mudik di tengah pandemi
mudik di tengah pandemi

Dilarang Mudik? Jangan Bersedih, Ini Cara Silaturahmi Saat Idul Fitri

Tradisi mudik di tanah air menjadi istimewa. Tidak hanya menjadi media pelepas kangen bareng orang tua dan keluarga. Lebih dari itu, tradisi ini menjadi ejawantah ajaran silaturahmi yang mendapat perhatian serius dari Nabi. Sampai-sampai beliau mensejajarkan orang yang memutus silaturahmi dengan pengrusak di muka bumi.

Tetapi, saat ini, disaat Pandemi Corona masih berlangsung dengan hebatnya, tradisi mudik yang menjadi ciri khas masyarakat Islam Nusantara harus ditiadakan. Silaturahmi langsung bertemu keluarga dan sanak kadang pupus.

Namun demikian, Islam adalah agama yang hukum dan aturannya sangat elastis. Formulanya selalu “Shalihun Li Kulli Zaman wa Makan”, senantiasa berkesesuaian dengan lingkup situasi dan kondisi. Silaturahmi demikian juga, pasti ada jalan lain meskipun tidak bertemu dengan saling tatap wajah.

Kuatnya anjuran agama terhadap silaturahmi disampaikan oleh al Qur’an, salah satunya pada QS. Muhammad: 22-23 yang menyebut pemutus silaturahmi setara dengan orang yang membuat kerusakan di muka bumi, dan surat al Ra’du: 21 yang menyebut orang yang senang silaturahmi dengan predikat Ulul Albab. 

Penegasan lebih lanjut disampaikan oleh Nabi, “Dosa yang dipercepat dengan hukuman di dunia dan di akhirat pula adalah dosa pemutusan silaturahmi”. (HR. Baihaqi).

Ayat dan hadis ini begitu mengesankan pentingnya silaturahmi bagi umat Islam. Ada banyak sekali manfaat dan berkahnya.

Nabi bersabda, “Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu bersalaman, kecuali keduanya diampuni dosanya sebelum keduanya berpisah”. (HR. Abu Daud).

Tetapi, sebagaimana dikatakan sebelumnya, di masa Pandemi Corona tentu harus mengambil bentuk yang lain, tidak harus bertatap wajah dan saling kunjung mengunjungi.

Adakah Cara Silaturahmi ?

Imam Zakaria dalam Asnal Mathalib (II, 486) menjelaskan, perintah silaturahmi bisa dilakukan dengan ragam cara.  Dengan cara apa saja yang penting dianggap menyambung silaturahmi bukan memutus. Seperti dengan memberi harta (mentransfer uang), membantu kebutuhannya, mengunjungi, via surat, saling berkirim salam dan sebagainya.

Baca Juga:  Ustad Medsos dan Keterampilan Baca Qur’an di Bawah Standar Anak Desa

Dari sini bisa dipahami, tidak mudik Idul Fitri bukan berarti memupus sama sekali silaturahmi. Bisa memilih salah satu alternatif silaturahmi yang disampaikan oleh Imam Zakaria. Dengan kecanggihan teknologi seperti saat ini tentu saja silaturrahmi menjadi sangat beragam dan mudah. Bahkan teknologi menjembatani jarak bukan sebagai penghalang.

Ragam silaturrahmi dengan bantuan teknologi ini menjadi alternatif bagi mereka yang belum bisa mudik tahun ini demi menjaga mashlahah yang lebih besar. Mudik dengan semangat silaturrahmi adalah kebaikan yang menjadi tradisi. Namun, menjaga kesehatan di tengah pandemi adalah kewajiban seluruh warga. Karena itulah, pilihan tidak mudik adalah bagian menjalankan kepatuhan terhadap pemimpin dan kepatuhan diri untuk menjaga kemashlahatan bersama.

Memang, rasanya kurang sempurna silaturahmi Idul Fitri tanpa mudik. Namun karena untuk keselamatan jiwa kita sendiri, keluarga, sanak kadang dan handai taulan, larangan mudik harus dipatuhi. Namun yakinlah, silaturahmi yang menyimpan sejuta manfaat dan keutamaan tetap bisa kita gapai dengan salah satu cara yang dijelaskan oleh Imam Zakaria di atas.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

mc perempuan

Kasus MC Perempuan dan Sikap Islam Terhadap Kesetaraan Gender

Belum lama berlalu, media ramai membicarakan kasus MC perempuan di Bali yang diwajibkan melakoni pekerjaannya …

anal seks

Fikih Berbicara Anal Seks

Ramai publik membicarakan hubungan ranjang yang abnormal dan tidak semestinya. Ya, anal seks lagi hebohnya …