Keseimbangan
Keseimbangan

Kaidah Fikih: Keseimbangan antara Manfaat dan Resiko

Siklus kehidupan dunia mengikuti dan tunduk terhadap pola keseimbangan. Ekosistem makhluk hidup tidak terlepas dari pola yang sama, yaitu keseimbangan. Jika salah satu komunitas, entah hewan reptil atau jenis hewan lain, mengalami kepunahan akan berimbas pada keseimbangan ekosistem lain yang akan mengancam kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Di situlah letak keadilan Tuhan. Antara satu spesies dengan spesies lain terdapat hubungan yang saling bergantung, di mana ketika sudah tidak seimbang akan menggoyahkan sistem kehidupan secara perlahan namun pasti.

Keseimbangan ini pada akhirnya harus merasuk ke dalam perilaku sendi-sendi kehidupan manusia, tak terkecuali dalam transaksi sosial, sebagaimana tujuan dan spirit dari kaidah berikut:

اَلخْرَاَجُ بِالضَّمَانِ.

 (Al-kharaj bi al-dlaman)

Artinya: “Hasil (manfaat) yang diterima berbanding dengan tanggung jawab (resiko).”

Kharaj adalah manfaat yang timbul atau hasil yang bersumber dari suatu barang dan tidak melekat terhadap barang tersebut. Sementara dlaman adalah bentuk tanggung jawab terhadap orang lain yang bersifat materi akibat kerusakan (dlarar) dari suatu barang. 

Maksud kaidah ini bahwa manfaat yang timbul dari suatu barang layak diterima oleh seseorang sebagai pengimbang bagi resiko kerusakan (dlarar) yang ia tanggung terhadap barang tersebut. Kaidah ini dikutip dari sebuah hadis dengan redaksi yang persis sama. Hadis riwayat dari Siti ‘Aisyah yang terdapat dalam empat kitab sunan (Abu Daud, At-Turmudzi, An-Nasai, Ibnu Majah).

Diceritakan bahwa seseorang telah membeli budak, setelah beberapa lama digunakan jasanya ternyata dijumpai aib pada budak tersebut. Lalu si pembeli mengadu kepada Rasulullah dan menyarankan untuk dikembalikan kepada penjualnya. Kemudian penjual protes: “Wahai Rasulullah! si pembeli sudah menggunakan jasa budakku”. Lantas Rasulullah bersabda: al-kharaj bi al-dlaman.

Dalam kasus ini Rasullah tidak mengizinkan penjual minta ganti rugi atas pemanfaatan jasa budaknya selama ada di tangan pembeli, karena manfaat tadi layak didapat sebagai pembanding tanggung jawab yang dipikul pembeli andai terjadi apa-apa terhadap budak tersebut selama di tangan pembeli. Hal demikian sudah imbang, maka harta milik pembeli yang dibayarkan kepada penjual harus dikembalikan utuh, tanpa pemotongan.

Baca Juga:  Masa Depan Tuhan di Mata Karen Armstrong

Aplikasi kaidah: Jika seseorang menemukan harta karun kemudian memanfaatkan atau bahkan menyewakan harta tersebut, jika suatu saat nanti pemiliknya datang, ia tidak wajib membayar ganti rugi atas apa yang telah ia manfaatkan dari harta tersebut.

Hikmah kaidah dalam kehidupan: Semua pilihan penuh dengan resiko, jika kita berani mengambil resiko yang lebih besar tentu hasil yang akan kita dapat juga berbanding dengan kemungkinan buruk yang akan terjadi. Jangan berkhayal akan mendapatkan hasil yang gemilang tanpa disertai perjuangan yang melelahkan.[]

Wallahu a’lam Bisshawab.

Referensi primer:

Ibrahim Muhammad Mahmud al-Hariri, Al-Madkhal ila al-Qawaid al-Fiqhiyyah al-Kulliyah, Dar ‘Imar, 1998.

Ahmad bin Syekh Muhammad al-Zarqa’, Syarh al-Qawaid al-Fiqhiyyah, Damasykus: Dar al-Qalam, 1989.

Muhammad Mushthafa al-Zuhaili, Al-Qawaid al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatuha fi al-Mazahib al-Arba’, Beirut: Dar al-Fikr, 2009.

Bagikan Artikel

About Zainol Huda

Zainol Huda
Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.