Berjihadlah dengan Tulisan

0
922
jihad dengan tulisan

Imam Al-Ghazali berkata : “Setetes tinta ulama lebih berat timbangannya di sisi Allah daripada darah ribuan para syuhada’ yang meninggal di medan perang.”

Bila menyimak ayat al Qur’an yang turun pertama kali, ada dua poin penting yang berkait erat dan tak terpisah, yakni, iqra’ dan qalam. Iqra’ berarti membaca, sedangkan qalam bermakna menulis. Pemahaman yang bisa diambil dari dua poin tersebut adalah seruan literasi melalui baca tulis untuk umat Islam.

Membaca berarti mentransfer pengetahuan, sedangkan menulis merupakan kegiatan membukukan pengetahuan. Dalam sejarah Islam, praktik ini terbukti menjadi penyumbang besar terhadap kemajuan peradaban Islam. Baitul Hikmah adalah contoh kongkrit penerapan iqra’ dan qalam, sebagai perpustakaan yang menjadi pusat kegiatan membaca sekaligus biro penerjemahan dan tempat kumpulnya cendikiawan dan intelektual yang aktif melakukan eksperimen-eksperimen ilmiah.

Proyek terbesar Baitul Hikmah kala itu adalah penerjemahan dari bahasa Sansekerta dan Yunani ke bahasa Arab. Berbagai disiplin ilmu yang digarap oleh mega proyek penterjemahan tersebut meliputi filsafat, astronomi dan kedokteran dan cabang ilmu lainnya. Karya-karya dari Plato, Aristoteles, Hippokrates, Euklides dan lainnya diterjemah ke dalam bahasa Arab.

Soal ilmu keislaman jangan disoal, karena sudah menjadi menu saji tiap saat dan waktu. Proses membaca dan menulis seperti ini yang membawa kemajuan peradaban Islam sampai ke puncak.

Seperti itulah terjemahan kongkrit firman Allah, “Bacalah” dan dilanjutkan dengan “Yang mengajari makhluk Nya menulis dengan pena, Mengajari manusia apa yang belum diketahuinya, dan memindahkannya dari kegelapan kebodohan menuju cahaya ilmu”.

Pada era digital ini, menulis bisa bernilai ibadah. Transformasi ilmu agama akan lebih efektif. Karena dengan tulisan, melalui media, jangkauannya lebih luas dibanding dakwah dengan lisan. Oleh karena, itu wajar jika ada istilah tinta ulama laksana darah para syuhada’. Nabi Muhammad  bersabda, “Ulama adalah pewaris Nabi” (HR. Abu Dawud)

Mayoritas ulama memandang bahwa cara yang sangat efektif untuk melanggengkan warisan ilmu dari Nabi supaya bisa sampai kepada ummatnya adalah dengan menulis. Menulis bagi para ulama menjadi wajib. Sehingga seperti yang bisa kita lihat saat ini, karya-karya mereka sangat banyak dan menjadi warisan sangat berharga bagi umat Islam. Sebagai contoh, Imam Syafi’I, Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Hanbali, Imam Al-Ghazali, Imam Nawawi Syekh Nawawi Banten, KH. Hasyim Asy’ari dan lain-lain yang telah mewariskan ratusan bahkan ribuan karya-karya untuk umat Islam.

Kitab-kitab atau tulisan mereka begitu banyak dan menjadi rujukan utama dalam Islam. Bisa kita bayangkan, seandainya para ulama tidak menulis kitab-kitab, maka generasi yang hidup saat tidak akan mengenal Islam secara komprehensif dan utuh. Tetapi berkat usaha dan kerja keras mereka, melalui karya-karya mereka baik dalam bidang ilmu al-Qur’an, Hadis, fiqih, tasawwuf, dan lain-lain, saat ini kita bisa mengenal Islam yang sesungguhnya.

Tinta Ulama Sama Nilainya dengan Darah Syuhada

Melihat fakta yang demikian, wajar kalau sampai ada ungkapan “Tinta seorang ulama nilainya sama, bahkan melampaui darah para syuhada’. Hal senada juga diungkapkan oleh Imam Al-Ghazali,“Setetes tinta ulama lebih berat timbangannya di sisi Allah daripada darah ribuan para syuhada’ yang meninggal di medan perang.”

Melihat kenyataan yang ada saat ini, selayaknya bagi umat Islam, ulama, kyai, ustad, mahasiswa, pelajar untuk melanjutkan estafet transformasi ilmu dengan mentradisikan menulis supaya keaslian ajaran Islam melalui tinta ulama-ulama bisa dipertahankan dan menjadi khazanah keilmuan untuk masa berikutnya. Imam Al-Ghazali berkata, “Jika kalian bukan anak seorang raja dan bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”.

Ungkapan Imam al Ghazali di atas mengandung makna yang sangat mendalam. Seorang penulis karyanya akan selalu terkenang dan abadi. Generasi setelah kita nanti akan menikmati hasilnya. Walaupun badan sudah berkalang tanah, namun karya tulis itu akan terus hidup sebagai ruh, semangat dalam mempelajari dan memahami agama Islam

Menyambung ungkapan Imam Ghazali, Imam Qurthubi dalam tafsirnya dengan menukil perkataan Qatadah berkata, “Menulis adalah nikmat termahal yang diberikan oleh Allah. Ia juga sebagai perantara untuk memahami sesuatu. Tanpanya agama tidak akan berdiri. Kehidupan menjadi tidak terarah.”

Maka bagi umat Islam yang diberi keahlian menulis oleh Allah, selayaknya untuk memenuhi media dengan tulisan sebagai penyambung lidah para ulama. Memberikan paham yang benar sesuai konsep Ahlussunnah Waljamaah. Menyebarkan Islam sesuai ajaran Rasulullah yang penuh nuansa kedamaian, kasih sayang dan hangatnya toleransi. Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Akhirnya, patut untuk kita renungkan secara mendalam sabda Nabi yang diriwayatkan Ibnu Abdul Barr, “Pada Hari Kiamat nanti, tinta para ulama berat timbangannya setara dengan darah para syuhada’”.