yakin bahwa doa yang kita …

puasa syawal

Istri Puasa Sunnah Syawal, Tetapi Suami Tidak Mengizinkan?

Sebagaimana maklum diketahui, puasa Ramadhan ditambah puasa sunnah enam hari bulan Syawal pahalanya sama seperti …