Dunia yang dilipat, sebuah judul buku yang ditulis oleh Yasraf Amir Piliang terbit pertama pada tahun 1998. Realitas dunia semakin ke sini semakin ‘mengkerut’. Dunia telah memasuki realitas baru yang tercipta akibat pemadatan, pemampatan, peringkasan, pengecilan, dan percepatan. Sehingga dunia seperti sebuah lipatan kecil yang bisa dijangkau dalam hitungan menit.

Makanan siap saji dalam hitungan menit dapat kita santap di rumah tanpa harus repot-repot datang ke warung. Menulis surat ke luar negeri yang dulu memakan waktu berbulan-bulan kini dapat diperpendek dalam hitungan detik via media online. Koleksi kitab dan buku yang membutuhkan berlipat-lipat rak buku dapat dimampatkan menjadi file yang bisa dibawa kemana-mana dalam laptop atau smart phone. Inilah realitas dunia yang menembus batas-batas kebudayaan yang tak terpikirkan, tak pernah terbayang.

Di era kecanggihan dunia yang dilipat ini kontak fisik tak lagi dibutuhkan saat melakukan transaksi. Transaksi dapat dilakukan oleh siapa saja dan di mana saja. Kaidah berikut merupakan respons saat kemajuan itu baru beranjak, yaitu dunia tulis menulis. Namun hingga saat ini tetap berkontribusi dalam merespons perkembangan zaman yang melaju secepat kilat. Kaidah itu berbunyi:

اَلْكِتَابُ كَالْخِطَابِ

(al-kitab kal khithab)

Artinya: “Tulisan sebanding dengan ucapan.”

Maksud kaidah ini bahwa sebuah tulisan dari orang yang saling berjauhan (tidak sedang di tempat, ghaib) berstatus hukum sama dengan ucapan dari orang yang sedang bertatap muka (mukhathab). Karena tulisan merupakan salah satu bentuk ekspresi ungkapan penulisnya.

Tulisan menjadi salah satu media untuk mengungkapkan isi hati dan pikiran sang penulis. Dalam catatan sejarah Rasulullah berdakwah terkadang juga menggunakan media tulisan, dengan mengirim surat kepada raja-raja yang berkuasa saat itu untuk diajak memeluk agama Islam.

Setidaknya ada dua kriteria agar sebuah tulisan dapat menjadi pijakan hukum. Pertama, ditulis pada media yang permanen, tidak luntur dalam waktu sekejap, bukan ditulis di media air atau udara. Kedua, jelas dan resmi, ditujukan kepada siapa, dari siapa, dan formal (misalnya ada stempel, tandatangan, dan lain-lain), atau yang sudah lazim digunakan dalam dunia bisnis, misalnya aplikasi tertentu (Bukalapak, Tokopedia, Shopee, dan lain-lain).

Aplikasi kaidah: jika sebuah tulisan dimaksudkan untuk akad yang melibatkan persetujuan pihak lain, seperti jual-beli, sewa, kerjasama, pernikahan, dan lainnya, maka tulisan tersebut berfungsi sebagai legalitas akad pada saat tersampaikan dan dibaca kemudian dijawab dengan qabul dari pihak kedua. Dengan demikian, tempat tersampaikannya tulisan tersebut menjadi majlis akad (tempat akad dilangsungkan), dan tulisan tidak memiliki konsekuensi hukum sebelum tersampaikan. Artinya, tulisan tidak berkonsekuensi hukum sejak ditulis, namun terhitung ketika sudah tersampaikan dan dibacakan lalu di-qabul.

Misalnya transaksi yang dilakukan melalui WhatsApp. Pesan yang ditulis di media WA tidak berkonsekuensi hukum sejak pesan ditulis, tetapi pada saat terbaca dan dijawab. Demikian juga dalam aplikasi belanja online yang ngetrand saat ini. Di sana sudah tersedia ruang transaksi, namun akad jual beli tersebut baru terjadi setelah mendapat respon dan tersampaikan pada pihak penjual online, bukan sejak pesanan itu dibuat.

Ini berbeda dengan akad yang tidak membutuhkan persetujuan pihak kedua seperti pengakuan (iqrar), talak, pembebasan (ibra’), dan akad-akad yang dapat dilakukan secara mandiri, tanpa melibatkan persetujuan pihak lain. Maka tulisan yang dimaksudkan untuk akad-akad tersebut tidak butuh tersampaikan dan terbaca oleh pihak lain. Sejak tulisan itu dibuat otomatis berkonsekuensi hukum, baik diniati ataupun tidak berniat.

Contoh dalam pernikahan. Seseorang yang ingin melamar dan menikahi perempuan yang dicintainya menulis pesan melalui media atau via email yang menyatakan tentang keinginannya. Ketika pesan tersebut tersampaikan tentu dengan berbagai klarifikasi untuk menghindari penipuan dan kepalsuan, lalu dipanggillah saksi pernikahan, setelah semuanya lengkap kemudian pesan tersebut dibacakan dan si wanita (janda) mengatakan: “Aku nikahkan diriku untuk laki-laki tersebut”, pernikahan semacam ini dinyatakan sah, tentu sesuai syarat-syarat dalam pernikahan.

Hikmah kaidah dalam kehidupan: terkadang banyak dijumpai dalam realitas kehidupan, anak lebih eksis dari pada orang tuanya, murid lebih alim dari pada gurunya, karyawan lebih bisa memanej perusahaan dari pada atasannya. Jangan putus asa dengan keberadaan latar belakang kita, jangan merasa minder karena terlahir dari keluarga yang biasa-biasa saja, bisa jadi kesuksesan kita melebihi mereka yang lahir dari keluarga tak biasa, karena usaha dan ikhtiar kita lebih ulet dan istikamah. []

Wallahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.