kaidah fikih kondisi dinamis
kaidah fikih kondisi dinamis

Kaidah Fikih Cabang Keempat: Saat Kritis Menjadi Dinamis

Aturan dan hukum dibuat dalam rangka menciptakan ketertiban dan harmoni dalam kehidupan manusia. Dalam batas-batas kewajaran tidak dijumpai aturan yang memberatkan. Hal demikian tidak lain demi tujuan mulia, yaitu terciptanya keteraturan dan kenyamanan dalam menjalani hidup dan kehidupan.

Namun, dalam situasi tertentu seorang mukallaf menjadi kesulitan dan ruang gerak menjadi terbatas jika harus menggunakan dan melaksanakan hukum asal. Kondisi inilah yang terpotret oleh kaidah cabang berikut ini:

اِذَا ضَاَق اْلأَمْرُ اتَّسَعَ, وَاِذَا اتَّسَعَ ضَاَق.

 (idza dlaqa al-amr ittasa’a, wa idzattasa’a dlaqa)

Artinya: “Apabila sesuatu menjadi sempit, maka menjadi luas. Dan jika sudah luas, maka kembali sempit”

Kaidah ini menjelaskan bahwa dalam situasi tidak normal dan darurat (masyaqqah), sehingga menyebabkan kesulitan dalam mempraktikkan hukum asal, maka hukum syari’at menjadi longgar agar mudah dilakukan dan dijalankan. Inilah maksud dari penggalan kaidah idza dlaqa al-amr ittasa’a.

Sebaliknya, jika situasi sudah normal seperti sediakala, maka hukum asal kembali berlaku sebagaimana bunyi redaksi kaidah penggalan kedua, wa idzattasa’a dlaqa. Dengan indah Imam Al-Ghazali menarasikan dua penggal kaidah ini dalam sebuah redaksi:

كُلَّمَاجَاوَزَاْلاَمْرُ حَدَّهُ انعْكَسَ اِلى ضِدِّهِ.

(kullama jawaza al-amru haddahu in’akasa ila dliddihi)

Artinya: “Ketika sesuatu sudah melampaui batas normalnya, maka yang berlaku adalah kebalikannya”.

Syariat Islam memberikan kelonggaran untuk tidak menerapkan hukum asal (‘azimah) dalam situasi dan kondisi tertentu, sehingga memperoleh dispensasi hukum (rukhshah). Oleh karena itu, syariat Islam berjalan dengan dinamis dan lentur. Moderasi syariat Islam berada pada titik antara ketegasan dan kelenturan (bain al-tsabat wa al-murunah), antara idealitas dan realitas.

Kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh agama Islam berlandaskan firman Allah Swt.:

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ.

Artinya: “…dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan”. (QS. Al-Hajj/22: 78).

Baca Juga:  Memahami Fatwa (3): Syariat dan Urgensitas Fatwa

Aplikasi kaidah: diperkenankan mencela dan mencaci orang lain yang berposisi sebagai saksi demi sterilnya kesaksian dari sifat-sifat yang menodai pihak yang bersaksi. Namun, di luar konteks persaksian mencela dan mencaci orang tersebut tidak diperbolehkan.

Janda yang ditinggal mati oleh suaminya dalam masa iddah dan berkabung (ihdad) diperkenankan beraktifitas di luar rumah mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Dibolehkan menyewa dan menggaji pengajar Al-Qur’an dan petugas adzan (muaddzin) demi menjaga kelestarian syiar agama sebagaimana difatwakan oleh ulama kontemporer (mutaakhkhirin). Ketika dijumpai orang yang suka rela mengabdikan diri untuk agama tanpa bayaran, maka menyewa tidak diperbolehkan lagi (wa idzattasa’a dlaqa).

Hikmah kaidah dalam kehidupan. Berbuatlah sewajarnya, jangan melampaui batas dalam segala hal. Jangan membenci setengah mati, jangan mencintai sepenuh hati. Lakukan semuanya dalam batas kewajaran, jika tidak ingin berlaku kebalikannya.

Jika berada dalam situasi kesulitan jangan terlalu larut dalam kesedihan, Kasih Sayang Allah melampaui segalanya. Sebaliknya, jika dalam keadaan bahagia dan bersuka cita janganlah bereuforia, sehingga lupa bahwa semuanya merupakan karunia terindah sekaligus amanah dari Sang Pencipta. []

Wallahu ‘alam

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

fatwa

Memahami Fatwa (10): Syarat-Syarat Mujtahid

Artikel ini melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang syarat-syarat mujtahid. Uraian sebelumnya telah mengulas syarat mujtahid yang …

fatwa

Memahami Fatwa (9): Syarat-syarat Mujtahid

Dalam beberapa artikel sebelumnya telah diulas tentang kriteria seorang mufti. Para ilmuwan Islam berpandangan bahwa …