Biksu India Yati Narsinghanand Giri saat menyerukan genosida terhadap Muslim India
Biksu India Yati Narsinghanand Giri saat menyerukan genosida terhadap Muslim India

Biksu di India Serukan Genosida Terhadap Umat Muslim, PM India ‘Membisu’

New Delhi – Kehidupan umat Muslim di India terus mendapat gangguan dari kelompok-kelompok yang tidak suka dengan Islam, baik dari politisi maupun dari kelompok masyarakat. Tidak hanya dihambat untuk melaksanakan ibadah, umat Islam juga diancam dengan penangkapan, bahkan pembunuhan.

Seperti yang dilakukan seorang biksu Hindu yang menghasut dan menyebarkan ancaman dengan menyerukan genosida terhadap Muslim India. Seruan itu dilakukan biksu saat pertemuan pendukung sayap kanan. Ironisnya, Perdana Menteri India Narendra Modi ‘membisu’ dan tidak menanggapi seruan kekerasan biksu ini.

Biksu bernama Yati Narsinghanand Giri saat ini tengah menghadapi dakwaan atas ujaran kebencian dan pengancaman itu. Yati Narsinghanand Giri adalah pendukung vokal nasionalis sayap kanan yang juga mengepalai sebuah biara Hindu.

Perwira polisi senior, Swatantra Kumar, mengatakan awalnya ia ditangkap atas tuduhan telah membuat pernyataan yang menghina perempuan, Sabtu (15/1/2022) lalu. Menurutnya, Yati Narsinghanand Giri langsung dihadirkan dalam pengadilan di Kota Haridwar, tempat ia ditahan selama 14 hari akibat pidato kebenciannya terhadap Muslim dan menyerukan kekerasan terhadap mereka.

Dikutip dari Washington Post via laman Republika.co.id, Selasa (18/1/2022), Kumar mengatakan biksu Giri, yang dia gambarkan sebagai “pelanggar berulang,” secara resmi didakwa karena mempromosikan “permusuhan antara kelompok yang berbeda atas dasar agama”, Senin (17/1/2022). Ia diancama dengan hukuman penjara selama lima tahun.

Pada Desember 2021, Giri dan para pemimpin agama lainnya meminta umat Hindu mempersenjatai diri untuk melakukan “genosida” terhadap Muslim. Menurut pengaduan polisi, hal tersebut ia sampaikan selama pertemuan di Haridwar, kota suci utara di Uttarakhand.

Giri merupakan orang kedua yang ditangkap dalam kasus ini, setelah Mahkamah Agung India turun tangan pekan lalu.

Negara bagian Uttarakhand diperintah oleh nasionalis Hindu Perdana Menteri Narendra Modi Bharatiya Janata. Naiknya partai politik ini ke tampuk kekuasaan pada 2014 dan pemilihan kembali yang besar pada 2019, telah menyebabkan lonjakan serangan terhadap Muslim dan minoritas lainnya.

Muslim di India terdiri hampir 14 persen dari total 1,4 miliar penduduk. Negara yang sebagian besar beragama Hindu ini telah lama memproklamirkan karakter multikulturalnya.

Konferensi tiga hari yang diorganisir oleh biksu Giri disebut “Dharam Sansad” atau “Parlemen Agama” dan diikuti dengan meningkatnya pidato kebencian anti-Muslim selama bertahun-tahun. Dalam pertemuan tertutup ini disampaikan beberapa seruan paling eksplisit untuk kekerasan atas dasar agama.

Dalam video yang beredar dari konferensi tersebut menunjukkan, beberapa biksu Hindu yang memiliki hubungan dekat dengan partai penguasa Modi, mengatakan umat Hindu harus membunuh Muslim.

“Jika 100 dari kita siap untuk membunuh dua juta dari mereka, maka kita akan menang dan menjadikan India sebagai negara Hindu,” kata seorang pemimpin nasionalis Hindu, Pooja Shakun Pandey pada acara itu.

Seruannya untuk pembantaian seperti itu disambut dengan tepuk tangan dari para hadirin. Pandey sendiri sedang diselidiki oleh polisi karena menghina keyakinan agama.

Masih dalam pertemuan tersebut, para biksu Hindu dan pendukung lainnya, termasuk Giri, mengucapkan sumpah menyerukan pembunuhan terhadap mereka yang dianggap musuh agama Hindu.

Seruan untuk kekerasan disambut dengan kemarahan publik dan menuai kritik tajam dari mantan kepala militer, pensiunan hakim dan aktivis hak asasi manusia. Banyak yang mempertanyakan diamnya pemerintah Modi, memperingatkan pidato kebencian terhadap Muslim dipredikasi akan semakin tumbuh ketika beberapa negara bagian India, termasuk Uttarakhand, menuju tempat pemungutan suara pada bulan Februari.

Pekan lalu, mahasiswa dan staf pengajar di Institut Manajemen India, salah satu sekolah bisnis paling bergengsi di India, mengirimkan surat kepada Modi. Mereka menulis, kebisuan yang ia lakukan berdampak pada meningkatnya kebencian dan mengancam persatuan dan integritas negara.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Check Also

radikalisme di era digital copy

Lingkungan Digital Jadi Ruang Baru Infiltrasi Paham Radikal

Jakarta – Upaya  serius sangat penting untuk menekan paparan radikalisme di ruang digital. Merujuk data …

Zohran Mamdani 1

Mushaf Ottoman di Balik Sumpah Zohran Mamdani, Jejak Panjang Islam di New York

New York — Pelantikan Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York City mencatatkan sejarah baru, …