Menghapus Ideologi ISIS Tak Seperti Menghapus Virus Corona

0
1449

Jakarta – Pro dan kontra masih mengiringi rencana pemulangan warga negara Indonesia (WNI) eks kombatan kelompok radikal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang sekarang berada di kamp-kamp pengungsian di Suriah. Presiden Joko Widodo pun telah mengutarakan pendapatnya tentang masalah ini. Bahkan secara pribadi, Presiden menegaskan tidak setuju dengan rencana tersebut.

Menanggapi hal ini, pengamat militer dan intelijen, Connie Rahakundini mengaku sependapat dengan sikap Presiden Joko Widodo. Ia khawatir kepulangan WNI mantan pendukung ISIS ini  justru akan menimbulkan masalah di Tanah Air.

“Mereka telah terpapar virus berupa ideologi ISIS. Untuk menghapus ideologi itu tidak bisa seperti menghapus virus Corona,” ujar Connie dikutip dari laman sindonews.com, Kamis (6/2/2020).

Connie menyebut, dulu saat pergi dari Indonesia, eks kombatan ISIS itu dengan bangga membakar paspor RI, yang mereka bilang negara thogut.

“Lalu untuk apa kita terima mereka kembali tanpa mereka minta mengajukan lagi menjadi WNI,” ujar Connie.

Kalau pun nantinya mereka tetap dipulangkan, Connie menyarankan agar mereka dikarantina di pulau terluar setidaknya selama lima tahun. Selanjutnya selama lima tahun itu, mereka dievaluasi setiap enam bulan.

“lLangkah tersebut harus dilakukan terhadap mereka karena telah memiliki ideologi yang tidak sesuai dengan NKRI dan Pancasila,” tukasnya.

Connie menambahkan selama di karantina, para kombatan ISIS juga harus dididik dan diberikan pemahaman yang kuat tentang ideologi negara. Selain itu, hak-hak politik mereka juga harus dihilangkan.

Sebelumnya, Presiden Jokowi menyatakan, wacana pemulangan 600 WNI eks ISIS belum dibahas dan diputuskan dalam rapat terbatas dengan sejumlah menteri dan kepala lembaga terkait. Namun secara pribadi, Jokowi menolak memulangkan eks kombatan ISIS tersebut.