kaidah fikih proses
kaidah fikih proses

Kaidah Fikih: Hasil Tak Mendustai Proses

Kecenderungan mayoritas manusia hanya melihat kemegahan hasil yang tercapai saat ini, tanpa harus tahu dan peduli terhadap proses apa yang telah dijalani. Budaya instan yang melanda generasi melinial ini tidak hanya berlaku dalam soal makanan yang serba instan. Tak terkecuali dalam menggapai kesuksesan dan cita-cita corak pandang yang digunakan juga menjadi instan.

Padahal, sebuah kesuksesan gemilang yang tersemat pada orang lain bukan terjadi begitu saja tanpa melalui proses panjang. Kenikmatan yang sedang diraih sudah berbanding lurus dengan usaha dan proses yang dilakukan. Sejauh mana kesulitan dan rintangan dalam menjalani proses akan terukur dengan keberhasilan yang akan dicapai.

Kaidah ini menjadi semacam konklusi terhadap dua kaidah sebelumnya, kaidah tersebut berbunyi:

اَلنِّعْمَةُ بِقَدْرِ النِّقْمَةِ وَالنِّقْمَةُ بِقَدْرِ اَلنِّعْمَةِ.

 (Al-ni’mah biqadri al-niqmah wa al-niqmah biqadri al-ni’mah)

Artinya: “Kenikmatan diukur dengan kadar kesusahan, dan kesusahan juga diukur dengan kadar kenikmatan.”

Penggalan kalimat pertama menjadi konklusi dari kaidah al-kharaj bi al-dlaman, manfaat yang diterima berbanding dengan resiko yang telah menjadi tanggung jawabnya. Sedangkan penggalan kalimat kedua setali dengan kaidah al-ghurm bi al-ghunm, kerugian berimbang dengan manfaat yang dirasakan. Oleh karena itu, kaidah ini merangkum dua kaidah sebelumnya.

Namun terdapat pendapat yang memberikan garis pembeda dengan dua kaidah sebelumnya. Dua kaidah yang lalu semata-mata berbicara soal pertukaran dua kutub manfaat dan mafsadah tanpa melihat kadar masing-masing secara proporsional. Sementara kaidah ini menarasikan kadar yang sebanding antara manfaat dan mafsadah. Penafsiran tentang “kadar sebanding” dapat dipahami dari penggunaan kata biqadri.

Dengan demikian, penafsiran yang kedua ini layak diunggulkan. Berdasarkan penafsiran ini, maka setiap kenikmatan yang menyapa manusia akan berbanding lurus dengan kesulitan dan masyakah yang ditempuhnya. (Muhammad Mushthafa al-Zuhaili, Al-Qawaid al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatuha fi al-Mazahib al-Arba’, hal. 545., Ahmad bin Syekh Muhammad al-Zarqa’, Syarh al-Qawaid al-Fiqhiyyah, hal. 441).

Baca Juga:  Kaidah Fikih Cabang Kedua: Dhan (Dugaan Kuat) yang Ternyata Salah

Aplikasi kaidah: Biaya renovasi hotel yang dimiliki oleh dua orang yang sama-sama berinvestasi di dalamnya dibebankan terhadap mereka berdua sesuai kadar saham yang mereka investasikan. Manisnya laba yang mereka nikmati dari hasil omset hotel tersebut berbanding lurus dengan biaya renovasi yang mereka keluarkan.

Hikmah kaidah dalam kehidupan: jangan bermimpi meraih gunung yang tinggi, jika zero usaha dalam proses. Kata pepatah, berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Apa yang yang kita dapatkan sesuai dengan apa yang kita korbankan dalam mencapai sebuah tujuan. []

Wallahu a’lam Bisshawab.

Referensi primer:

Ibrahim Muhammad Mahmud al-Hariri, Al-Madkhal ila al-Qawaid al-Fiqhiyyah al-Kulliyah, Dar ‘Imar, 1998.

Ahmad bin Syekh Muhammad al-Zarqa’, Syarh al-Qawaid al-Fiqhiyyah, Damasykus: Dar al-Qalam, 1989.

Muhammad Mushthafa al-Zuhaili, Al-Qawaid al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatuha fi al-Mazahib al-Arba’, Beirut: Dar al-Fikr, 2009.

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

fatwa

Memahami Fatwa (9): Syarat-syarat Mujtahid

Dalam beberapa artikel sebelumnya telah diulas tentang kriteria seorang mufti. Para ilmuwan Islam berpandangan bahwa …

fatwa

Memahami Fatwa (8): Kepribadian Mufti Menurut Ahmad Bin Hambal

Seorang mufti menjadi corong dan mediator penyampai aturan-aturan syariat terutama yang terkait dengan hukum Islam. …