Tag Archives: kaidah fikih

Kaidah Fikih: Boleh Mengambil Harta Orang Lain Asal…

Mengambil Hak

Siapapun tidak dibenarkan secara serampangan mengambil harta milik orang lain. Sebab Islam sangat menghargai hak milik seseorang. Akan tetapi, ada situasi dan keadaan tertentu yang dibenarkan mengambil paksa harta orang lain, meskipun pemiliknya tidak merelakan. Kaidah berikut merupakan cabang dari kaidah sebelumnya tentang menghargai hak orang lain. Jika seseorang tidak diperkenankan mengotak atik harta yang bukan haknya, demikian pula tidak …

Read More »

Kaidah Fikih: Instruksi yang Sia-sia

Kaidah Perintah

Sebuah perintah tidak boleh serta merta ditelan secara mentah-mentah. Dalam posisi normal perintah tetaplah harus dikaji dan dipikir secara matang. Apakah mengandung kebaikan atau malah mencelakakan. Tentu tidak boleh gegabah dalam menerima instruksi, sebab jika ternyata perintah tersebut tidak benar maka menjadi batal dan nonsen sebelum dilaksanakan. Kaidah berikut merupakan cabang dari kaidah sebelumnya tentang menghargai hak orang lain. Jika …

Read More »

Kaidah Fikih: Mempertahankan Lebih Mudah dari pada Memulai

kaidah fikih mempertahankan

Sebuah pepatah yang begitu populer menyatakan bahwa mempertahankan lebih sulit daripada mendapatkan atau memulai. Pepatah ini acapkali mendapatkan pembenaran aplikatif dalam dunia bisnis, terutama di bagian marketing ataupun dalam menjalin hubungan bahtera rumah tangga dan hubungan yang serius menuju singgasana pelaminan. Dalam dunia marketing ketika sebuah produk sudah berhasil menempati alam pikir obyek target pasarnya, tugas selanjutnya bagaimana mereka bisa …

Read More »

Kaidah Fikih: Menularkan Hukum

Kaidah Hukum Yang Sama

Serupa tapi tak sama, sebuah peribahasa yang menggambarkan dua entitas yang terlihat sama, tetapi memiliki hal-hal yang berbeda, ciri, karakter, dan atribut yang menyertainya. Contoh sederhana dua anak yang terlahir kembar. Mereka memiliki raut wajah yang mirip dan serupa. Cara berpakaian dan kesukaan sama, namun terkadang sifat dan karakter berbeda, yang satu cengeng, yang lain tangguh. Realiatas seperti ini juga …

Read More »

Kaidah Fikih: Peran Seorang Penerjemah

Kaidah Penerjemah

Dalam kajian ushul fikih terdapat tema tentang bahasa. Pertanyaan yang muncul apakah bahasa bersifat tauqifiy, sesuatu yang datang dari Tuhan, bukan sebuah usaha kreasi manusia. Pendapat yang didukung jumhur ulama ini menjelaskan bahwa seluruh bahasa telah diajarkan Tuhan kepada manusia. Hal ini terbukti dari adu ketangkasan antara Adam dan malaikat yang protes mengapa manusia yang dijadikan khalifah di muka bumi. …

Read More »

Kaidah Fikih: Satu Obyek, Beda Status

Kaidah Makna Benda

Dalam kehidupan sosial tak jarang dijumpai perilaku yang berbeda atas obyek yang sama berdasarkan pemaknaan sosial individu terhadap situasi yang melingkupi lingkungannya. Dalam kajian teori sosial perilaku demikian berada pada ranah kajian teori interaksionisme simbolik. Interaksionisme simbolik merupakan salah satu teori yang acap kali digunakan dalam sebuah penelitian sosial. Teori ini terkait erat dengan pemikiran Max Weber yang mengatakan bahwa …

Read More »

Kaidah Fikih: Isyarat yang Penuh Makna

Bahasa Isyarat

Keberagaman adalah sunnatullah, hukum alam yang mustahil dinafikan. Keberagaman menjadi penanda yang membatasi garis demarkasi antara Sang Pencipta dan yang diciptakan (makhluk). Dari berbagai segi seluruh makhluk sangatlah beragam. Demikian pula yang terjadi pada makhluk yang bernama manusia. Mulai dari fisik, pikiran, kecenderungan, hoby, semua tidak tunggal. Seolah menegaskan bahwa ke-tunggalan hanyalah milik Yang Maha Tunggal. Dari cara berkomunikasi, berekspresi, …

Read More »

Kaidah Fikih : Tulisan Sepadan dengan Ucapan

Tulisan Dan Ucapan

Dunia yang dilipat, sebuah judul buku yang ditulis oleh Yasraf Amir Piliang terbit pertama pada tahun 1998. Realitas dunia semakin ke sini semakin ‘mengkerut’. Dunia telah memasuki realitas baru yang tercipta akibat pemadatan, pemampatan, peringkasan, pengecilan, dan percepatan. Sehingga dunia seperti sebuah lipatan kecil yang bisa dijangkau dalam hitungan menit. Makanan siap saji dalam hitungan menit dapat kita santap di …

Read More »

Kaidah Fikih: Sesuatu yang Gugur Tidak akan Kembali

kaidah hak yang gugur

Setiap hak yang telah gugur, tidak akan pernah ada lagi untuk yang kedua kalinya. Hak yang telah gugur berposisi sama dengan barang yang tidak ada. Sebuah ungkapan atau pernyataan yang kadung meluncur dari lidah seseorang akan menjadi pijakan yang berkonsekuensi hukum, andai berkaitan dengan hak dan kewajiban. Dalam akad transaksi ungkapan dan pernyataan menjadi indikator keputusan yang diambil oleh kedua …

Read More »

Kaidah Fikih: Pengganti Yang Dapat Mewakili

kaidah Pengganti asal

Tak ada rotan akar pun jadi. Peribahasa ini mengungkapkan keterwakilan dalam kondisi terpaksa. Dari pada kosong pengganti lebih baik ada meskipun pas-pasan. Idealnya pengganti harus sama dengan yang digantikan. Dalam struktur organisasi selalu terselip jabatan pengganti yang diistilahkan dengan wakil. Wakil akan bertindak menggantikan posisi yang diwakili ketika dibutuhkan. Jika pemegang jabatan asal tidak ada, maka wakil tampil untuk menggantikan. …

Read More »

Kaidah Fikih: Pondasi Ambruk Bangunan Pun Roboh

Kaidah Fikih Tentang Pondasi

Kaidah ini berbicara tentang sesuatu yang keberadaannya menjadi asal dan pondasi terhadap keberadaan yang lain. Jika asal atau dasar gugur, sesuatu yang berpijak kepadanya juga gugur. Pondasi, dasar, asal, al-ashl (bahasa Arab) adalah sesuatu yang dijadikan pijakan oleh sesuatu yang lain. Sementara cabang, ranting, al-far’u (bahasa Arab) adalah sesuatu yang berpijak di atas sesuatu yang lain. Pondasi rumah adalah bangunan …

Read More »

Kaidah Fikih: Menimbang Dua Hal Yang Kontradiktif

Kaidah Tentang Kontradiksi

Kaidah ini berbicara tentang cara menimbang dua hal yang kontradiktif atau bertentangan. Mana kira-kira yang didahulukan? Kontradiksi adalah hukum alam (sunnatullah) yang sengaja diciptakan agar terjadi dialektika demi keberlangsungan alam itu sendiri. Dialektika dalam dunia filsafat merupakan teori Hegel yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang terdapat di alam semesta merupakan hasil dari pertentangan antara dua hal yang memunculkan hal baru, …

Read More »

Kaidah Fikih: Ketika Badai telah Berlalu

Kaidah Badai

Kaidah kali ini tentang hukum yang terhalangi pemberlakuannya karena ada rintangan. Ketika penghalang itu sudah tidak ada, hukum dapat diberlakukan kembali. Idealisme selalu menempel pada tataran konsep. Karena konsep merupakan hasil pemikiran yang ideal. Pada tataran praktik akan berhadapan dengan berbagai macam persoalan. Demikian juga dengan hukum, pada tataran konsep sangat ideal dan sempurna, namun praktik di lapangan akan mengalami …

Read More »

Kaidah Fikih: Jangan Salah Mengartikan Diam

kaidah fikih diam

Kaidah berikut menerangkan tentang kondisi diam yang penuh dengan makna. Jangan salah mengartikan sikap diam. Diam itu emas, diam itu hikmah. Diam itu menandakan lemahnya iman di dada, diam itu pengecut. Masih banyak lagi kata mutiara yang menyoroti tentang makna diam. Diam bagaikan dua mata pisau yang dapat difungsikan untuk menyelamatkan atau bahkan mencelakakan. Suatu sikap yang kadang mendapat pujian …

Read More »

Kaidah Fikih: Pemakluman Terhadap Pengikut

pemakluman hukum

Kaidah ini berbicara tentang barang atau seseorang yang berposisi sebagai sebagai tabi’, akan mendapatkan toleransi atau pemakluman hukum yang tidak bisa didapatkan ketika ia berposisi sebagai matbu’. Dinamika kehidupan harus berjalan mengikuti rumus keseimbangan. Keseimbangan merupakan sunnatullah yang harus dipatuhi oleh semua makhluk apapun di muka bumi ini. Jika terdapat pihak-pihak yang melawan rumus keseimbangan dengan melakukan upaya-upaya yang bertentangan, …

Read More »

Kaidah Fikih: Kesetiaan Seorang Pengikut

kesetiaan pengikut

Kaderisasi dalam sebuah organisasi itu penting. Keberlangsungan sebuah organisasi ditentukan oleh bagaimana merekrut dan merawat kader. Kaderisasi yang mengacu pada kualitas akan lebih efektif dari pada kaderisasi yang hanya mementingkan kuantitas. Tidak perlu banyak orang, yang terpenting adalah militansi dan loyalitas terhadap organisasi. Loyalitas dan militansi kader yang akan banyak berperan dalam menghidupkan roh organisasi. Oleh karena itu, membangun mental …

Read More »

Kaidah Fikih: Tidak Boleh Melangkahi Pemimpin

kaidah pemimpin

Seperti yang telah dibahas dalam kaidah, at-tabi’u tabiun, pengikut harus ikut, bahwa sesuatu yang mengekor terhadap sesuatu yang lain tidak bisa berdiri sendiri, keberadaannya diposisikan sebagai barang yang tidak berwujud (ma’dum). Dengan demikian, kaidah ini memunculkan kaidah turunan sebagai konsekuensi ketidak mandirian sesuatu yang mengekor. Konsekuensi dari ketidakmandirian tersebut, ia tidak bisa menjadi objek hukum. Ia tidak memiliki status hukum …

Read More »

Kaidah Fikih: Pengikut Harus Ikut

pengikut harus ikut

Dalam sebuah transaksi apapun, yang menjadi objek transaksi adakalanya benda atau barang yang mempunyai bagian yang dapat dipisahkan. Kadangkala satu kesatuan yang tak terpisah dan benar-benar menyatu. Ragam objek transaksi ini memunculkan status hukum yang berbeda terkait bagian-bagian tersebut. Apakah bagian itu menjadi include dalam transaksi tanpa disebutkan secara detail ataukah harus ditegaskan dalam akad? Kaidah berikut menjadi pijakan dalam …

Read More »

Kaidah Fikih: Stop Tularkan Keburukan

menularkan keburukan

Sesuatu yang buruk untuk diambil, tetap buruk ketika diberikan kepada orang lain. Kaidah ini menjadi pijakan untuk tidak menularkan keburukan. Islam sangat tegas dan tidak main-main dalam persoalan perkara haram. Tidak ada celah sedikit pun untuk praktik terlarang tersebut. Semua kran yang diduga akan mengalirkan barang haram harus ditutup rapat-rapat. Perlakuan tersebut berbeda dengan perkara wajib. Perintah wajib yang dibebankan …

Read More »

Kaidah Fikih: Dispensasi Ada Batasnya

batas dispensasi

Dalam kondisi sulit orang bisa menikmati dispensasi. Tetapi dispensasi ada batasnya, yakni ketika ketika sebab sulit itu telah hilang. Sebuah aturan dan hukum apapun bentuknya dilegislasikan untuk objek, situasi dan kondisi normal. Artinya, kenormalan merupakan acuan dasar dalam pembentukan sebuah hukum. Namun, dalam tataran praktik di lapangan tentu dan sudah pasti akan dijumpai situasi dan kondisi abnormal. Ke-abnormal-an mengharuskan pemberlakuan …

Read More »