Melalui Virus Corona Umat Mulai Belajar Islam Itu Dinamis

0
1204
islam dinamis

Melalui bencana covid-19, umat Islam tersadarkan bahwa ajaran islam itu dinamis dan adaptable dengan kondisi kekinian dan tantangan kontemporer.


Badai virus corona atau covid-19 yang telah dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO telah menyapu seluruh negara. Tidak hanya aktifitas ekonomi, sosial, politik yang mengalami perubahan, aktifitas keagamaan pun harus beradaptasi. Tidak hanya dialami oleh satu agama, tetapi seluruh agama terpaksa mengubah kebiasaan beribadah pada waktu normal.

Perubahan hukum dipengaruhi oleh kondisi. Begitulah kira-kira satu kaidah fikih yang menjadi pegangan agar agama khususnya Islam mampu beradaptasi dengan perubahan. Beragama secara kaku dan keras menunjukkan suatu pola beragama yang berlebihan. Ya, berlebihan karena tidak melihat situasi dan kemampuan.

Islam itu dinamis melalui ajarannya yang bersifat adaptable. Karena karakter inilah sebenarnya Islam mampu menjadi agama universal yang relevan dalam konteks zaman dan tempat. Ajaran Islam yang dinamis dengan memuat prinsip universal mampu berdialog dengan kondisi apapun dan kapanpun.

Virus corona sebagai musibah menjadi ujian kecerdasan umat Islam dalam menghayati Islam yang dinamis ini. Hukum shalat berjamaah, shalat jumat, kebolehan tidak wudhu dan tayamum untuk petugas medis bahkan kebijakan Arab Saudi menutup sementara ibadah umroh adalah cermin berislam dengan cara dinamis.

Kesulitan dapat berbuah kemudahan. Begitu pula kaidah fikih ini meluncur dengan berdasarkan pada racikan ijtihad para ulama dalam menggali al-Qur’an dan hadist. Itu kan kaidah fikih, bukan sumber langsung Qur’an dan Hadist? Begitu mungkin pertanyaan umat Islam awam dan penuh semangat.

Kaidah-kaidah fikih dan produk fikih tidak akan keluar dari al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber utama. Justru melalui ushul fikih dan kaidah fikih inilah dua sumber tersebut dicari sari patinya melalui prinsip-prinsip universalnya dalam rumusan fikih. Rumus-rumus fikih itu adalah bagian cerminan dari al-Qur’an dan Sunnah.

Kaidah fikih tentang kesulitan membawa kemudahan adalah cara mujtahid menarik sumber dari adanya rukshah yang diterangkan dalam al-Qur’an dan Hadist seperti dalam kasus puasa orang musafir dan sakit. Sumber dan kasus yang diterangkan dalam al-Qur’an dan Hadist inilah ditarik rumusan fikih.

Pada prakteknya sesungguhnya yang membawa Islam menjadi sangat dinamis adalah ushul fikih dan kaidah fikih yang telah didedikasikan oleh para ulama Madzhab. Melalui ushul fikih dan kaidah fikih inilah Islam begitu dinamis dan adaptable dengan kondisi dan situasi yang melingkupinya.

Bayangkan jika Islam adalah ajaran kaku? Tentu saja Islam tidak akan mampu menjawab persoalan kemanusiaan dan kondisi dinamis yang terus berubah. Islam bisa-bisa menjadi kendala kemanusiaan.

Namun, Islam tampil sebagai agama dinamis yang mampu beradaptasi dengan kondisi kekinian dan tantangan kontemporer. Hanya saja, umat Islam belum memahami sehingga kerapkali menampilkan Islam yang kaku dan tidak ramah perbedaan dan dinamika zaman.