Mengenal Jenis Kaidah Fikih

0
286

Sebelum lebih jauh mempelajari dan mempraktikkan kaidah fikih dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan hukum syar’i ataupun etika dan norma-norma sosial, terlebih dahulu hendaknya memahami jenis-jenis kaidah fikih. Klasifikasi kaidah ini mengacu pada cakupan dan jangkauan terhadap kasus fikih yang menjadi garapannya. Menurut Muhammad Musthafa al-Zuhailiy terdapat 4 macam jenis kaidah fikih:

Pertama, kaidah asasiyah kubra (kaidah induk) yang menjadi rujukan dan disepakati semua mazhab dalam fikih. Kaidah ini mempunyai rujukan langsung teks Al-Qur’an dan Hadis. Ada 5 kaidah yang masuk dalam kategori ini. Maka sering pula kaidah ini disebut dengan al-qawaid al-khamsah al-asasiyah (kaidah-kaidah lima yang menjadi induk). Kaidah tersebut adalah sebagai berikut: (1) al-umur bi maqashidiha (segala sesuatu tergantung pada tujuannya), (2) al-yaqin la yazul bi al-syakk (keyakinan tidak bisa dikalahkan dengan keraguan), (3) al-masyaqqah tajlib al-taisir (kesulitan akan membawa kemudahan/sengsara membawa nikmat), (4) al-dlarar yuzal (kemudaratan harus dihilangkan), (5) al-‘adah muhakkamah (adat/kebiasaan dapat dijadikan pijakan hukum).

Kedua, kaidah kulliyah (umum) yang bisa diterima oleh semua mazhab dalam fikih, namun cakupannya lebih sempit dibandingkan kaidah jenis pertama. Umumnya kaidah ini bernaung di bawah kaidah induk yang lima sebagai kaidah cabang. Contoh kaidah yang berbunyi, al-qadim yutraku ‘ala qidamih (segala sesuatu yang telah ada harus dibiarkan seperti adanya, yang lalu biarlah berlalu). Kaidah ini bernaung di bawah kaidah induk kedua, yakni keyakinan tidak bisa dikalahkan dengan keraguan semata.

Ketiga, kaidah mazhab. Kaidah jenis ini hanya berlaku pada salah satu mazhab sebagai ciri khas mazhabnya. Akan tetapi, bukan berarti tidak digunakan oleh mazhab lain, hanya saja sangat jarang. Contoh kaidah yang berbunyi, man ista’jala syaian qabla awanih ‘uqiba bi hirmanih (barang siapa terburu-buru melakukan sesuatu sebelum waktunya maka berakibat tidak akan mendapatkan manfaatnya), kaidah ini banyak dipraktikkan dalam mazhab Maliki, Hanafi, Hanbali, jarang sekali diaplikasikan oleh mazhab Syafi’i. Contoh lain kaidah yang berbunyi, al-rukhash la tunath bi al-ma’ashi (dispensasi hukum tidak boleh dikaitkan terhadap perbuatan maksiat), kaidah ini sangat populer dalam mazhab Syafi’i dan Hanbali, namun tidak lumrah digunakan dalam mazhab Hanafi.

Keempat, kaidah yang masih diperdebatkan di internal mazhab. Kaidah jenis ini masih menjadi perdebatan dalam intenal mazhab, sehingga dalam redaksinya sering diawali dengan kata pertanyaan “apakah”. Contoh kaidah yang berbunyi, hal al-ibrah aw bi al-ma’ali? (apakah yang menjadi acuan itu kondisi saat ini atau di masa mendatang?). Ini merupakan kaidah yang berlaku dalam mazhab Syafi’i. Oleh karena itu, dalam keputusan internal mazhab kasus yang mengacu pada kaidah ini akan menghasilkan dua pendapat.

Empat jenis kaidah di atas haruslah dipahami agar dalam aplikasi nantinya tidak terkesan sporadis dan serampangan. Ulasan masing-masing kaidah secara detail dan mendalam akan dibahas dalam tulisan selanjutnya satu persatu secara berkesinambungan.[]

Wallahu ‘alam