shalat taubat
shalat taubat

Cara Taubat Nasuha Pelaku Dosa Besar Zina

Dalam Islam, perbuatan zina dikatagorikan sebagai dosa besar yang sangatlah dibenci Allah dan semua mahluknya. Zina adalah perbuatan seksualitas antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat pernikahan. Namun bukan hanya itu, zina juga merupakan perbuatan yang mampu membangkitkan syahwat lawan jenis yang bukan muhrim.

Tahukah kalian bahwa dosa zina berada di urutan ketiga setelah dosa syirik dan pembunuhan. Zina merupakan salah satu perbuatan yang keji yang mampu merusak banyak hal. Dalam al-Quran sendiri juga di jelaskan bahwa, “Dan orang-orang yang tidak menyembah Rabb yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),” (al-Furqon ayat 68)

Adapun untuk para pelaku zina hendaknya mereka segera melakukan pertaubatan. Mereka harusnya sadar akan yang mereka lakukan adalah perbuatan yang salah dan bertekat untuk berhenti dan tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Namun untuk orang yang sudah terlanjur melakukan perbuatan zina, hendaknya mereka merahasiakan perbuatan buruk mereka. Mereka tidak boleh menceritakan perbuatan mereka kepada siapapun, karena Allah melarang umatnya untuk tidak mengumbar atau membuka aib mereka kepada orang lain.

Para pelaku zina juga di wajibkan untuk bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah dengan cara taubatan nasuha. Disebutkan oleh Syekh Ibrahim Al-Baijuri bahwa, “Pelaku zina dan orang yang melakukan maksiat lainnya disunahkan menutupi aib dirinya. Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang melakukan perbuatan keji, hendaklah menutupi (aib) dirinya dengan tutupan Allah SWT. Sedangkan orang yang menampakkan ‘muka’-nya di hadapan kami, niscaya kami akan menegakkan hudud baginya,” HR Al-Hakim dan Al-Baihaqi  “Ia juga disunahkan untuk bertobat atas dosanya kepada Allah. Allah akan menerima pertobatannya bila mengikhlaskan niatnya,” (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, 1999 M/1420 H, cetakan kedua, juz II, halaman 430).

Dari keterangan di atas telah disebutkan bahwa pelaku zina yang mengaku di depan umum atas perbuatan zina yang telah ia lakukan ialah hal yang salah dan menyalahi aturan, mereka hendaknya merahasiakan apa yang telah menjadi aibnya, karena Allahpun akan membarikan maaf kepada pelaku zina ketika mereka melakukan pertaubatan atas hal yang telah di lakukannya.

Adapun cara bertaubat bagi para pelaku zina sama seperti shalat sunnah pada umumnya. Cara taubat nasuha pelaku zina sebaiknya dikerjakan secara sendirian. Shalat taubat nasuha dilakukan sebanyak dua rakaat dengan sekali salam. Namun boleh juga dilakukan dua rakaat, empat rakaat, atau enam rakaat. Disujud terakhir, ia bisa memperpanjang sujudnya untuk secara khusus bermunajat dan mengakui segala dosa serta memohon ampunan dengan segala kerendahan diri di hadapan Allah.

“Yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah do’a ketika itu.”(HR. Muslim).

Sebelum melakukan Shalat taubatan nasuha hendaknya didahului dengan bersuci dan disunahkan bagi mereka untuk mandi besar. Berikut cara taubat nasuha pelaku zina yang perlu diperhatikan secara runtut :

1. Membaca niat sholat taubat nasuha.

2. Takbiratul ihram.

3. Membaca doa iftitah (sunnah).

4. Membaca suart Al-Fatihah.

5. Membaca salah satu surat Al-Qur’an.

6. Rukuk (membaca tasbih rukuk tiga kali).

7. I’tidal (membaca doa I’tidal).

8. Sujud (membaca tasbih sujud tiga kali).

9. Duduk di antara dua sujud (membaca dia ‘robbighfirlii warhamnii…’)

10. Sujud kedua. (membaca tasbih sujud tiga kali).

11. Bangun melanjutkan rakaat kedua seperti urutan di atas sampai yang ke 1

12. Tasyahud akhir (membaca tasyahud akhir).

13. Salam.

14. Berdoa mohon ampunan.

Baca Juga:  Tidak Sekedar Ingin Pulang, WNI Eks ISIS Wajib Taubat Nasuha

Namun, terpenting dari bertaubat adalah kesadaran penuh apa yang dilakukan adalah perbuatan dosa besar. Setelah menyadari itu adalah pelanggaran dan dosa besar adalah komitmen untuk tidak mengulangi kesalahan. Taubat adalah kata gampang, tetapi kesadaran dan komitmen itulah yang menentukan apakah itu sekedar tobat sambal, atau memang taubatan nasuha.

Bagikan Artikel ini:

About Imam Santoso

Avatar of Imam Santoso

Check Also

bulan muharram

Bulan Muharram : Sejarah Persatuan, Perpecahan dan Tragedi Politik dalam Islam

Bulan Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender hijriyah yang memiliki sejarah penuh makna. Banyak kejadian …

Haji

Tidak Bisa Haji dapat Pahala Haji : Ulama Besar Pun Kaget dengan Amalan Tukang Sol Sepatu Ini

Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al Marwazi yang merupakan ulama terkenal di Makkah pada …