Makanan Syubhat
kriteria makanan dalam islam

Fikih Pangan (3): Hukum Hewan yang Hidup di Dua Alam

Masih seputar status hukum hewan atau binatang yang terklasifikasi berdasarkan habitat kehidupannya. Dalam dua artikel sebelumnya telah dibahas bagian yang pertama dan yang kedua, yaitu binatang air (al-hayawan al-ma’iy) dan binatang darat (al-hayawan al-barriy). Untuk klasifikasi yang terakhir dapat disimak melalui penjelasan berikut. 

Bagianketigaadalahhewan yang hidup di dua alam atau dalam fikih dikenal dengan istilah “al-hayawan al-barma’i“. Penggunaan istilah al-barma’i ini sebenarnya penggabungan dari dari dua kata barriy (hewan darat)dan ma’iy (hewan air) yang menjadi bagian dari macam-macam hewan berdasarkan habitatnya.

Dalam ilmu Biologi hewan jenis ini dikenal dengan istilah amfibi. Amfibia atau amfibi (amphibia), umumnya didefinisikan sebagai hewan bertulang belakang (vertebrata) yang hidup di dua alam, yakni di air dan di daratan. Amphibia berasal dari bahasa Yunani, yaitu amphi yang berarti dua dan bios yang berarti hidup. Oleh karena itu, amphibi diartikan sebagai hewan yang mempunyai dua bentuk kehidupan, yaitu di darat dan di air.

Amfibia bertelur di air atau menyimpan telurnya di tempat yang lembab dan basah. Ketika menetas, larvanya yang dinamai berudu hidup di air atau tempat basah tersebut dan bernapas dengan insang. Setelah beberapa lama, berudu kemudian berubah bentuk (bermetamorfosa) menjadi hewan dewasa, yang umumnya hidup di daratan atau di tempat-tempat yang lebih kering dan bernapas dengan paru-paru. Beberapa contoh hewan yang tergolong ke dalam jenis hewan amfibi, antara lain katak, kodok, salamander, axoloti, kadal air, sesilia (caecilia), dan diflocaulus. (https://www.gurupendidikan.co.id/pengertian-amfibi)

Dalam banyak literatur fikih disebutkan bahwa jenis hewan yang tergolong hidup di dua alam ini antara lain adalah katak, buaya, penyu/kura-kura, dan kepiting. Dengan demikian, para ulama lebih fokus mengkaji hukum mengkonsumsi hewan-hewan tersebut. Sehingga perbedaan muncul dalam menyikapi jenis hewan di atas.

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Mempertahankan Lebih Mudah dari pada Memulai

Menurut ulama Hanafiyah dan Syafiiyah semua jenis hewan yang hidup di dua alam tidak boleh dikonsumsi tanpa terkecuali. Argumentasi yang dibangun oleh kelompok ini bahwa hewan tersebut termasuk hewan yang kotor dan menjijikkan (al-khabaits), sehingga tercakup oleh keumuman teks Al-Qur’an surat al-A’raf ayat 157.

Sementara menurut ulama Malikiyah jenis hewan ini boleh dikonsumsi kecuali jenis hewan yang telah dijelaskan dalam syariat tentang keharaman mengkonsumsinya. Artinya, jika terdapat jenis hewan yang tergolong amfibi, namun tidak ada teks Al-Qur’an maupun hadis yang menjelaskan bahwa hewan tersebut haram, maka dalam hal ini dihukumi boleh menurut Malikiyah.

Oleh sebab itu, menurut Malikiyah diperbolehkan mengkonsumsi katak, penyu, dan kepiting, karena tidak ada nas syar’i yang menjelaskan keharaman hewan-hewan ini. Pengharaman hewan yang dianggap kotor dan menjijikkan tetap harus berdasarkan nas syar’i, bukan sekedar menggunakan barometer jiwa yang sehat dan normal (al-thiba’ al-salimah).

Sedangkan menurut ulama Hanabilah semua binatang laut yang dapat hidup di darat tidak boleh dikonsumsi kecuali disembelih terlebih dahulu, seperti penyu dan anjing laut serta kepiting. Hanabilah juga mengharamkan mengkonsumsi katak. Sedangkan buaya semua ulama sepakat tentang keharaman mengkonsumsinya. (Wahbah Zuhaili, Al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuh, (Beirut: Dar al-Fikr, Cet. II, 1985), III/687).

Ada sedikit perbedaan tentang kategori hewan yang hidup di dua alam. Dalam perkembangan terakhir ilmu Biologi menyatakan bahwa buaya dan kura-kura bukanlah jenis hewan amfibi, namun tergolong jenis reptil yang memiliki berbagai perbedaan dengan amfibi. Sementara para pakar fikih klasik memasukkan hewan tersebut dalam kategori hewan yang hidup di dua alam, termasuk juga kepiting.

Terkait dengan kepiting, pada tahun 2002 Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa tentang hukum kepiting. Dalam fatwa tersebut diputuskan bahwa kepiting halal dikonsumsi sepanjang tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatan manusia. Fatwa ini didasarkan pada hasil temuan mereka yang menyebutkan bahwa kepiting merupakan binatang air, baik air laut maupun air tawar, dan bukan binatang yang hidup di dua alam; di laut dan di darat.

Baca Juga:  Kaidah Fikih Cabang Ketiga: Solusi Pilihan Dilematis

Terlepas dari perbedaan kategori, sebenarnya klasifikasi hewan berdasarkan habitatnya hanyalah bagian dari upaya memudahkan dalam memberi status hukum, bukan menjadi alasan satu-satunya untuk menghukumi halal atau haram. Namun, ada kriteria lain dan alasan-alasan yang mendasari mengapa hewan-hewan tersebut dihukumi haram.

Langkah pertama yang harus ditempuh adalah dikembalikan kepada nas-nas syar’i. Jika tidak dijumpai penjelasan yang terang benderang, maka dikembalikan kepada kaidah umum bahwa al-ashlu fi al-asyya’ al-ibahah (pada dasarnya segala sesuatu itu dihukumi boleh). Barometer berikutnya adalah efek yang ditimbulkan, apakah mengandung bahaya bagi kesehatan ataukah tidak. Lalu menggunakan ukuran jiwa yang sehat dan normal, apakah dipandang kotor dan menjijikkan atau tidak (al-khabaits). []

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Zainol Huda

Zainol Huda
Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.