Carilah Yang ‘Benar’ Sampai Ke Negeri Cina (Bagian II)

0
274

Perjalanan Senasib

Melihat perjalanan panjang sejarah Cina, tingkat peradaban dan kekayaan budaya, luas wilayah, jumlah penduduk serta pertumbuhan ekonomi yang pesat, sulit dielak bahwa Cina merupakan salah satu bangsa besar di dunia. Pada masa lalu, Cina Kuno adalah salah satu bangsa yang memiliki peradaban tinggi sejajar dengan Byzantium, Persia, Mesir. India dan Romawi.

Di balik kebesarannya, Cina pernah mengalami masa-masa yang paling buruk dan sarat penghinaan akibat ekspansi dan invasi para kolonialis bangsa-bangsa Barat, Jepang, Mongol dan Manchuria yang oleh bangsa Cina dianggap telah menghancurkan martabat, harga diri dan keutuhan Cina. Pada masa kekuasaan kerajaan-kerajaan Cina juga dipenuhi dengan peperangan.

Bangsa Cina mungkin bisa memaafkan, tetapi tidak akan pernah melupakan masa-masa yang pahit, menyakitkan dan penuh penderitaan. Peristiwa sejarah itu telah dijadikan semangat dan daya dorong oleh Cina untuk bangkit agar peristiwa menyakitkan ini tidak terulang kembali. Negara ini berkeyakinan untuk mempu mewujudkannya hanya dapat dilakukan bila Cina kaya dan kuat.

Hari ini dunia menyaksikan Cina yang berparas lain, yang telah bangkit dari keterpurkan. Meski sana-sini masih banyak tersisa pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dan masih jauh dari cita-cita yang ingin diwujudkan. Dunia dengan seksama mengamati kebangkitan Cina.

Ada yang menyambut optimis dan harapan agar Cina dapat berperan sebagai motor pendorong dan bersama-sama dengan dunia lain untuk menciptakan dunia yang sejahtera, damai dan berkeadilan. Tetapi tidak sedikit yang cemas dan kuatir, Cina akan tumbuh menjadi kekuatan hegemoni baru sehingga akan manjadi apa yang sering digaungkan sebagai  ‘ancaman Cina’.

Bangsa Cina dengan ajaran Konghuchu yang kuat menjadi sumber spiritual dalam membangun bangsanya. Dengan pengaruh ajaran Konghuchu, pada masa kerajaan di Cina, para kaisar Cina mempunyai misi menarik semua yang ada di bumi ke dalam keharmonisan sesuai Konghuchu. Di bawah duli pemahaman ini pula, Cina mengembangkan kerjasama dan persahabatan serta hubungan perdagangan dengan negara lain sedari dulu.

Baca Juga:  Waspada Gaya Politik Khawarij: Mengkafirkan Sesama Muslim

Pelayaran muhibah yang diemban Cheng Ho yang dikenal sebagai muslim taat dan toleran berhasil dilaksanakan dengan baik. Cheng Ho telah melakukan ‘gunboat diplomacy’  yang nuansa dan praktiknya sangat berbeda dengan misi negara-negara Eropa yang berhasil mencabik-cabik pada masa dinati Qing. Dalam melakukan ekspedisinya, Cheng Ho tidak melakukan penekanan militer terhadap negara-negara yang dikunjunginya. Tentara hanya digunakan untuk menghadapi bajak laut. Dalam menggambarkan perjalanan Cheng Ho ini, Buya Hamka pernah menuliskan: “senjata alat pembunuh tidak banyak dalam kapal tersebut, yang banyak adalah senjata budi yang dipersembahkan kepada raja-raja yang diziarahi.” (Aa Kustia; 2009).

Seiring waktu, dalam sejarah Cina moderen, sikap keterbukaan kembali ditetapkan setelah sekian lama tertutup oleh karena idiologi komunisme yang kaku yang dipegang erat oleh Mao Zedong. Deng Xiaoping pemimpin kharismatis Cina lulusan universitas di Perancis yang dengan gigih memperjuangkan keterbukaan. Cina harus terbuka untuk bisa maju. Dalam ungkapannya,”adalah mustahil bagi suatu negara untuk menutup diri terhadap dunia luar. Kita telah mengalami penderitaan akibat menutup diri.”

Gebrakan yang dimulai Deng Xiaoping ini yang membuat Cina perlahan tapi pasti bergerak maju. Negeri yang lalu dijuluki ‘Tirai Bambu’ ini  membuka pasar bebas. Ekonomi tidak lagi terpusat sebagaimana komunisme. Perkembangan selanjutnya justru mencengangkan. Dari ekonemo liberal ini melahirkan pengusaha sukses bahkan konglomerasi. Salah satunya adalah Jack Ma yang perusahaannya menjalar kemana-mana. Bila begini, apakah masih layak Cina disebut dipatrapi sebagai negara komunis?

Sebenarnya bila diamati sejak awal reformasi digulirkan, Deng Xiao Ping dan kawan-kawan tidak memiliki cetak biru tentang Cina yang akan dibangun. Mereka hanya memiliki semangat dan hasrat besar serta komitmen untuk membangun Cina yang kuat dan maju. Komitmen ini merupakan jawaban atas berbagai persolan dan kesulitan yang dihadapi.

Baca Juga:  Ijma’ Jalan Menuju Islam Kaffah

Tak heran, beberapa  ilmuwan sosial yang mengamati kemajuan Cina tidak lepas dari  lambaran ajaran Konghuchu. Sebelumnya, sosiolog Max Weber melihat kemajuan atau modernisasi yang terjadi di negara Barat akibat kekuatan dari Etika Protestan. Werner Sombart  menyebut etos Yahudi-lah yang membangunkan Barat. Dan juga filsuf Indonesia Sutan Takdir Alisyahbana yang meyakini Islam yang akan menjadi spirit kemajuan bangsa Indonesia. Maka apa yang terjadi di Cina begitulah adanya tak bisa dilepaskan dari nilai-nilai Konghuchu.

Kemajuan Cina yang sedemikian rupa, sampai-sampai Huntington mengingatkan ke depan akan terjadi ‘benturan peradaban’ yang mengancam dunia Barat. Benturan itu akan melahirkan kekuatan koalisi antara Konfusionisme dan Islam bersatu melawan peradaban Barat. Sayangnya, negeri-negeri  muslim termasuk di Timur Tengah saat ini sedang diribeti oleh kegarangan puritanisme Wahabi yang mengorek-orek masalah remeh temeh (furuiyah) yang bikin konflik antar kelompok muslim. Diperuncing pula,  dibantai oleh kekuatan radikal-teroris oleh brutalisme ISIS sehingga tepar, lunglai tak berdaya. Yang pasti, saat ini Cina telah menjadi ‘super power’ kedua setelah Amerika.  

Bangsa Indonesia sejatinya mempunyai kesamaan nasib dengan bangsa Cina. Penjajahan dari negara Barat, yaitu Portugis, Belanda dan Inggris disusul Jepang telah melahirkan penderitaan dan penghinaan yang luar biasa. Alam yang penuh dengan mutu manikam sumber kehidupan dikuras bangsa asing. Penduduk pribumi hanya menjadi jongos yang tak berharga. Sebelumnya, di nusantara berdiri kerajaan-kerajaan besar yang akhirnya runtuh satu persatu. Peperangan antar kerajaan untuk saling menancapkan ambisi kekuasaan mewarnai perjalanan bangsa Indonesia. Intrik-intrik politik para penggedhe kerajaan ikut menyumbang konflik yang berdarah-darah.

Pengalaman bangsa Indonesia yang sedemikian amuk itu, bukan untuk diratapi dan berdendam kesumat. Namun penting untuk menjadi ‘kaca benggala’ historisitas keindonesiaan yang menumbuhkan kesadaran bahwa segala bentuk penindasan dan penjajahan atas umat manusia akan melahirkan kepedihan dan kepahitan tiada tara. Sembari itu, akan memantik pencerahan untuk melanjutkan perjuangan bangsa Indonesia demi mencapai kemakmuran dan keadilan bagi rakyat.  

Baca Juga:  Imam Abu Hanifah: Generasi Tabiin Pendiri Madzhab

Saat ini, bangsa Indonesia tengah laju-lajunya membangun baik infrastruktur maupun sumber daya manusia. Sebagai bangsa besar dengan jumlah penduduk yang kian berjubel, berpulau-pulau, beranekaragam etnis, agama dan kepercayaan, sudah semestinya ini semua menjadi aset yang sangat berharga untuk mengejawantahkan cita-cita bangsa menuju kemakmuran. Untuk itu, keterbukaan menjadi  keniscayaan. Terhadap bangsa dan negara lain, keterbukaan perlu dijalin dengan sebaik-baiknnya.

Pembangunan sebuah negara dewasa ini akan  selalu mengharuskan adanya investasi dari negara lain. Seperti prinsip bagi negara Cina, ‘investasi adalah Tuhan’’ yang membuat Cina sangat terbuka bagi peluang investasi negara lain. Pasar yang besar baik Cina maupun Indonesia berpotensi besar mampu menarik negara lain untuk menanamkan modalnya yang nantinya diharapkan akan memberikan tetesan atau bahkan tumpahan kemakmuran bagi masyarakat.

Namun, tegaknya sebuah negara dan bangsa bukan hanya semata bertumpu pada investasi ekonomi dan kekuatan militer. Bidang-bidang lain yang mendukung ‘kerja peradaban’ seperti kekayaan tradisi lokal, sastra, kesenian, dan ragam kebudayaan lainnya menjadi ‘maskot’  sebuah bangsa untuk merekatkan interaksi dengan bangsa lain yang didasari prinsip saling menguntungkan (mutual understanding).

Nah,  disinilah akhirnya saya yang awam ini semakin mafhum bahwa perlunya terus menerus ‘dialog peradaban’ (hiwar al-hadhoroh) untuk saling memahami dan menerima secara terbuka antar bangsa (qabbul akhor). Serunut itu, dengan dialog bermanfaat untuk melerai segala bentuk ekstrimisme (tathorruf) yang saat ini di Indonesia sedang menanjak.

Tinggalkan Balasan