Tidak Sekedar Ingin Pulang, WNI Eks ISIS Wajib Taubat Nasuha

0
1143
wni eks ISIS

Wacana pemulangan warga Negara Indonesia (WNI) eks ISIS membuat khawatir beberapa kalangan. Ini bisa dimaklumi mengingat sepak terjang mereka pernah membikin gaduh ketentraman masyarakat. Namun, rasa kemanusiaan juga terbesit ketika mereka meratapi keinginan untuk pulang.

Memulangkan begitu saja adalah tindakan ceroboh karena mereka sudah pernah dengan sadar meninggalkan tanah air dan memilih bergabung ke Suriah. Sebagian dari mereka mungkin saja sudah mengikuti wajib militer alas ISIS. Remaja dan anak-anak pernah dilatih oleh ISIS di Suriah.

Namun, hal lebih penting bahwa mereka memiliki sikap ekstrim dalam beragama. Kombatan ISIS memiliki tafsir agama ekstrim dan cenderung destruktif. Ingat mereka dilatih untuk tidak kenal mati. Ujungnya tak lain tindakan teror seperti bom bunuh diri adalah dianggap benar.

Pro kontra perihal pemulangan mereka tentu harus disikapi bijaksana oleh pemerintah. Satu sisi mereka memang terbukti telah memilih jalan beragama secara ekstrem. Mereka juga sudah meninggalkan tanah air dengan pilihan sadar. Namun di sisi lain, dalam agama Islam Tuhan selalu membuka taubat bagi pendosa sebelum nafas sampai di kerongkongan.

Taubat Nasuha dalam Qur’an dan Hadist

Ada banyak ayat al Qur’an dan hadis yang menganjurkan taubat. Taubat yang dimaksud adalah taubat yang sebenarnya. Sebagaimana firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. (QS. al-Tahrim: 8)

Taubat nasuha memiliki arti taubat yang sungguh dan tidak akan mengulangi lagi perbuatan dosa yang telah dilakukan. Implikasi dari taubat nasuha ini akan menghapus semua kesalahan yang terdahulu. Dengan demikian, perjalanan beragama yang baik sesuai dengan ketentuan Allah dan Nabi Muhammad bisa dimulai untuk menjadi muslim ideal.

Dalam al Qur’an juga telah dijelaskan bahwa dalam dosa masih terbuka pinta maaf dan kasih sayang Allah asal dilakukan dengan taubat yang sebenar-benarnya. Di antaranya firman Allah: “ Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: “Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS Al-An’am : 54).

Dalam ayat lain “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”. (QS Al-Baqarah 2:222). Juga firman Allah “Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS An-Nisa’ 4:17)

Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda, “Setiap anak Adam (cenderung) berbuat kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang bertaubat”. Dan pada hadis yang lain beliau bersabda, “Penyesalan adalah tobat”.

Pengertian Taubat Nasuha

Bagaimana gambaran taubat nasuha tersebut dalam Islam? Ibnu Jarir mengatakan, ia pernah mendengar Umar bin Khattab dalam khutbahnya membaca firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. (At-Tahrim: 8). Menurut Umar, taubat nasuha adalah taubatnya seseorang yang telah melakukan perbuatan dosa, kemudian tidak mengulanginya lagi.

Keterangan ini diperkuat oleh Imam al Tsauri berdasarkan riwayat dari Sammak dari al-Nu’man, bahwa Umar bin Khattab menjelaskan taubat nasuha dengan bertaubatnya seseorang dari perbuatan dosa, tidak akan mengulanginya lagi dan tidak ada keinginan untuk mengulanginya lagi.

Sedangkan Abul Ahwas dan lain-lainnya telah meriwayatkan dari Sammak, dari An-Nu’man, bahwa Umar pernah ditanya tentang tobat nasuha. Maka Umar menjawab, “Taubat yang nasuha ialah bila seseorang bertobat dari perbuatan buruk, kemudian tidak mengulanginya lagi selama-lamanya.”

Berdasarkan keterangan di atas, para ulama merumuskan, taubat nasuha atau taubat yang murni adalah bila seseorang menghentikan dirinya dari perbuatan dosa di saat itu juga, kemudian ia menyesali apa yang telah dilakukannya di masa lalu, dan bertekad di masa mendatang ia tidak akan mengerjakan hal itu lagi.

Syarat Taubat Nasuha

Sebagaimana lazim diketahui, dalam agama Islam ada dua model dosa. Dosa kepada Allah dan dosa kepada sesama manusia (haqqul adami). Dosa kepada sesama manusia bisa terhapus bila yang bersangkutan meminta maaf kepada orang telah di dzaliminya. Sedangkan untuk dosa kepada Allah, taubatnya harus memenuhi beberapa syarat di bawah ini.

Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar mengatakan, ada tiga syarat dalam melaksanakan taubat nasuha atas dosa yang dilakukan kepada Allah. Ia berkata:


اعلم أن كل من ارتكب معصية لزمه المبادرة إلى التوبة منها ، والتوبة من حقوق الله تعالى يشترط فيها ثلاثة أشياء : أن يقلع عن المعصية في الحال . وأن يندم على فعلها . وأن يعزم ألا يعود إليها .

Artinya: Ketahuilah, bagi seseorang yang telah melakukan dosa wajib untuk segera melakukan taubat (nasuha). Taubat dari dari dosa kepada Allah (haqqullah) harus memenuhi ada tiga syarat. Berhenti dari perbuatan dosa seketika itu juga, menyesal atas dosa yang telah diperbuat dan berniat tidak akan mengulanginya lagi. Apabila tidak terpenuhi ketiga syarat di atas, maka taubatnya tidak berguna.

Sekedar Ingin Pulang atau akan Berulang

Dari sini kita bisa menghubungkannya dengan konteks pemulangan WNI eks ISIS ke tanah air. Tentu kebijakan ini adalah menunggu pemerintah. Namun, hal terpenting adalah bentuk penyesalan mereka atas pilihan yang mereka buat. Tidak sekedar menangis yang muncul di berbagai media. Namun, taubat nasuha untuk segera meninggalkan cara pandang ISIS dan komitmen untuk tidak mengulangi lagi di masa depan.

Mengulangi lagi ini menjadi kata kunci penting. Karena apakah jaminan mereka pulang tidak akan berulah lagi? Bukankah Bom awal tahun 2000-an adalah dilakukan WNI eks Afganistan yang telah  terlatih perang. Mereka justru menjadi Indonesia sebagai ladang perang dengan bom bunuh diri.

Menangis dan permintaan maaf di media hanyalah cermin menggugah kemanusiaan manusia. Namun, Allah lebih mengetahui penyesalan dan taubat yang sebenarnya.