Dakwah Sunan Kudus
Dakwah Sunan Kudus

Dakwah yang Menghormati yang Berbeda, Pelajaran dari Sunan Kudus

Berbeda dengan wilayah lainnya, kota Kudus memiliki tradisi yang cukup unik ketika menjelang hari raya Idul Adha. Masjid-masjid di kudus hanya melayani penyembelihan kerbau dan kambing saja. Tidak ada prosesi penyembelihan sapi sebagaimana terjadi di daerah lain. Kenapa bisa begitu?

Konon, masyarakat tetap melestarikan tradisi yang diajarkan oleh Sunan Kudus. Tujuan Sunan Kudus tidak menyembelih sapi lantaran menghormati masyarakat Kudus yang saat itu masih banyak yang memeluk agama Hindu. Diketahui, sapi merupakan hewan yang disucikan oleh umat Hindu.

Tidak bisa dipungkiri masyarakat Nusantara sebelum mengenal Islam juga sudah memeluk agama yang beragam, termasuk salah satunya adalah agama Hindu. Tokoh pioneer islamisasi di Jawa dikenal Wali Songo. Salah satunya adalah Sunan Kudus.

Seperti para Sunan yang lainnya, corak dakwah Sunan Kudus tidak melakukan perlawanan frontal terhadap adat dan kebiasaan masyarakat yang masi lekat di sana. Termasuk yang sangat menarik dari Sunan Kudus adalah dakwah yang tetap menghormati keyakinan lama masyarakat.

Sunan Kudus memilih untuk menyebarkan Islam dengan cara menghormati agama yang banyak dianut oleh masyarakat di sana. Salah satu caranya adalah dengan tidak menyembelih sapi yang di puja oleh umat hindu kala itu. Bukankah tidak masalah dengan menyembelih bukan sapi? Apakah kurban harus dengan sapi? Jika memang tidak harus memilih menghormati perbedaan dan merawat kerukunan agar Islam juga bisa diterima dengan cepat adalah pilihan yang rasional dan arif.

Dalam banyak perayaan Sunan Kudus tidak pernah menyembelih sapi karena Beliau takut akan melukai hati pemeluk Hindu saat itu, dan sebagai ganti sapi, Sunan Kudus memilih untuk menyembelih kerbau sebagai gantinya. Mengorbankan keragaman dan kerukunan dengan ajaran yang sebenarnya tidak kaku harus dipertimbangkan.

Baca Juga:  Selain Wujud Bakti, Inilah Manfaat Ziarah kepada Orang Tua

Dalam sebuah cerita mengisahkan bahwa, dahulu ketika Sunan Kudus melakukan perjalanan, beliau pun erah merasakan dahaga. Namun sayangnya air yang dibawanya sebagai bekal telah habis di perjalanan. Lantas seorang pendeta Hindu melihat beliau kehausan dan memberikan air susu sapi yang baru saja di perasnya.

Maka sebagai rasa terima kasih Sunan Kudus, masyarakat di Kudus dilarang menyembelih binatang sapi. Jadi bisa dianggap bahwa pelarangan ini merupakan bentuk peghormatan toleransi dalam beragama. Sikap saling menghormati inilah yang membuat Islam dan Hindu mampu hidup di tempat yang sama tanpa ada perpecahan di dalamnya.

Sunan Kudus terkenal dengan ulama yang kokoh dalam memegang teguh prinsip yang di pegangnya. Beliau juga merupakan panglima perang dan ahli dalam berpolitik. Meski begitu beliau juga merupakan ulama dengan tingkat toleransi tinggi dengan tidak menyembelih sapi untuk menghormati Kiai Telingsing, salah seorang pengikut Sunan Kudus yang semula beragama Hindu.

Islam merupakan agama rahmatan lil ’alamin (rahmat bagi semesta alam). Umat Islam hendaknya mampu meniru lebah, ia tidak pernah merusak atau menghancurkan bunga yang diisapnya. Justru karena lebah, bunga mampu mekar dengan indahnya karena sang lebah.

Begitu pun seharusnya dengan Islam. Islam membawa nilai dan pesan yang bisa masuk kemanapun ia tinggal. Islam merawat bukan merusak. Dan Islam menyatukan masyarakat bukan memecah belah masyarakat. Itulah metode dakwah yang arif yang ditampilkan oleh penyebar dan da’i di masa lalu yang semestinya tetap menjadi paradigma berdakwah di nusantara yang plural saat ini.

Hingga sekarang, ajaran dan metode dakwah Sunan Kudus masih dianut oleh sebagian masyarakat Kudus. Sunan Kudus ingin setiap pemeluk agama bergandengan tangan membangun kesucian dengan keyakinan dengan cara masing-masing. Agama justru menguatkan kerukunan bukan merusak kerukunan.

Baca Juga:  Khaled Abou El-Fadl dan Pemikirannya tentang Otoritas Fatwa Ulama

 

Bagikan Artikel

About Imam Santoso

Avatar