Cicit Perempuan Rasulullah yang Menjadi Guru Imam Syafi’i

0
339
cicit rasul

Islam senantiasa menempatkan derajat kaum hawa tak kalah mulia dari laki-laki di hadapan Allah SWT. Dengan kelebihan yang dimiliki, wanita bisa menjadi apapun tanpa melupakan kodratnya.  Hal ini dibuktikan oleh Sayyidah Nafisah. Ia adalah cicit Nabi Muhammad. Ayahnya adalah Hasan bin Zaid bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib, sementara ibunya adalah Ummu Walad.

Sayyidah Nafisah dikenal sebagai seorang srikandi tangguh dan tegas, bahkan ia dikenal dengan kecerdasan dan kehebatan ilmunya. Sayyidah Nafisah memiliki gelar sebagai ‘Ummul Ulum’ (ibu sekalian ilmu). Ia juga seorang ilmuwan terkemuka di masanya, sehingga Imam Syafi’i pun berguru padanya.

Hijrah Ke Kairo

Di umurnya yang masi kecil Sayyidah Nafisah sudah dapat menghafal Al-Quran dan setiap selesai membaca Al-Quran beliau selalu berdoa, “Ya Allah, mudahkanlah aku untuk berziarah ke makam Nabi Ibrahim”. Alasan ia sangat ingin berziarah ke makam Nabi Ibrahim yang dikenal sebagai bapak moneteisme sejati, karena Nabi Ibrahim merupakan bapak Nabi Muhammad lewat jalur Nabi Ismail. Sedangkan Sayyidah Nafisah merupakan keturunan dari Nabi Muhammad.

Allah mengabulkan doa Sayyidah Nafisah diusianya ke 44 tahun. Kabar kedatangannya pun telah menyebar luas di penjuru Kairo. Ia mendapat sambutan hangat dari penduduk Kairo. Setiap hari banyak penduduk yang berdatangan hendak menemuinya. Mereka semua ingin berkonsultasi, meminta doa ataupun mendengar nasihat dan ilmu darinya.

Semakin lama Sayyidah Nafisah merasa waktunya tersita untuk melayani ummat Kairo. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan Kairo dan kembali ke Madinah agar bisa berdekatan dengan makam kakeknya, Nabi Muhammad.

Mendengar kabar bahwa Sayyidah Nafisah ingin kembali ke Madinah, penduduk Kairo mulai meninta dan memelas agar Sayyidah Nafisah mengurungkan niatnya. Karena sangat disegani dan di hormati di Kairo, Gubernur Mesirpun ikut turun tangan membujuk Sayyidah Nafisah agar tetap tinggal di Kairo.

Sang Gubernur menawarkan tempat yang lebih besar untuk beristirahat serta menemui para umatnya. Selain itu, Gubernur menyarankan Sayyidah Nafisah untuk menerima umat hanya pada hari Rabu dan Sabtu saja.

Sayyidah Nafisah terlihat diam di hadapan Gubernur. Ia meminta sedikit waktu untuk berfikir serta menunggu petunjuk dari Allah. Setelah beberapa waktu, Sayyidah Nafisah pun menerima tawaran Gubernur dan memutuskan untuk tinggal dan menghabiskan hidupnya di Kairo.

Ketika Imam Syafi’I Berguru

Kebesaran dan kemuliaan nama Sayyidah Nafisah terdengar di telinga Imam al-Syafi’i.  Mendengar ketokohan wanita dengan ketaatan serta kepintaran yang ia miliki hingga banyak ulama datang di kediamannya hanya untuk mendengarkan pengajian dan ceramahnya, Imam al-Syafi’i datang ke kota ini lima tahun sesudah Sayidah Nafisah.

Setelah beberapa waktu di Kairo, Imam al-Syafi’i meminta bertemu dengan Sayyidah Nafisah. Imam al-Syafi’i pun di sambut dengan ramah. Masing-masing dari mereka saling mengagumi tingkat kesarjanaan dan intelektualitasnya.

Sebelum datang ke Mesir, Imam al-Syafi’i sudah terlebih dahulu terkenal dan harum namanya di Baghdad. Fatwa-fatwa Imam al-Syafi’i di Baghdad dikenal sebagai ‘qaul qadim’, sedangkan fatwa beliau di Kairo dikategorikan sebagai ‘qaul jadid’. Dikabarkan bahwa Imam Syafi’i adalah ulama yang paling sering bersama Sayyidah Nafisah dan mengaji kepadanya. Pada bulan Ramadan, Imam Syafi’i juga sering shalat tarawih bersama Sayyidah Nafisah di masjid ulama perempuan ini.

Kedekatan Guru dan Murid

Itulah cerita singkat kedekatan dua hamba Allah yang memiliki ketaatan serta kepintaran yang luar biasa. Suatu hari ketika Imam al-Syafi’i sakit, ia mengutus sahabatnya untuk meminta Sayidah Nafisah mendoakan bagi kesembuhannya. Maka tak lama dari kepulangan sahabatnya dari rumah Sayyidah Nafisah, Imam Syafi’I sudah terlihat sehat.

Beberapa waktu setelahnya Imam Syafi’i sakit parah. Sahabat tersebut dimintanya kembali menemui Sayyidah Nafisah untuk mendoakannya. Namun Sayyidah Nafisah hanya mengatakan, “Matta’ahu Allah bi al-Nazhr Ila Wajhih al-Karim” (Semoga Allah memberinya kegembiraan ketika berjumpa denganNya).

Mendengar ucapan sahabat sekaligus gurunya itu, Syafi’i segera paham bahwa waktunya sudah akan tiba. Imam al-Syafi’i kemudian berwasiat kepada muridnya, al-Buwaithi. Ia meminta agar Sayyidah Nafisah menyalati jenazahnya kelak ketika ajal menjemputnya.

Selang beberapa waktu, Imam Syafi’I pun wafat. Sebagaimana wasitanya, Jenazah Imam Syafii dibawa ke rumah sang ulama perempuan untuk dishalatkan. Selang beberapa tahun setelah kepulangan Imam al-Syafi’I, Sayyidah Nafisahpun dipanggil oleh sang maha pencipta.

Menjelang tiba ajalnya, beliau masih dalam kondisi berpuasa. Ketika itu Beliau membaca surat “Al-An’am”. Dan sampai di ayat: لهم دار السام عند ربهم beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir. Makam Sayyidah Nafisah berada di Kairo, Mesir, dan sampai sekarang pun masih dipenuhi para peziarah.

Berikut beberapa nasihat Sayyidah Nafisah kepada para muridnya:

1. Jika kalian ingin berkecukupan, tidak menjadi miskin, bacalah QS. al-Waqi’ah [56].

2. Jika kalian ingin tetap dalam keimanan Islam, bacalah QS. al-Mulk [67].

3. Jika kalian ingin tidak kehausan pada hari dikumpulkan di akhirat, bacalah QS. al-Fatihah [1].

4. Jika kalian ingin minum air telaga Nabi di akhirat, maka bacalah QS. al-Kautsar [108].

Sayyidah Nafisah adalah fakta sejarah bahwa seorang perempuan bisa menjadi seorang ulama tersohor, bahkan menjadi guru bagi seorang pendiri madzhab seperti Imam Syafi’I yang dikenal sebagai tokoh besar dalam bidang usul al-fiqh dan fiqh. Semoga Allah selalu merahmati kedua ulama ini.