dakwah
Pendakwah

Cukup Satu Ayat untuk Berdakwah ?

Gairah dakwah begitu membahana. Setiap orang mengambil peran untuk menjadi dai dan muballigh. Kadang tidak peduli kemampuan yang dimiliki, tetapi karena hanya ingin tampil menjadi dai. Panggung dan mimbar dakwah penuh dengan ragam ustadz yang tidak memumpuni.

Ada motivasi yang melandasi untuk berdakwah meskipun tanpa kualitas yang baik. Sebagaimana dalam hadist riwayat Imam Bukhari “Sampaikanlah dariku walau satu ayat”. Hadist dianggap sebagai legitimasi sedikit apapun yang kamu pahami harus disampaikan. Dakwah harus hidup meskipun anda hanya mempunyai satu ayat untuk disampaikan. Benarkah demikian?

Pesan Nabi melalui Anas bin Malik yang diriwayatkan Ibnu Majah ini, “Allah akan mencemerlangkan orang yang mendengar perkataanku, kemudian ia memahaminya dan menyampaikannya kepada orang lain sebagaimana yang ia ketahui”. Ada syarat yang tercantum dalam hadis di atas, yaitu harus memahami dulu sebelum menyampaikan. Ini syarat mutlak.

Pengertian satu ayat mengandung makna kemuliaan dan pentingnya dakwah. Meskipun yang dipahami dan didalami walau hanya satu ayat perlu untuk disampaikan. Satu ayat tentu dengan pemahaman yang utuh dan dengan kualitas pemahaman yang baik. Bukan sekedar berbekal satu ayat untuk menjadi dai.

 

Kalimat memahami dan menyampaikan adalah sebuah upaya untuk menjaga dalil al-Quran dan hadist tetap orisinil, terutama makna dan pengertiannya harus sesuai dengan konteks yang dikehendaki oleh Nabi. Hal ini sangat dijaga dan diperhatikan oleh para sahabat. Sehingga tranmisi keilmuan dari generasi ke generasi tetap utuh dan tidak ada tahrif atau perubahan. Pengertian dan konteks datangnya dalil juga disampaikan.

Pada generasi ulama salaf, untuk menjaga orisinilitas makna al-quran dan hadis mereka menulis syarah atau penjelasan seperti yang mereka peroleh dari generasi sebelumnya. Sebab, jika tidak demikian dikhawatirkan generasi berikutnya akan memaknai hadis dengan sesuka hati. Maka, lahirlah ilmu yang beragam dalam menjaga pemahaman makna al-Quran dan Hadist.

Baca Juga:  Enam Tujuan Khutbah yang Harus Dihormati oleh Seorang Khatib Jumat

Tetapi, tetap saja ada individu dan kelompok yang memaknai hadis, bahkan al Qur’an dengan seenak perutnya. Lebih ironis, ada yang sampai berkata tidak perlu berpijak pada ulama-ulama salaf atau ulama madzhab, cukup kembali pada al Qur’an dan hadist supaya lebih sempurna dan lebih asli.

Akibatnya sangat fatal. Ada banyak kesalahan dalam memahami teks al Qur’an dan hadis. Kasus-kasus seperti ini, saat ini, banyak sekali dijumpai utamanya di media sosial. Bertebaran dai/penceramah/mubaligh yang tidak memahami secara utuh hadis maupun ayat yang ngotot menyampaikan pesan-pesan teks-teks keagamaan tersebut meskipun tidak memahaminya secara sempurna.

Baginya cukup berbekal satu ayat untuk berdakwah. Bagi mereka cukup membaca teks al-Quran dan hadist sebagai sumber untuk disampaikan. Persoalan pemahaman seperti yang diisyaratkan Nabi tidak menjadi persoalan asal bunyi ayat dan hadist tersampaikan.

Oleh karena itu, penting bagi para dai atau apapun sebutannya untuk memahami dan mencerna hadis Nabi di atas. Bahwa Nabi menganjurkan dakwah benar, tapi syaratnya harus memahami dulu dan menyampaikan dengan jujur apa adanya. Untuk memahami tidak ada cara lain harus belajar. Belajar harus kepada guru yang benar-benar paham dan memiliki sanad keilmuan yang jelas.

Jika tidak, dampaknya akan sangat buruk. Lihatlah misalnya kelompok radikalisme yang mendistorsi makna jihad. Akibatnya adalah terorisme karena memaknai jihad hanya dengan perang tanpa melihat konteks jihad yang sebenarnya. Bukankah ini fatal?

Dengan demikian, supaya para dai dan mubaligh tidak terasing dari agamanya dan dari apa yang ia sampaikan, maka lebih dulu harus melalui tahap ta’lim, belajar dulu baru menyampaikan. Sebab, para penyiar agama yang berada dalam ruang ejawantah yang dangkal tentang agama, apabila memaksakan diri untuk berdakwah akan membawa akibat buruk. Dampak paling dikhawatirkan adalah menyesatkan para jamaahnya.

Baca Juga:  Keteguhan Iman dan Kekuatan Cinta Bilal terhadap Rasul

 

Bagikan Artikel ini:

About Nurfati Maulida

Avatar of Nurfati Maulida

Check Also

hilangnya Hajar Aswad

Kisah Hilangnya Hajar Aswad di Musim Haji

Pada tahun 317 H Abu Thahir Sulaiman, pemimpin gerakan Qaramithah, memberontak terhadap kepemimpinan Khilafah Dinasti …

bersetebuh dengan hewan

Kisah Ahli Ibadah Bersetubuh dengan Hewan

Beberapa hari yang lalu viral berita seorang laki-laki yang menikah dengan kambing. Prosesi pernikahan berlangsung …