isolasi 1
isolasi 1

Bagaimana Hukum Mengisolasi Korban Virus Corona

Di awal tahun 2000-an, dunia kesehatan  sempat dikagetkan dengan mewabahnya virus antraks. Setelah dua puluh tahun virus itu lenyap, lahir virus baru yang sama-sama ganas mematikan, yaitu virus corona.

Virus corona yang diketahui belakangan ini menyergap negeri Cina, sempat menggegerkan dunia kesehatan. Virus Corona, gejalanya hampir mirip dengan SARS bahkan sangat mirip juga dengan sakit flu biasa. Karena virus ini adalah jenis virus yang bisa dikatakan baru di dunia kesehatan maka vaksinnya pun masih dalam proses riset, dan penyempurnaan. 

Yang bahaya dari virus corona ini adalah penularannya yang mudah dan tingkat mortalitas (kematian) yang sangat tinggi sehingga layak untuk diwaspadai. Penularan bisa terjadi dari beberapa hal seperti contohnya : lendir, batuk, dahak, dan pegangan pintu. Sehingga upaya pencegahan yang harus anda lakukan adalah memakai masker dan sering mencuci tangan.

Karena gejalanya mirip sekali dengan flu, demam tinggi dan kadang disertai batuk. Namun bahayanya adalah virus ini lebih cepat menyerang ke paru. Jadi efeknya, akan sangat berbahaya. Kelompok yang mudah terserang penyakit ini adalah orang dengan kekebalan tubuh rendah, anak anak, orang dalam perjalanan jauh, orang yang makan tidak teratur. Dan saat ini virus corona mulai menghantui dan mengancam negara-negara jiran Cina, yang trdekat adalah Malaysia.

Fenomena di atas, memunculkan pertanyaan pertanyaan dalam term fikih. Wajibkah, orang yang terjangkit virus corona diisolasi? atau diasingkan dari pergaulan sosial? Apakah tidak melanggar Hak Asasi manusia?

Pandangan Fikih tentang Isolasi dari Penyakit

Islam sangat peduli terhadap keselamatan umat. Terbukti, menurut al-Syathibi, menjaga keberlangsungan kehidupan (Hifdh al-nafs) menjadi salah satu dari lima hal primer yang harus dijaga ketat.

Baca Juga:  Hukum Menulis al Qur'an dengan Selain Bahasa Arab

Dalam kajian hukum, dalam rangka menjaga keberlangsungan kehidupan ini, Qishash diberlakukan. Dan juga bisa diaplikasikan pada kasus kasus serupa yang mengancam kehidupan, seperti menjauhkan penularan virus corona. Dengan catatan, secara ilmiah virus ini memang terbukti menular dan mematikan. Nabi Muhammad bersabda:

فر من المجذوم فرارك من الأسد

Larilah kamu dari orang yang terkena penyakit kusta, judzam (penyakit berbahaya dan menular) seperti kamu berlarinya (ketika) melihat atau dikejar harimau. HR al-Baihaqi: 350

Secara sharih hadits ini memerintahkan (wajib hukumnya) kepada siapapun untuk menghindar dan menyelamatkan diri dari penularan kusta, karena kusta tergolong penyakit berbahaya dan menular dan dapat mengancam kematian.

Bila dianalogikan dengan virus corona, kusta tidak jauh berbeda. Keduanya memiliki tingkat mortalitas yang tinggi. Secara tersirat, hadits ini hendak menjelaskan juga, bahwa harus ada pemukiman isolasi khusus hunian para korban virus corona. Kenapa? Supaya virus ini tidak menemukan ruang jangkau yang leluasa untuk menularkan virusnya.

Lalu apakah tidak melanggar hak Asasi Manusia? Tidak ! justru dengan diasingkannya para korban, demi kelestarian Hak Asasi manusia, yaitu Hifdh al-Nafs (menjaga keberlangsungan hidup ) tetap terjamin.

Wallahu a’lam

Bagikan Artikel ini:

About Abdul Walid

Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo

Check Also

hewan yang haram

Fikih Hewan (1): Ciri Hewan yang Haram Dimakan

Soal halal-haram begitu sentral dan krusial dalam pandangan kaum muslimin. Halal-haram merupakan batas antara yang …

tradisi manaqib

Tradisi Membaca Manaqib, Adakah Anjurannya ?

Salah satu amaliyah Nahdhiyyah yang gencar dibid’ahkan, bahkan disyirikkan adalah manaqiban. Tak sekedar memiliki aspek …