kaidah ungkapan
kaidah ungkapan

Kaidah Fikih: Keterbatasan Sebuah Pengakuan

Kodrat alam menyatakan bahwa perjalanan kehidupan dunia adalah pertarungan dua kutub yang berlawanan, min-plus. Kehidupan akan berjalan dinamis jika dua elemen ini saling berpacu dan mengisi satu sama lain. Sesekali butuh gesekan untuk memercikkan semangat juang dan memperjelas posisi masing-masing. Dari titik itu lalu perjuangan dimulai dan kehidupan dapat dimaknai. Min-plus akan terus eksis selama kehidupan masih berlangsung.

Tak terkecuali sebuah pengakuan yang juga memiliki dua aspek yang berlawanan. Satu sisi menguntungkan, sisi lain merugikan. Semua orang akan berebut untuk sebuah pengakuan jika hal itu menguntungkan. Sebaliknya, butuh kesadaran yang mendalam untuk sebuah pengakuan yang merugikan. Bahkan, kecenderungan umum tak mau mengumumkan dan lebih memilih untuk diam.

Menyikapi fenomena tersebut Islam memberikan putusan bahwa sebuah pengakuan (iqrar) mempunyai jangkauan terbatas dalam menetapkan sebuah hukum, sebagaimana kaidah berikut ini:

اَلْبَيِّنَةُ حُجَّةٌ مُتَعَدِّيَةٌ وَاْلاِقْرَارُ حُجَّةٌ قَاصِرَةٌ.

(al-bayyinatu hujjatun muta’addiyatun wa al-iqraru hujjatun qashiratun)

Artinya: “Bukti/saksi merupakan argumentasi hukum yang berfungsi luas, sedangkan pengakuan merupakan argumentasi hukum yang terbatas.”

Maksud kaidah ini bahwa saksi dan bukti-bukti kuat dapat berfungsi secara meluas, tidak hanya terbatas untuk orang yang mampu menghadirkannya. Namun, dapat diberlakukan terhadap siapapun yang tersangkut dan tercakup oleh bukti dan saksi tersebut. Karena perkara yang dapat dibuktikan atau dikuatkan oleh adanya saksi sama halnya dengan fakta yang terjadi.

Sementara sebuah pengakuan hanya berlaku untuk dirinya sendiri, tidak berfungsi buat orang lain. Pengakuan dianggap argumentasi yang hanya didasarkan atas dugaan pribadi semata. Selain itu, sebuah pengakuan terkadang hanya dusta belaka untuk menjatuhkan orang ketiga.

Aplikasi kaidah: Pak Suroto mengaku bahwa dirinya mempunyai tanggungan hutang satu juta kepada Pak Jarwo. Atas pengakuan tersebut Pak Jarwo memiliki hak piutang satu juta yang wajib dibayar oleh Pak Suroto. Di waktu yang sama Pak Suroto menyatakan bahwa selain dirinya, ada Pak Indra yang juga mempunyai hutang kepada Pak Jarwo. Maka pengakuan semacam ini tidak bisa diberlakukan kepada Pak Indra, sebagaimana hutang yang berlaku untuk dirinya. Sebab sebuah pengakuan tidak bisa diterapkan untuk orang lain, tetapi hanya terbatas untuk dirinya sendiri.

Baca Juga:  Fikih Waria : Lucinta Luna, Pria atau Wanita, atau Wanita Pria?!

Jika seorang penagih hutang mendatangi salah satu ahli waris dan mengaku bahwa mendiang mempunyai hutang terhadap dirinya. Sementara para ahli waris tidak membenarkan pengakuan tersebut, kecuali satu orang yang mengakui dan mengiyakan, maka tanggungan hutang diambilkan dari harta warisan bagian dia saja, tidak boleh mengambil bagian ahli waris yang lain yang tidak setuju.

Hikmah kaidah dalam kehidupan: hati-hati dalam bertindak, jangan ceroboh dan serampangan, apalagi ungkapan yang beresiko akan kembali pada dirinya. Senjata makan tuan, begitulah pepatah mengatakan. []

Wallahu a’lam Bisshawab.

Referensi Utama:

Ahmad bin Syekh Muhammad al-Zarqa’, Syarh al-Qawaid al-Fiqhiyyah, (Damaskus: Dar al-Qalam, Cet. II, tt.), 395.

Muhammad Mushthafa al-Zuhaili, Al-Qawaid al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatuha fi al-Mazahib al-Arba’ah (Beirut: Dar al-Fikr, Cet. III, 2009), 582.

Ibrahim Muhammad Mahmud al-Hariri, Al-Madkhal ila al-Qawaid al-Fiqhiyyah al-Kulliyah, hal. 161.

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

shalat witir

Fikih Shalat Sunah (9): Shalat Witir Wajib, Kok Bisa?

Sebagian umat Islam mengenal shalat witir pada bulan Ramadan, karena shalat sunah ini menjadi rangkaian …

saksi dan sumpah

Kaidah Fikih: Fungsi Saksi dan Sumpah dalam Sebuah Sengketa

Seseorang yang memiliki prinsip terkategorikan sebagai orang yang kuat dan berkarakter. Prinsip menentukan sikap dan …