Uighur yang tinggal nun jauh di sana, saat ini tengah membara dan ‘baranya’ telah menebar hawa panas ke mana-mana. Apa yang disebut ‘penindasan sistematis’ terhadap etnis Muslim Uighur Tiongkok di daerah Otonomi Xinjiang itu telah membuat ‘sengatan’ bagi  masyarakat dunia dan khususnya muslim di berbagai belahan dunia. Penindasan terhadap Uighur sepertinya memiliki ‘sejarah’ panjang dengan Cina.  Dan kini menuangkan babak baru yang pelik.

Di Indonesia, kecemasan bersahutan dengan kemarahan kalangan muslim khususnya kelompok Islamis terasa begitu membara. Ungkapan mengutuk, caci maki dan bahkan siap untuk berjihad dalam arti perang terus bergelora. Ya, kasus Uighur telah membangkitkan militansi yang kian membatu. Lagi-lagi pekik ‘jihad’ berkumandang begitu memekakkan di ‘dunia maya’ dan ’dunia nyata’. Gegara Uighur ini pula, masyarakat  kian ‘terbelah’ kembali antara yang pro dan kontra.

Masih terngiang dalam ingatan, prahara Uighur  menjelma ‘politis’ ketika kampanye pemilihan presiden April 2019 lalu.  Suasana pesta demokrasi yang sejatinya demi membangun harapan baru, menjadi porak poranda. Aksi dukung mendukung tak lagi ‘natural’,  tetapi sudah merengsek dalam wujud dukungan antara ultra-nasionalis dan kelompok Islamis.

Lalu, memuncah tuduhan bahwa Jokowi sebagai petahana terlalu bergantung pada Cina Tuduhan Oposisi Tuduhan pendukung Prabowo adalah bagian dari arus bawah anti-Cina yang lebih luas dalam oposisi Islamis. Mereka menggabungkan beberapa elemen, termasuk dugaan latarbelakang etnis Jokowi, ketidaksukaan oposisi akan ketergantungannya pada perusahaan-perusahaan Cina, pinjaman dan pekerja untuk proyek infrastruktur, dan keyakinannya bahwa banjir pekerja Cina akan mengarah pada kebangkitan kembali komunisme. Dan hingga hari ini, kita saksikan demo-demo yang melebar pada sentimen anti Cina sembari penggalangan dana untuk Uighur kian membuncah dan ini sepertinya makin menjasadnya  ‘blok aliran’  dalam tubuh masyarakat.

Jejak Militansi  

Jauh-jauh hari, khalayak negeri ini terkagetkan oleh ‘kehadiran’ orang Uighur dalam jaringan radikal di Poso. Orang-orang Uighur yang ikut bertempur bersama Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso yang berafiliasi ke ISIS ini memang semuanya terbunuh pada tahun 2016 selama aksi gabungan polisi-militer yang dikenal sebagai Operasi Tinombala. Sadik Yorulmas alias Abdul Azis; Ismail Turan alias Abu Basir, juga dikenal sebagai Joko Uighur; Bahtusan Malagasi alias Farouk; dan Nuretin Gundogdu alias Abdul adalah para kombatan asal Uighur yang akhirnya semuanya terbunuh pada Maret 2016. Ada lagi, Mustafa Genc alias Musab terbunuh beberapa minggu kemudian di bulan April. Santoso sendiri terbunuh pada Juli. Satu lagi, pada 7 Agustus, seorang Uighur bernama Ibrahim ditembak dan dibunuh. Laporan pers pada saat itu mengatakan bahwa Ibrahim telah berada di Poso sejak 2013.

Seorang anggota ISIS Indonesia di Suriah, Bagus Maskuron, yang sekarang sudah tewas, telah menghubungi Santoso di Poso untuk menerima dan melatih para Uighur tersebut. Maskuron  juga telah berhubungan dengan kelompok ISIS di Suriah, dengan menyusun rencana untuk mengalihkan warga Uighur yang melarikan diri dari Xinjiang ke daerah konflik di Asia Tenggara.

Dengan cara ini, para pejuang Islamis lokal bisa mendapatkan kombatan tambahan dan Uighur yang bisa dilatih untuk mendapatkan keterampilan tempur. Maskuron memberi tahu seorang warga Indonesia bahwa “ribuan” akan dikirim untuk bergabung dengan Santoso. Orang-orang Uighur ini bukan yang pertama mencoba dan bergabung dengan jihadis di sana. Beberapa orang lainnya telah tiba di Sulawesi pada akhir 2013 atau awal 2014, tetapi ini adalah yang pertama kali ditangkap. Mereka bertemu di Malaysia, tiba dengan rute berbeda (IPAC; 2019)

Kisah militansi Uighur terus menoreh. Pada 17 Agustus 2015, sebuah pemboman di kuil Erawan di Bangkok menewaskan 20 dan melukai 125. Kuil ini populer di kalangan pengunjung Tiongkok, dan lebih banyak warga Cina yang menjadi korban daripada warga negara lain kecuali warga Thailand. Pada 29 Agustus, polisi menangkap seorang Uighur bernama Adem Karadag alias Bilal Mohammed di sebuah apartemen tempat mereka juga menemukan bahan peledak dan ratusan paspor lainnya. Adem sendiri memiliki paspor Turki palsu. Beberapa hari kemudian mereka menangkap seorang Uighur kedua, Yusufu Mieraili, dekat perbatasan Kamboja. Sumber-sumber kepolisian Thailand mengatakan pada saat itu bahwa pemboman itu tampaknya sebagai pembalasan atas deportasi Thailand terhadap 109 warga Uighur sebulan sebelumnya dan bahwa para pembom itu pada awalnya berencana untuk menyerang target Kamboja.

Pada Oktober 2015, dua orang Uighur lagi muncul di Indonesia. Nur Memet Abdullah alias Ali dan Halide Tuerxin alias Muhammad tiba di pulau Batam dari Malaysia. Kali ini, kontak ISIS di Suriah adalah Bahrun Naim, pria asal Solo  yang telah pindah ke “ibukota” ISIS Raqqa, Suriah pada Januari 2015. Nur Memed sempat  bertemu dengan pria yang setahun kemudian meledakkan dirinya di kantor polisi Solo, yaitu Nur Rohman, warga Indonesia yang lahir dan besar di Solo, yang juga merupakan hasil kontak dari Bahrun Naim. Selanjutnya, kedua “Nur”  tersebut terbang ke Jakarta dan bergabung dengan sekelompok calon pembom di Bekasi. Nur Memed sempat dipersiapkan menjadi pembom bunuh diri. Dia tampaknya setuju, karena baginya lebih baik mati di Indonesia daripada di Cina.  Namun, di Bekasi bersama dengan ‘sel Batam’ keburu ditangkap pada Desember 2015 (IPAC; 2019).

Eksodus orang-orang Uighur militan tersebut sepertinya semua diawali antara 2013 dan 2016. Di negerinya,  telah terjadi eskalasi kekerasan yang dilakukan sekelompok Uighur di Tiongkok dan meningkatnya tindakan keras pemerintah Cina,  peningkatan keberangkatan orang Uighur ke Turki melalui Asia Tenggara,  dan internasionalisasi konflik di Suriah yang menarik pejuang jihad dari seluruh dunia. Faktor-faktor ini membawa jenis Uighur baru ke Asia Tenggara dengan mata rantai militan.

Pada 2013 di Cina, tindakan kekerasan yang diprakarsai oleh Uighur mulai tampak seperti serangan teror terencana yang menargetkan tempat-tempat umum. Insiden-insiden tersebut termasuk serangan kendaraan 2013 terhadap wisatawan di Lapangan Tiananmen, penusukan massal di stasiun kereta Kunming pada Maret 2014 yang menewaskan 33 orang; dan pemboman di Urumqi yang menewaskan 43 orang.

China semakin memfokuskan tuduhannya pada Gerakan Islam Turkestan Timur (ETIM), kadang-kadang juga disebut sebagai Partai Islam Turkistan (TIP). Sejak 2001, pihak berwenang China menuduh ETIM melakukan penghasutan untuk  aksi terorisme dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya di Tiongkok dan di luar negeri.  ETIM sendiri ditengara memiliki hubungan dengan al-Qaeda. Pasca kasus teror 11 September, Amerika Serikat pada tahun 2002 menetapkan ETIM sebagai organisasi teroris. Walaupun banyak analis meragukan tuduhan China bahwa ETIM adalah organisasi teror dengan kemampuan untuk melakukan serangan.

Memang  lebih banyak orang Uighur terlibat di antara milisi Islam ekstrim di Suriah, tetapi fokus mereka tampaknya lebih pada menghentikan penindasan di Xinjiang atau menyerang Tiongkok daripada bergabung dengan kekhalifahan global. Untuk saat ini, persebaran militan Uighur telah merambah ke beberapa negara. Teerbukti, setidaknya tiga belas orang Uighur bergabung dengan para ekstremis di Indonesia antara 2014 dan 2016, dan yang lain yang memiliki hubungan dengan ISIS muncul di Thailand. Lima orang yang dicurigai, tetapi tidak terbukti memiliki hubungan radikal tiba di Filipina selatan pada Juni 2014. Mereka telah menyeberang ke Zamboanga dari Sabah, Malaysia dan mengunjungi Abu Sayyaf di Basilan dan tetap dengan kontak dari Pejuang Kemerdekaan Islam Bangsamoro (BIFF) di Cotabato.

Bagaimana hubungan Uighur dan ekstremis Asia Tenggara? Diakui  ini merupakan fakta yang paling rumit. Pasalnya, melibatkan orang Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, dan Suriah. Kisah ini muncul dari penangkapan Suryadi Ma’soed, warga Indonesia dari kelompok pro-ISIS Jamaah Ansharud Daulah (JAD).

Dimulai pada akhir 2015, Suryadi melakukan empat perjalanan ke Mindanao dengan istri keduanya Neneng,. Tujuannya  membeli senjata untuk JAD dan untuk mengatur pelatihan Indonesia. Pada perjalanan ketiga, pada Maret-April 2016, ia dan istrinya pergi ke Basilan untuk bertemu Isnilon Hapilon, pemimpin lokal Abu Sayyaf dan amir dari koalisi ISIS di Filipina. Pada perjalanan keempat pada Juni 2016, ia menemani kelompok pertama peserta pelatihan Indonesia ke Basilan dan juga bertemu Dr. Mahmud, warga negara Malaysia yang telah tinggal di Basilan sejak April 2014 dan yang telah menjadi ahli strategi, perekrut dan pemodal koalisi ISIS. Perjalanan Suryadi dan pembelian senjata dibiayai sebagian melalui orang Indonesia yang dikenal sebagai Abu Asbal, anggota ISIS yang mengelola rumah perlindungan di Istanbul bagi orang Indonesia yang menunggu untuk menyeberang ke Suriah (IPAC: 2019).

Pada September 2016, Suryadi mendapat pesan mendesak atas aplikasi pengiriman pesan Telegram dari Abu Asbal di Turki yang memintanya pergi ke Thailand dan membantu seorang Uighur yang dikenal sebagai Hanzolah yang baru saja melarikan diri bersama tahanan Uighur lainnya dari pusat penahanan imigrasi Nong Khai di timur laut Thailand.  Pelarian terjadi pada 20 September. Handzolah rupanya menghubungi seorang Uighur di Turki bernama Abu Alif. Dan Abu Alif-lah yang meminta Abu Asbal untuk menemukan seseorang yang bisa membantu.

Suryadi segera pergi ke Thailand yang kali ini dengan istri pertamanya. Bersama-sama Abu Asbal, Suryadi mengatur dana perjalanan untuk perjalanan itu. Misi Suryadi adalah membantu Handzolah sampai ke Malaysia, dan dari sana ia akan pergi ke Turki. Namun Suryadi tidak memiliki kontak di Thailand, sehingga dia meminta bantuan Dr Mahmud. Mahmud mengiriminya pesan Telegram dengan menyodorkan nama seorang guru agama dari Pattani yang dapat membantu penyeberangan ke Malaysia.

Seluruh kronologis tersebut di atas, menunjukkan bahwa Abu Alif mungkin memiliki andil dalam mengatur beberapa kegiatan warga Uighur lainnya di Asia Tenggara. Fakta ini akan menarik untuk mengetahui apakah dia memiliki koneksi dengan Ahmet Bozoglan, warga Uighur dari Adana, atau dengan penghubung Uighur di Malaysia (IPAC; 2019).

Melerai Sikap

Masalah Uighur tampaknya tidaklah sederhana. Tudingan yang bertalu-talu adanya ketergantungan ekonomi pada Cina,  sehingga ‘ambyar’ tak jelas bersikap,  lebih bijak perlu memahami dinamika lokal. Indonesia pernah mendapatkan ‘limpahan’ kombatan Uighur di Poso serta keterjalinan mereka dengan kelompok atau perseorangan militan lokal.

Lebih banyak yang yakin bahwa peningkatan ‘deradikalisasi’ terhadap Uighur oleh Pemerintah Cina di Xinjiang dapat mengarah pada radikalisasi yang lebih besar atau kemungkinan upaya untuk melancarkan serangan di luar China. Íni pula yang menyodok pertanyaan tentang  ‘status’ Uighur sebagai separatis, teroris atau ekstrimis agama. Cara pandang terhadap status ini membawa implikasi pada ‘kanalisasi’ masalah, apakah itu persoalan domestik atau internasional.

Pastinya, lebih dari alasan lain, apapun eksploitasi atau penindasan berarti penghancuran terhadap kemanusian. Setakat itu, apapun bentuk terorisme adalah musuh bagi perdamaian. Dan dalam situasi seperti itu pula, ada tersisa dilema yang mengundang skeptis. Dan ini mungkin tak mudah diyakinkan.