Menko PMK Muhadjir Effendy
Menko PMK Muhadjir Effendy

Dai Harus Miliki Kemampuan ‘Berperang’ Melawan Konflik di Dunia Maya

Jakarta – Kemajuan teknologi informasi membuat dunia komunikasi menjadi semakin canggih. Semua hal tentang kehidupan manusia sekarang menjadi sangat mudah dilakukan berkat internet dan berbagai teknologi di dunia maya.

Salah satunya berdakwah. Kalau dulu orang berdakwah secara konvensional melalui mimbar-mimbar masjid atau tabligh akbar, kini pendakwah atau dai cukup berdakwah di dunia maya melalui berbagai plaftform media sosial. Bahkan dibandingkan dakwan konvensional yang maksimal diikuti ratusan atau mungkin ribuan orang dan hanya masyarakat lokal, dakwah di dunia maya bisa menyebar ke seluruh dunia dengan jutaan pemirsa.

Hal itulah yang harus diperhatikan para dai. Artinya, dai harus belajar dan bisa berdakwah di dunia maya. Itu penting karena tantangan berdakwah di dunia maya sangat besar terutama menyikapi banyaknya konflik di dunia maya.

“Dai harus memiliki kemampuan ‘berperang’ melawan konflik di dunia maya,” ujar Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy saat menjadi narasumber Peluncuran 1.000 Dai Agen Perdamaian Lembaga Dakwah Khusus (LDK) Muhammadiyah Jawa Timur secara virtual, Minggu (5/9/2021).

Muhadjir menambahkan, para dai memiliki peranan penting dalam mewujudkan perdamaian bangsa. Namun dia meminta, para dai harus proaktif terhadap perubahan yang terjadi termasuk dalam konsep berdakwah.

“Seiring perkembangan iptek terutama teknologi informasi, medan dakwah kita semakin kompleks dan terjal. Tentu saja banyak piranti atau bekal yang diperlukan, salah satu yang harus dikuasai oleh mubaligh era sekarang adalah penguasaan dalam bidang IT,” tutur Muhadjir.

Ia menjelaskan, medan dakwah yang sekarang ini tidak kalah rumit yang harus dihadapi oleh para dai adalah medan virtual atau dunia maya. Menurutnya, yang namanya konflik saat ini lebih bersifat asimetris.

Baca Juga:  Plang Muhammadiyah di Banyuwangi Diturunkan Paksa Dengan Alasan Kondusivitas

“Sekarang untuk berkonflik bukan lagi menghitung kekuatan-kekuatan yang sifatnya fisikal tetapi justru kekuatan-kekuatan yang berbasis pengetahuan, berbasis teknologi terutama teknologi IT. Dengan fenomena industri 4.0, itu mutlak harus dikuasai oleh pada dai-dai Muhammadiyah,” ungkap mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini.

Ia mengutarakan, piranti IT yang harus dikuasai oleh para dai antara lain tentang virtual reality, kemampuan memperagakan reality dan mengoperasikan internet, serta harus mampu memproduksi konten-konten di berbagai platform media sosial dan media online.

Terlebih, lanjut Muhadjir, yang harus dipahami ialah banyaknya musuh-musuh yang harus diperangi dalam mewujudkan perdamaian melalui dunia maya. Lawan yang paling berbahaya misalnya seperti ujaran kebencian, hasutan, hingga caci maki, dan pembunuhan karakter.

“Hal-hal inilah yang tentu saja harus dimiliki oleh semua dai, bukan hanya dai Muhammadiyah khususnya dai yang akan fokus pada dakwah perdamaian,” tegasnya.

Di samping itu, para dai juga harus memiliki karakter seperti rendah hati, tidak meladeni orang-orang jahil yang dapat membunuh karakter terutama dengan fenomena media sosial yang sangat ganas.

Muhadjir mengutip surat al-Furqon ayat 63 yang artinya ‘’Hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih adalah mereka yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang yang bodoh mengejek, mereka menjawab dengan salam.’’

Oleh karena itu, Muhadjir mengajak penguatan spiritual dengan bermunajat di malam hari untuk mendapatkan kekuatan dari Allah Ta’ala.

“Yang terakhir yaitu berinfak. Tapi sebelum itu, saya minta dai-dai Muhammadiyah harus menguasai berbagai macam bisnis. Jadilah dai Muhammadiyah yang memiliki usaha-usaha mandiri yang sekarang sudah berkembang sedemikian rupa untuk menjadi start up yang bisa digunakan untuk menjadi sumber penghasilan,” urainya.

Baca Juga:  MUI Ungkap Sejumlah Buku Terorisme Dari Timur Tengah Tersebar Bebas di Internet

Di akhir paparannya, Muhadjir menyampaikan pepatah Yunani, “Primum manducare, diende philosophari”. Artinya kenyangi perut dulu baru berpikir, kenyangi dulu perutmu baru berdakwah.

“Jangan sampai berdakwah dalam keadaan lapar. Karena orang yang lapar isi dakwahnya akan penuh dengan kemarahan,’’ tandas Menko PMK.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

buya syafii maarif

Mengenang Buya Syafii Maarif : Tokoh Sederhana yang Teguh Memegang Prinsip Keislaman, Kebangsaan dan Kemanusiaan

Sejatinya, teramat sulit untuk menuliskan judul tentang sosok inspiratif Buya Syafii Maarif. Bukan karena kekurangan …

akhlak karimah

Khutbah Jumat – Menyelamatkan Generasi Muda Dari Virus Radikalisme

Khutbah I اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ …