Sebuah postingan di facebook datang dari Ustadz Irfan S Awwas. Beliau yang menjabat sebagai Ketua Lajnah Tanfidziah Majlis Mujahidin Indonesia (MMI) ini rupanya tertegun dan terkesima dengan tulisan yang cukup panjang dari perjalanan Ustadz Umair di Xinjiang, Tiongkok. Saya tidak tahu siapa Abu Umair ini, pastinya menurut saya tulisannya yang ditata dengan bahasa yang ‘menusuk’, tapi tidak meledak-ledak, cukuplah mengesankan.

Dalam tulisan yang bertajuk “Kota Bisu’ itu, Ustadz Umair bercerita tentang pertemuannya dengan sopir taksi saat berkeliling di kota Ashghar yang diam seribu bahasa saat ditanya apakah dia dari etnis Uyghur. Begitupun saat makan di sebuah rumah makan tradisional yang dikelola oleh orang Uyghur tak banyak pula ucapan yang terburai.

Walau sedikit banyak menguak ‘sisi mencekam’ tentang keberadaan mereka. Dari penampakan CCTV yang terpasang di jalan-jalan, bahkan di taksi dan juga di rumah makan, Ustadz Umair menyimpulkan betapa ada pengawasan yang begitu ketat terhadap gerak-gerik muslim Uyghur yang mayoritas. Ditambah lagi sulitnya mencari musholla, sampai-sampai Ustadz Umair seumur hidup baru kali ini shalat 4 waktu yaitu dzuhur, ashar, maghrib dan isyak gandeng renteng sekaligus alias dikerjakan secara bebarengan.

Sebuah reportase seadanya seperti ini wajar-wajar saja. Dalam bahasa santrinya, memang perlu  “kullu muddain mumtahan”, pengakuan atau tuduhan perlu pembuktian. Atau orang bule bilang ‘Seeing is believing’. Tuntutan empirik selaras dengan kebutuhan untuk memahami sesuatu.

Namun, tulisan semacam ini juga bukan ‘barang langka’, sudah cukup banyak tersebar di berbagai medsos baik yang menuturkan perjalanannya ke Xinjiang khususnya untuk  membuktikan dengan mata kepala sendiri sembari ‘mejeng’ berpose-pose tampil di layar facebook, maupun berwujud semburan saja yang begitu apologetik dengan disemaraki cacimaki dan kutukan terhadap pemerintah Cina dan juga publik yang dianggap ‘buta mata’ dan ‘buta hati’ terhadap  penderitaan muslim Uyghur. Bagi mereka yang belum sempat bertandang ke sana, tampaknya pelampiasan yang dipandang tepat dengan menguarkan komentar yang bernada ‘perang’. Bahkan di WAG, mereka yang tergolong ‘sumbu pendek’, sudah bertalu-talu menabuh genderang perang untuk berjihad membantu Muslim Uyghur.

Apakah sudah ada kombatan Indonesia yang berangkat ke sana untuk berjihad? Kok sampai sekarang nyaris belum terdengar. Yang sudah fakta malah beberapa orang Uyghur datang ke Indonesia membantu kelompok jihadis teroris untuk melawan pemerintah Indonesia seperti kasus di Poso dengan bergabung bersama Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santosa yang berakhir meregang nyawa oleh aparat.

Maka kita kenal nama-nama pemuda Uyghur ‘kepanasan’ seperti Sadik Yorulmas, Ismail Turan, Bahtusan Malaghasi, Nuretin Gundogdu, Musthafa Genc, Nur Memed Abdullah, Halide Tuerxin atau Ibrahim. Lebih dari itu, para exile kombatan Uyghur ini masuk jaringan teroris berfaham ISIS yaitu Jamaah Anshorud Daulah (JAD) yang tengah menggurita sel-selnya seperti ‘sel Batam’ atau ‘sel Bekasi’.  Belum lagi ribuan pelarian Uyghur yang hijrah ke Suriah demi cita idiologi khilafah.  Duh, Cekidot.

Menyikapi Dengan Cerdas  

Kisah tangkus mungkus tentang Cina ini, sangat beruntung ditanggapi oleh sebagian kalangan yang ‘bersumbu panjang’  dengan cara cerdas dan ilmiah. Pola amaliyatnya bukan pakai kampanye untuk ‘perang-perangan’ atau ‘menggoreng’ isu tersebut di ranah politik untuk meraup ‘kemarahan positif’ yang bisa menjadi konstituen militannya. Model jihadnya dengan menggelar diskusi publik yang bertemakan ‘Membincang Relasi Indonesia dan Cina’.  Dan ini dipandegani oleh pengurus PWNU DKI pada 16 Januari 2019 bertempat di Wahid Institute, Jakarta.

Pembicara yang dihadirkan kompeten di bidangnya masing-masing. Ada dari kalangan akademisi pakar hubungan internasional dari Universitas Indonesia, yaitu Ardhitya Eduard, pegiat literasi tentang Cina, yaitu Azmi Abubakar yang sukses mendirikan museum dan perpustakaan hingga punya koleksi 40-ribuan buku dan berbagai naskah maupun manuskrip, foto, dokumen dan lainnya tentang sejarah orang-orang Tionghoa khususnya di Indonesia. Ada lagi pembicara yang sedang menempuh pendidikan doktoral di sebuah universitas di Cina, yaitu Budi Sugandhi.  Pemandu diskusinya Ustadz Mukti Ali  yang menjabat sebagai Ketua Lembaga Bahsul Masaail (LBM) PWNU DKI sekaligus juga pegiat literasi di Rumah Daulat Buku (Rudalku).

Acara yang dihadiri ratusan peserta ini menghasilkan pemahaman yang sarwa matra. Dari paparan sejarah masuknya Islam di Cina yang dilakukan secara damai menunjukkan bagaimana proses interaksi peradaban terjalin elok. Cina yang merupakan salah satu peradaban kuno terbesar telah melahirkan penemuan akbar, yaitu kompas, kertas, cetak dan mesiu. Ini sekaligus membuktikan peradaban Cina telah maju jauh sebelum komunitas muslim lahir di tanah Arab.

Ada soal pengalaman menatapi langsung kehidupan muslim di Cina yang damai termasuk dikalangan muslim Uyghur. Pertemuan dengan seorang gadis cantik Uyghur yang menjadi teman sekampus dan mengakui apa yang terjadi di Uyghur tidaklah seperti yang didengungkan selaksa horor oleh masyarakat di negara lain. Bahkan lembaga-lembaga keislaman ada belasan yang berdiri dan diberi perlindungan oleh pemerintah Cina.

Bagaimana relasi Cina di Indonesia, ini menjadi babagan yang menarik diudar. Banyak yang terjadi dalam pertemuan budaya Cina dan Indonesia. Dari pakaian seperti baju takwa yang ternyata berasal dari baju koko dalam tradisi Cina. Dalam bidang kuliner, makanan-makanan yang populer di Indonesia semisal soto dan mie ternyata berasal dari tradisi kudapan Cina.

Tradisi lokal Cina tersebut kemudian mengalami ‘pribumisasi’ oleh masyarakat nusantara yang dilakukan oleh para ‘local genius’ sehingga memproduksi secara lebih kreatif. Yang mumbul misalnya lahir ‘’mie Aceh’, ‘soto Betawi’ dan masih banyak lagi. Dari sisi sejarah, tidak sedikit kontribusi masyarakat Cina di Indonesia yang berperanserta dalam masa-masa pergerakan. Semua ini termaktub dalam buku-buku dan naskah-naskah yang banyak terserak. Penelusuran literasi tampaknya menjadi sangat penting guna menyibak tirai yang mungkin saja selama ini tertutup akibat kepentingan maupun ekspresi negatif yang mendera.  

Sedikit tambahan, saya coba bongkar-bongkar perpustakaan pribadi saya. Ketemulah buku karya Leo Suryadinata yang berjudul Etnis Tionghoa dan Nasionalisme Indonesia: Sebuah Bunga Rampai, 1965-2008 terbitan tahun 2010. Di buku itu terkuak catatan sejarah tentang Liem Koen Hian, Tionghoa yang berpihak pada pergerakan nasional Indonesia. Liem adalah tokoh utama surat kabar Sin Tit Po yang berdiri pada 1929.

Ini adalah surat kabar orang-orang Tionghoa berbahasa Melayu yang menurut Leo Suryadinata, pelanggan koran ini tak hanya orang-orang Tionghoa, tapi juga kaum bumiputera. Jadi pengaruh koran ini juga meluas di luar kaum peranakan. Koran Sin Tit Po kerap menyiarkan berita-berita yang menguntungkan pergerakan nasional Indonesia.

Saya temukan juga dalam buku karya Rojil Nugroho Bayu Aji yang berjudul Tionghoa Surabaya dalam Sepakbola  besutan tahun 2010. Dalam buku itu dituliskan adanya gegeran kala itu.  Liem Koen Hian tak sudi koran yang dipimpinnya, Sin Tit Po, memberitakan pertandingan yang digelar Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB), asosiasi sepakbola yang menghimpun klub-klub yang didirikan orang-orang Eropa.

Saat itu, pada 1932, Liem berusaha keras melawan para jurnalis Belanda rasis yang melarang wartawan nonkulit putih untuk meliput. Pemboikotan tersebut tidak terlepas dari pandangan bangsa Tionghoa di Indonesia yang diperjuangkan Liem. Indonesia adalah tanah air dan kebangsaan orang-orang Tionghoa yang lahir di Hindia Belanda dan bukan Tionghoa yang letak geografisnya jauh dari Hindia Belanda.

Dari segi hubungan antar negara, Indonesia pernah mengalami pasang-surut hubungan diplomatik. Ada ‘tutup-buka’  dalam hubungan antar negara yang memiliki sejarah interaksi budaya yang panjang ini. Tercatat 23 tahun Indonesia pernah putus hubungan dengan negeri Cina. Saling-silang kepentingan yang berbalut idiologi dan kepentingan pragmatis menjadi rona-rona yang mewarnai jalinan antar bangsa ini. Dua bangsa ini pun akhirnya juga memiliki persepsi yang hampir sama dalam memandang ‘liyaning liyan’.

Masyarakat Indonesia seperti saat ini mengalami lonjakan persepsi yang memandang Cina sebagai ‘ancaman’ sehingga muncul penolakan-penolakan yang kerap membabi buta. Unsur idiologi dan keagamaan kemudian menjasad sebagai ‘pemantik’ untuk memperkuat pandangan dan sikap minor terhadap Cina. Ya, inilah yang disebut ‘Çhina threath’  yang menghantui benak sebagian masyarakat. Dan slogan ini pun dimassifkan oleh kelompok kepentingan baik ditingkat regional, nasional maupun negara dengan tujuan pragmatis.

Sementara, masyarakat Cina nun jauh di sana juga mempunyai persepsi yang hampir sama. Bedanya mungkin tidak segarang seperti yang dipersepsikan oleh sebagian masyarakat Indonesia. Pengalaman salah satu narsum diskusi tersebut ketika kuliah di sana, cukup menyentak ketika ada lontaran kata-kata dari warga lokal bahwa orang Indonesia memiliki sentimen anti Cina. Dan juga warga lokal ini dibuat kaget saat tahu bahwa narsum kita itu bukan beragama Islam. Banyak masyarakat Cina yang memiliki pandangan bahwa Indonesia ini negara Islam. Sehingga mungkin yang ada dibenaknya agak aneh bila ketemu orang Indonesia yang bukan beragama Islam.  Alamak!    

Segebung penelusuran sejarah, budaya, analisis sosial-politik hingga pengalaman-pengalaman langsung tatap muka (face to face interaction) yang muntah dalam diskusi tersebut menjadi ‘aset’ dan ‘energi positif’ yang  berharga dalam melihat kembali relasi Indonesia dan Cina. Tentu bukan bermaksud memperuncing polarisasi yang saat ini tengah berkecamuk di negeri kita. Sebaliknya, justru mencairkan kebekuan seraya memperkaya pandangan dalam hubungan ‘saling memandang’.

Dari sini, kearifan akan lahir dan menjadi ‘daya tangkal’ terhadap terjadinya sikap dan tindakan yang ahistoris dan kurang beradab. Sikap ilmiah perlu dikedepankan. Dengan sikap ini, berarti sikap yang mau menelaah, menyimak dan memilah-milah untuk menghasilkan ‘produk’ cara pandang dan pemahaman yang  setimbang dan obyektif.