Dzikir adalah bentuk ibadah mulia yang sangat dianjurkan di mana pun dan kapan pun, termasuk yang dianjurkan setelah shalat lima waktu. Dzikir merupakan bentuk pengingat sekaligus kecintaan kita kepada Allah. Ciri orang cinta kepada sesuatu, kata Rasulullah, akan banyak menyebut namanya.
Tidak ada diragukan dan diperdebatkan lagi bahwa dzikir setelah shalat itu memang dianjurkan. Dari pada setelah salam langsung berhamburan keluar, manfaatkan lah dzikir kepada Allah. Selain itu, menurut Rasulullah waktu setelah shalat merupakan salah satu waktu di mana doa paling banyak didengar oleh Allah.
Lantas dzikir seperti apa yang bisa dilakukan? Banyak sekali Riwayat yang memberitakan macam-macam dzikir yang bisa dibaca setelah shalat. Salah satu dzikir yang bisa dibaca adalah kalimat-kalimat yang paling disukai oleh Allah.
Dalam sebuah Riwayat Muslim Rasulullah bersabda : “Kalimat yang paling disukai Allah ada empat, tidak ada masalah dari kalimat mana saja engkau memulainya; Subḥānallāh (Mahasuci Allah), Alḥamdulillāh (segala puji hanya milik Allah), Lā ilāha illallāh (Tidak ada Tuhan selain Allah), dan Allāhu Akbar (Allah Mahabesar).”
Memperbanyak dzikir dengan kalimat di atas setelah shalat adalah bukti seseorang terus mendekatkan diri kepada Allah. Memang dalam hadist ini tidak disebutkan berapa dan kapan harus dibaca. Kapan pun umat Islam dapat memperbanyak dzikir di atas.
Namun, dalam hadist yang lain Rasulullah memberikan panduan yang lebih spesifik membaca dizkir tersebut setelah shalat. Misalnya, dalam sebuah hadist : Dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa bertasbih (membaca subḥānallāh) sebanyak tiga puluh tiga kali, bertahmid (membaca alḥamdulillāh) sebanyak tiga puluh tiga kali dan bertakbir (membaca allāhu akbar) sebanyak tiga puluh tiga kali setiap sesudah salat, semuanya berjumlah sembilan puluh sembilan, kemudian menyempurnakannya seratus dengan berzikir: Lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lahu, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa ‘alā kulli syai-in qadīr (Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, semua kerajaan dan segala pujian hanyalah milik-Nya dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu), maka akan diampuni dosa-dosanya, walaupun sebanyak buih di lautan.”
Hadist ini memberikan panduan yang lebih jelas tentang bagaimana melaksanakan dzikir yang sangat disukai Allah tersebut. Salah satu manfaat dari dzikir setelah shalat tersebut adalah diampuni dosa-dosa kita sebanyak apapun. Tentu dzikir yang disertai dengan kekhusukan dan mendekatkan diri kepada Allah.
Pertanyaan yang sering muncul dan masih menjadi khilafiyah adalah apakah boleh dzikir di atas dibaca secara berjamaah atau sendirian? Persoalan ini adalah sudah menjadi perdebatan klasik di kalangan ulama salaf hingga hari ini.
Perdebatan muncul karena alasan tidak ditemukan dalil Rasulullah dan para Sahabat melaksanakan dzikir secara berjamaah setelah shalat. Namun, dalam sebuah hadist lain Nabi justru memuji orang yang dikir berjamaah dengan para malaikat mengelilingi mereka, rahmat menyelimuti mereka, dan ketenangan turun di hati mereka, dan Allah menyebut (memuji) mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.
Menurut hemat penulis, tidak usah dibesar-besarkan perbedaan itu yang penting bagaimana kita membiasakan dizkir setelah shalat baik berjamaah atau pun sendiri. Para ulama salaf pun telah memberikan panduan bisa dilakukan secara berjamaah, seperti imam Syafii, yang menganjurkan dikeraskan sebatas jamaah mendengar untuk mendidik para jamaah berdzikir.
Di tengah budaya saat ini di mana dzikir mulai banyak ditinggalkan dan anak-anak serta remaja sudah tidak mengenal dzikir, sangat penting membiasakan membaca dzikir secara berjamaah setelah shalat. Di samping sebagai bentuk dzikir untuk Allah, selain itu dzikir berjamaah setelah shalat mampu mendidik dan memberikan syiar agama bagi umat Islam.
Islam Kaffah Media Pembelajaran Islam Secara Kaffah