Menimbang Mudharat Terorisme Pasca Kepulangan WNI Eks ISIS dalam Kacamata Fikih

0
904
WNI eks ISIS

Kepulangan WNI eks ISIS masih menorehkan trauma historis yang cukup mendalam. Kelompok yang tidak setuju dengan agenda pemulangan WNI tersebut, tentu tidak bisa disalahkan.

Sepekan ini, ribut-ribut soal rencana pemulangan WNI eks ISIS hingga kini masih belum mereda. Beragam perspekstif dan analisa bermunculan. Bahkan, Kementerian Agama pun harus membuat bantahan atas kabar yang beredar di masyarakat. Tidak benar Menteri Agama Fachrul Razi mendukung rencana pemulangan 600 warga negara Indonesia (WNI) eks kelompok teroris Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

ISIS identik dengan terorisme. Namanya makin mengorbit saat diisukan akan membumihanguskan Ka’bah. Hampir semua Negara Islam mengutuk keras atas aksi terror yang pernah dIlakukan oleh ISIS. Sebagai Muslim, tentu kita bertanya Tanya bagaimana pandangan Islam terhadap aksi terorisme? Dan bagaimana akibatnya, bila eks WNI ISIS pulang ke Indonesia?

Terorisme bermuasal dari kata terror (latin) yang berarti menciptakan kengerian. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) teror itu adalah usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Pengertian resmi tentang terorisme dapat dilihat dalam UU Nomor 8 Tahun 2018 bahwa Terorisme adalah perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas, yang dapat menimbulkan korban yang bersifat massal, dan/atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek vital yang strategis, Iingkungan hidup, fasilitas publik, atau fasilitas internasional dengan motif ideologi, politik, atau gangguan keamanan.

Jika terorisme dipahami dengan standar pengertian diatas, maka cakupan terorisme sangat luas. Terorisme bisa saja hanya melulu berwujud gertakan, atau ancaman belaka, tanpa ada aksi yang membahayakan. Akan tetapi terorisme bisa berwujud keduanya, gertakan sekaligus tindakan, ancaman sekaligus tikaman. Bahkan ada juga yang langsung dilakukan dengan aksi kekerasan tanpa harus ada ancaman terlebih dahulu.

Lalu bagimana pandangan Islam terhadap aksi terorisme ini? Dalam bahasa Arab, teror dibahasakan dengan istilah irhab. Namun, soal terorisme ini belum pernah dirumuskan dalam fikih jinayah, oleh karena itu, perlu dikonseptualisasikan soal terorisme.

Jika menalar rekam jejak ISIS dengan segala bentuk terornya, sebenarnya, aksi terorisme berada di luar jalur nilai nilai keislaman. Kenapa? Sebab, semenjak dini, Islam memproklamirkan diri sebagai agama yang santun dan damai (rahmatan lil alamin).

Hukuman Terorisme dalam Fikih Jinayah

Dalam konteks fikih jinayah, terorisme dapat dikategorikan dalam khirabah. Yaitu, sebuah aksi yang mengancam keselamatan harta dan jiwa . konsep khirabah ini berpijak pada firman Allah:

إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Artinya: Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (QS: al-Maidah:33).

Ibnu ‘Athiyyah mengutip pendapat Ibnu Abbas dan Dahhak, mengatakan bahwa alur narasi ayat tersebut mengarah pada segala bentuk aksi kerusakan di bumi (kriminal). Secara tersirat terorisme tercakup secara implisit dalam ayat ini (Al-Muharra al-Wajiz, 2/279). Menurut mereka seorang imam atau hakim (pemerintah) memiliki hak otoritatif penuh untuk mengambil sikap penolakan terhadap hidup bersama dalam sebuah daerah dengan para pembuat kerusakan di bumi (Al-Asas fi al-tafsir, 3/1362-1363).

Namun Abd Rahman Ibn Nashir al-Sa’di memilih interpretasi berbeda, menurutnya, ayat ini mengacu kepada aksi begal (qathi’ al-tahariq) (Taysir al-karim al-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannan, 1/229).

Melihat kriminalitas yang dilakukan qathi’ al-thariq (begal, perampok), maka qathi’ al-thariq terbagi menjadi empat macam. Pertama, hanya melakukan teror tanpa disertai tindakan pembunuhan dan perampasan harta, semua ulama’ sepakat pelakunya diisolasi dari tempat domisilinya. Kedua, melakukan teror pembunuhan. Ulama’ sepakat, hukuman mati bagi pelakunya. Ketiga, melakukan aksi perampasan harta saja tanpa tindakan pembunuhan. Ulama’ sepakat, hukumannya adalah potong tangan. Keempat, melakukan aksi perampasan harta dan pembunuhan. Menurut Imam Syafii dan Ahmad Ibn Hanbal, hukumannya adalah hukuman mati kemudian disalib, tujuannya agar membuat efek jera bagi orang lain. Namun menurut Ibnu abbas, Imam Nakha’I dan Imam Atha’, hukumannya adalah hukuman potong tangan. Berbeda dengan Imam Abu Hanifah, menurutnya, hukumannya adalah hukuman ta’zir (hukuman berdasarkan kebijakan pemerintah dengan undang undang yang berlaku) (Al-Tasyri’ al-Jinai al-Islamiy1/656-660).

Bagaimana dengan WNI Eks ISIS?

Mengacu kepada poin pertama, maka bisa jadi di antara mereka Eks WNI ISIS hanya melakukan teror tanpa disertai tindakan pembunuhan dan perampasan harta. Dalam konteks itulah, isolasi adalah sebuah pilihan agar tidak menimbulkan kerusakan bagi yang lain. Artinya, sudah selayaknyalah mereka tidak diterima kembali untuk hidup di bumi Indonesia.

Dari data fatwa para ulama di atas, sebagai tolok ukur pemahaman keislaman, bisa ditarik benang merah, bahwa terorisme dapat digolongkan pada khirabah atau mufsid fi al-ardh. Bila konklusi ini diterima, maka jelas terorisme bertentangan dengan norma agama dan hukumnya haram.

Kepulangan WNI eks ISIS masih menorehkan trauma historis yang cukup mendalam. Kelompok yang tidak setuju dengan agenda pemulangan WNI tersebut, tidak bisa disalahkan. Artinya, sangat logis keberatan mereka. Karena mereka khawatir terorisme semakin berkecambah di Indonesia.

Terorisme di negeri ini belum tuntas teratasi, apalagi ditambah mengimpor benihnya, pasti makin terbengkalai saja penangannya. Terorisme sejatinya bukan sekedar aksi, tetapi juga mengandung ideologi. Hidup senegara dengan mereka, tentunya akan memberikan efek penularan ideologi yang mengancam kepada kedamaian Indonesia.

Sesuai sabda nabi Muhammad:

إِيَّاكَ وقَرِينَ السُّوءِ فإِنَّك به تُعْرَفُ

Dari Ibnu ‘Asakir, dari Anas ra. Waspadalah terhadap teman yang buruk, karena engkau akan dikenali (sebagai orang yang buruk pula) dengan adanya teman tersebut. (al-Fath al-Kabir, Jalaluddin al-Suyuthi, 1/451).  

Ideologi yang tertanam kuat dalam hati dan keyakinan, akan sulit dilupakan. Ia akan terus menjadi benih yang tinggal menunggu dan mencari lahan subur untuk tumbuhnya. Kemungkinan, besar, kepulangan eks WNI ISIS yang diwacanakan adalah modus baru setelah sekian banyak aksi mereka tak membuahkan hasil yang maksimal.

Menerima kembali kehadiran mereka, ibarat sebuah petasan yang tinggal menunggu waktu untuk menyulutnya. Afala tatafakkarun.