Mendefinisikan dan Mengekspresikan Islam di Indonesia

0
3288
islam indonesia
sumber foto: destination360

Tidak perlu banyak berdebat tentang apakah ada Islam Indonesia, Islam nusantara, Islam Arab, Islam Amerika, Islam India dan sebagainya. Islam bagi kelompok yang sangat benar-benar merasa pemilik Islam selalu mengatakan Islam adalah satu. Memang satu, tetapi eksrpesi keislaman selalu berbeda-beda.

Di sini saya tidak ingin menganggap ekspresi sebagai bagian dari ibadah. Ekspresi keislaman berarti cara umat mempraktekkan ajaran dan ibadah Islam. Ajaran Islam tentu tidak bisa diganggu. Begitu pun ibadah tidak bisa dirubah. Tetapi cara menampilkan ajaran dan ibadah sangat berbeda-beda.

Sampai di sini, pembahasan ekspresi keislaman diharapkan bisa dipahami. Jangan ada sumbu pendek dengan datang marah-marah dan maki-maki yang mengatakan “ekspresi Islam harus tunggal!. Jika masih seperti itu maka akan gagal paham dalam membaca kelanjutan tulisan ini.

Saya ingin beralih pada kenapa mendefinisikan keislaman itu penting? Pertama, karena selama ini umat Islam secara tidak sadar telah terdefinisikan. Gambaran umat Islam bukan membentuk, tetapi dibentuk oleh persepsi, opini dan pandangan orang lain.

Karena ia dibentuk, berarti umat Islam berada pada posisi pasif, bukan aktif.  Misalnya, mau tidak mau, suka tidak suka, apa yang terbayang ketika Islam diketik, dicari dan dibayangkan adalah hasil definisi orang di luar Islam.

Islam adalah Arab dan Timur Tengah. Islam penuh dengan peperangan. Islam adalah pertempuran tiada akhir. Islam adalah potret kekauan. Islam adalah gamis. Islam adalah jenggot. Islam adalah kehidupan miskin dalam suasana kisruh. Islam adalah pemberontakan. Bahkan Islam adalah teroris.

Itulah gambaran dan potret ketika orang lain menggambarkan tentang Islam. Mereka menggambarkan Islam dari bagian kecil dari anomali ekspresi Islam. Bukan Islam itu sendiri. Bahwa Islam dibayangkan dengan kekerasan, kekejaman, peperangan, kemiskinan adalah gambaran dari kehidupan muslim di suatu negara. Tetapi sekali lagi bukan Islam itu sendiri.

Kedua, saya ingin mengutip quote penting dari pemikir pembaharuan dalam Islam Syekh Muhammad Abduh : “Al-Islamu mahjuubun bil muslimin”, Islam tertutup oleh umat Islam itu sendiri. Cahaya keindahan Islam tertutupi oleh perilaku buruk umat Islam. Ajaran lembut Islam tertutupi oleh perilaku kasar umat Islam. Ajaran perdamaian Islam terhijabi oleh perilaku perang antar umat Islam.

Kalimat Muhammad Abduh ini begitu amat tajam, menukik dan menampar umat Islam. Namun, sebenarnya kalimat ini juga tamparan bagi Abduh sendiri ketika ia mengenalkan Islam begitu Indah dan santun di Barat, tetapi para muridnya memprotes kondisi Islam Timur Tengah yang berlainan dengan gambaran dan citra Islam yang diajarkan.

Ekspresi Islam Indonesia

Islam itu ajaran dan muslim adalah umat yang menjalankan dalam kapasitas dan ekspresinya. Bahwa ada muslim dengan mengatasnamakan ajaran Islam dalam konteks perilaku tertentu itulah ekspresi keislaman. Gambaran itu adalah bagian dari definisi dan ekspresi keislaman orang Islam di negara tertentu dan dengan gaya kehidupan tertentu. Tentu itu tidak mewakili Islam yang sebenarnya dan keseluruhan.

Mendefinisikan diri muslim itu penting sebelum orang lain mendefinisikan kita. Sebagaimana Islam Indonesia adalah sebuah potret dan ekspresi keislaman yang tentu akan berbeda dengan Islam Arab Saudi dan Timur Tengah atau pun negara lainnya.

Berislam tentu saja sama, tetapi mengekspresikannya akan berbeda. Lihatlah pakaian muslim India, Malasyia, Indonesia, Thailand yang sangat berbeda dengan muslim di Arab dan Timur Tengah dalam menutup aurat. Sekali lagi ekspresi itu berbeda. Lihatlah tradisi muslim di Indonesia dalam mengeskpresikan nilai silaturrahmi, bertetangga, bersalaman, berjama’ah dan lainnya adalah corak khas yang berbeda dengan muslim di tempat lain.

Di Indonesia saat ini cara jihad itu bukan perang. Di negara lain yang sedang berkecamuk perang bisa jadi cara jihad itu salah satunya adalah perang. Di Indonesia cara berzakat itu bisa beragam bentuknya. Cara bershadaqah itu dengan beragam barang. Waktu berpuasa mungkin cukup ideal tidak lama dan tidak pendek. Cara berangkat dan pulang haji penuh dengan ragam ekspresi tradisi.

Dalam hal ini konteks tempat dan waktu memainkan peran penting dalam mengekspresikan Islam dan pada saatnya mendefinisikan cara berIslam. Mendefinisikan Islam di Indonesia adalah Islam yang melekat dan diekspresikan dengan karakter orang Indonesia. Islam yang santun, Islam yang moderat, Islam yang bergotong royong, Islam yang ramah, Islam yang selalu bersih dan Islam yang berbudi luhur.

Definisi ini harus dipertegas bahwa tidak ada Islam itu sangar, keras, marah-marah, dan penuh emosi. Ekspresi Islam di Indonesia adalah Islam yang memperbaiki perilaku, Islam yang dapat menyatukan perbedaan, dan Islam yang mendamaikan konflik. Itulah Islam yang diekspresikan oleh muslim Indonesia.