Muslimah Arab Saudi Mulai Membuka Diri, Muslimah Indonesia Mulai Menyamarkan Diri

0
2187
perempuan arab saudi

Islam memposisikan perempuan dan laki-laki setara dengan hak dan tanggungjawab berbeda. Islam datang untuk membebaskan perempuan yang selalu disamarkan perannya dalam konteks masyarakat jahiliyah.


Sebenarnya foto viral tentang kepengurusan Jamaah Muslimah Geografi (JMG) UGM dan Kepengurusan BEM UNJ yang menyamarkan wajah perempuan, apapun alasannya, hampir memiliki semangat yang sama. Bahwa perempuan sengaja disamarkan, entah alasan kemauan sendiri atau kesepakatan. Semuanya hampir memiliki motif yang sama.

Biarlah mahasiswa-mahasiswa yang baru beranjak untuk mematangkan ilmu agama itu untuk menjelaskan alasannya dan berkilah. Baik itu alasan wajah perempuan sebagai aurat, perempuan tidak boleh ditampilkan, perempuan perlu disamarkan atau apapun. Namun, sesuatu yang patut dipahami itu bagian praktek simbolik yang menyamarkan peran perempuan.

Menjadi sangat ironi, jika hal itu terjadi di Indonesia. Kenapa? Arab Saudi nampaknya secara sistematis mulai membuka diri untuk menerima perempuan di ruang publik secara setara. Sudah lama perempuan di Arab Saudi disamarkan bahkan disembunyikan dalam aturan yang sangat ketat. Mereka banyak menghabiskan waktu di dalam rumah, kalaupun keluar harus ditemani wali.

Pangeran Muhammad bin Salman membuka kran keterbukaan untuk menjadikan Arab Saudi sebagai negara moderat pada tahun 2030. Untuk mencapai visi itu, beberapa aturan mulai diluncurkan dengan memberi kemerdekaan, kebebasan, dan kesetaraan, salah satunya kepada kaum perempuan.

Memakai abaya atau pakaian khas Arab Saudi yang serba hitam, misalnya, mulai digugat. Salah seorang wanita Saudi berani melawan aturan itu dengan berpakaian casual di sebuah mall di pusat kota Riyadh. Menanggapi itu, Pengeran Salman misalnya mengatakan abaya tidak bagian dari ajaran Islam, tetapi perempuan harus mengenakan pakaian yang islami dan sopan.

Sepertinya, Arab Saudi sangat serius untuk melakukan moderasi dengan tidak menyamarkan perempuan di sektor privat. Pemerintah Arab Saudi mencabut aturan wanita yang harus mendapat izin dari wali laki-laki jika bepergian ke luar. Peraturan ini pun mengakhiri masalah sistem perwalian di Saudi. Perempuan di Arab Saudi juga diizinkan untuk menjadi tentara dan profesi lainnya untuk meningkatkan hak-hak perempuan yang setara.

Walaupun agak sepele, perempuan di Arab Saudi telah diizinkan mengemudi kendaraan sendirian, jogging di jalan-jalan umum di kota Saudi yang kosmopolitan, dan bekerja di pekerjaan yang dulu hanya disediakan untuk pria, seperti militer dan polisi. Bagi perempuan Arab Saudi menyetir dan jogging di tempat umum itu bukan sepele tapi kemerdekaan baru. Fasilitas umum dan hiburan pun mulai tidak ada sekat antara laki-laki dan perempuan seperti restoran dan bioskop.

Tidak usah terlalu mencibir Arab Saudi dengan label liberal atau apapun. Mengangkat perempuan ke ruang publik secara setara itu adalah semangat ajaran Islam. Sementara mengungkung perempuan dalam ruang-ruang privat adalah budaya Arab Saudi yang patriarkis yang telah lama bertahan.

Islam tidak membatasi ruang perempuan untuk berkiprah. Islam juga tidak menyamarkan peran mereka di sektor publik. Perempuan di masa jahiliyah sangat terintimidasi dan dikucilkan. Islam mendeklarasikan perempuan dan laki–laki sebagai subjek yang setara, yang membedakan hanyalah ketakwaannya.

Di zaman Rasulullah, perempuan dimuliakan dan diangkat harkat martabatnya. Perempuan mendapatkan hak-hak asasinya dan diberi kesempatan yang sama untuk berkiprah di luar. Diceritakan dalam banyak hadits bahwasannya para perempuan Anshar Madinah di masa Rasul adalah perempuan yang aktif, bebas, dinamis, kritis, bertanggung jawab dan mandiri, namun tetap santun, sopan, dan terpelihara akhlaknya. 

Sejumlah hadis pun melukiskan para istri Rasul sebagai perempuan yang kritis, aktif, dinamis, dan peduli terhadap persoalan masyarakatnya, serta terlibat dalam aktivitas publik, baik dalam kondisi damai maupun perang. Rasulullah tidak membuat diskriminasi terhadap mereka dalam menjalankan peran-peran sosialnya.

Lalu, jika Arab Saudi mulai membuka diri menerima peran perempuan, kenapa ada kecenderungan di Indonesia untuk menyamarkan perempuan? Ironi dari sebuah pemaknaan ajaran yang sangat tektual atau memang budaya patriarki kembali mengeras? Wallahu a’lam