Dakwah Era Virtual
Dakwah Era Virtual

Dakwah Era Virtual

“Jalan Dakwah di Media Sosial dan Penguatan Literasi Pesantren” merupakan salah satu tema rangkaian kegiatan Pra Halaqoh Perempuan Ulama III 2020 yang digawangi oleh Pusat Studi Pesantren (Center for Pesantren Studies). Acara yang berlangsung pada Senin, 22 juni 2020 secara zoom meeting dengan peserta yang sangat terbatas ini (20 peserta nawaning) menginisiasikan upaya merebut ruang media social (medsos) dalam mengaktualisasikan syiar Islam secara rahmatan lilalamin. Media sosial sebagai salah satu sarana yang saat ini sangat mudah diakses dan dijangkau semua kalangan menjadi satu target yang harus dikuasai oleh kita khususnya insan pesantren. Background keilmuan pesantren yang bersifat moderat,  harus dapat menuangkan kreatifitas dan melakukan kolaborasi dengan trend yang ada.

Pusat Studi Pesantren (PSP) yang berdiri pada tahun 2007 ini bertujuan untuk menumbuhkan ukhuwah di antara umat Islam, sebagai sarana komunikasi (khususnya untuk insan pesantren) dan untuk menumbuhkan nilai-nilai humanisme di bumi nusantara.  Achmad Ubaidillah al Bantany selaku pendiri PSP dalam pra kata acara menuturkan bahwa insan pesantren (santri) harus mampu menumbuhkan gerakan suara pesantren dengan memanfaatkan teknologi digital untuk mendiseminasikan ajaran Islam yang rahmah melalui publikasi gagasan-gagasan yang lahir dari rahim pesantren.

Menghadirkan insan-insan yang berkompeten di bidangnya, ibu nyai Anisah Masykur, ning Nayla Mafazah dan ning Nisaul Kamilah, menginspirasi kita semua untuk bersama-sama menumbuhkembangkan tradisi berliterasi sebagai bekal dakwah. Ibu nyai Anisah Masykur salah seorang anggota Banggar DPR-RI asal Pesantren Raudlatul Ma’ruf Bangil dengan mengutip prosentase pengguna medsos sebagai media berbasis website di Indonesia terinci 2 milyar pengguna WA  dan menduduki level ke 4 sedunia pengguna FB dan Instagram sangat mensupport insan pesantren untuk memanfaatkan dan mengambil peran di dalamnya. Membangun komunikasi persuasive menjadi keharusan untuk bisa menarik dan merangkul follower pengguna medsos. Komunikasi persuasive yang dimaksud tentunya merujuk pada QS. An Nahl: 125, yaitu mengajak berislam secara santun, bijaksana, simple, menarik, tidak mengandung unsur provokatif dan hate speech  dengan memahami objek dakwah.

Baca Juga:  Islam Selalu Memberi Kemudahan, Tetapi Tidak untuk Kemaksiatan

Sementara itu ning Nayla Mafazah dari PP Darul Ulum Peterongan Jombang dan ning Nisaul Kamilah, pegiat literasi asal PP Sabiluth Thoyyib Pasuruan dengan semangat mudanya menyuntikkan virus positif kepada peserta untuk bangun dari keterlenaan bermedsos tanpa kontribusi nyata. Santri tidak hanya memanfaatkan medsos sebagai ajang mencari teman dan komunitas ansich. Santri harus belajar mengembangkan skill dan ilmunya. Diawali dengan menyajikan konten yang ringan tapi berbobot juga menjadi prioritas ketika santri siap mengisi ruang medsos. Kreatifitas santri mesti diasah agar “pesan” yang ingin disampaikan pada public tidak monoton dan terkesan klasik, ungkap ning Nayla.  

Dalam paparannya, Ning Nisa menyebutkan bahwa ada beberapa hal yang memengaruhi minat literasi pesantren antara lain bakat (missal melakukan sebaran angket kepada santri untuk mengetahui sejauhmana tingkat ketertarikannya pada dunia literasi), stimulus dan sugesti dari ustad/ustadzah atau pengurus (adanya pendampingan atau menghadirkan secara khusus dan berkala tutorial literasi pada yang berkompeten), fasilitas/sarana (ketersediaan buku bacaan) dan mendelegasikan santri untuk mengikuti kompetisi. Jika dalam suatu pesantren mampu memenuhi point tersebut maka tidak ada alasan lagi untuk tidak mampu melahirkan penulis-penulis yang produktif dan bertanggungjawab.

Pondok pesantren selain sebagai lembaga pendidikan juga sebagai media syiar (dakwah) indigenous khas Indonesia ketika dihadapkan pada situasi pandemic seperti saat ini merupakan berkah bagi dunia pesantren dimana para kyai, gawagis atau ustad akhirnya harus mengenal dan “bermesraan” dengan medsos yaitu melanjutkan pembelajaran/ pengajian secara online. Kyai yang mungkin selama ini hanya focus pada ngaji luring (luar jaringan) karana kondisi yang stabil kini harus tetap melakukan transmisi keilmuaannya dengan metode daring (dalam jaringan). Banyak kita jumpai para kyai dan gawagis yang secara online melakukan jalan tengah ini sebagai alternative yang fleksible. Tentunya pilihan ini menjadi sangat solutif  dan berdampak positif ketika rutinitas ngaji daring secara online atau melalui youtube secara shareable dapat dinikmati oleh insan-insan di luar pesantren.

Baca Juga:  Menjamurnya Para Juru Dakwah karena Hadist : Sampaikan Dariku Walau Satu Ayat?

Nah berbeda dengan apa yang sudah dilakukan para kyai, gawagis, ustad bahkan santri putra, bagi nyai dan nawawing rupanya belum mengambil langkah konkret itu. Beberapa Nyai atau ustadzah yang muncul di medsos (sangat sedikit sekali, sebut saja mamah Dedeh, OSD dsb,) merupakan daiyah yang notabene bukan bagian dari reperesentasi dunia pesantren. Padahal, sejatinya para nyai dan nawawing bisa mengawali tampil di medsos sebagai role models bagi santri-santrinya. Minimnya nyai dan nawaning terjun di jalur multi media ini cukup menggelitik dalam intermezzo nakal penulis. Seorang santri meskipun sudah dibekali penguatan literasi dan retorika tetapi ketika tidak punya role model dari sosok nyai atau nawaning maka menjadi stagn. Stagnasi ini semata (bisa jadi) karena konsep sungkan, pakewuh dan tidak mau mendahului beliau-beliau masih tertanam dalam mindset santri. Sekali lagi, janganjangan

Diskusi daring 2 jam tersebut merekomendasikan perlunya koreksi bersama kesiapan internal kita. Bagaimana merangsang kemampuan dan kemauan  berliterasi dan beretorika di multi media, membuat tim dan konsep. Diakui, kita cukup tertinggal dalam bidang ini dibanding dengan kaum hijrah yang sangat populis dan mudah dikenal oleh seluruh kalangan masyarakat. Tetapi, dengan nawaitu menyebar ilmu dan bersyi’ar tentu tidak ada kata terlambat. Insan pesantren harus mampu membranding diri, dengan modal ilmu, pengetahuan dan performance yang santun dan tawadlu’ niscaya akan diterima semua kalangan. Santri harus berkontribusi menciptakan trend dakwah sesuai kebutuhan masyarakat dengan menonjolkan nilai-nilai kepesantrenan.  

Di penghujung acara, dalam closing statemennya ibu nyai Anisah Masykur mengajak santri menjadi pelopor perkembangan literasi dengan meningkatkan literasi positif, produktif dan manfaat. Ning Nisaul Kamilah pun mengajak peserta untuk memanfaatkan medsos dengan membuat konten-konten positif, bernas dan shareable yang bisa dipertanggungjawabkan. Sementara ning Nayla Mafazah memotifasi santri untuk tidak enggan memulai berselancar dengan medsos dalam hal positif. Akhir kalam, santri era milenial mesti piawai dengan 3 “ar”, mimbar, lembar dan layar.

Bagikan Artikel ini:

About S. Mahmudah Noorhayati