kaidah ungkapan
kaidah ungkapan

Kaidah Fikih: Tak Ada Ungkapan yang Sia-Sia

Dalam artikel sebelumnya telah dibahas kaidah-kaidah induk (asasiyah kubra) yang menjadi acuan dan disepakati semua mazhab fikih, kemudian disusul dengan kaidah-kaidah cabang yang menginduk kepadanya (ma yatafarra’u minha).

Pembahasan selanjutnya akan dipaparkan kaidah-kaidah umum (kulliyah) yang juga diterima oleh semua mazhab, namun cakupannya lebih sempit di luar kaidah induk dan cabangnya (qawaid kulliyah ghair al-kubra). Dalam pembagian jenis kaidah fikih, pembahasan ini termasuk kategori kaidah jenis kedua.

Di samping itu, akan dibahas juga kaidah yang terlahir dan menjadi cabang dari kaidah jenis ini, baik yang disepakati oleh semua mazhab ataupun yang hanya diterima oleh sebagian saja.

Kaidah fikih yang termasuk dalam kategori jenis ini antara lain adalah:

اِعْمَالُ اْلكَلاَمِ أَوْلى مِنْ اِهْمَالِهِ.

(i’mal al-kalam awla min ihmalihi)

“Memfungsikan ucapan lebih utama dari pada mengabaikannya.”

Maksud kaidah ini bahwa sebuah ucapan ketika sudah meluncur dari lisan pemiliknya lebih baik difungsikan sesuai kandungannya baik makna hakikat ataupun makna majaz dari pada diabaikan sia-sia karena tidak menemukan objek yang menjadi cakupan kalimat itu. Mengabaikan sebuah ungkapan merupakan tindakan sia-sia dan main-main, sementara ucapan orang normal (baca: berakal) terjaga dan terpelihara dari kesia-sian.

Oleh karena itu, dalam konteks ucapan seseorang terdapat dua kemungkinan. Kemungkinan pertama diarahkan pada makna yang berkonsekuensi hukum, dan kemungkinan kedua diarahkan terhadap makna yang tidak berkonsekuensi hukum. Maka, seharusnya yang diutamakan adalah makna yang berkonsekuensi hukum berdasarkan kaidah di atas.

Aplikasi kaidah: seseorang yang bersumpah tidak akan makan pohon kurma ini, dianggap melanggar sumpahnya dengan makan buah kurma dari pohon tersebut. Karena mengarahkan kalimat “pohon kurma” pada makna hakikat tidak mungkin dan ucapan sumpah tersebut menjadi sia-sia.

Baca Juga:  Tidak Berangkat Shalat Jumat Gara-Gara Hujan, Kok Bisa?

Seseorang berwasiat kepada ahli warisnya agar menginfakkan harta miliknya sebesar Rp. 500.000,- kepada lembaga pendidikan tertentu. Lalu dalam kesempatan lain berwasiat lagi agar memberikan infak kepada lembaga yang sama sebesar Rp. 500.000,- maka orang tersebut dianggap berwasiat Rp. 1.000.000,- selama tidak ada indikasi bahwa ucapan yang kedua merupakan penguat dan pengulangan dari ucapan pertama.

Seorang suami mengucapkan kata talak kepada isteri yang sedang berdekatan dengan seekor kucing: “Salah satu di antara kalian aku talak”, maka tetap terjadi dan jatuh talak, meskipun berniat objek ucapan ditujukan kepada kucing. Karena ucapan talak terhadap kucing tidak berkonsekuensi hukum sehingga ucapan menjadi sia-sia, sementara ucapan talak terhadap isteri berkonsekuensi hukum.

Hikmah kaidah dalam kehidupan. Berhati-hatilah dalam berbicara, jangan asbun (asal bunyi). Kalimat yang keluar akan selalu dipertanggungjawabkan. Berusahalah agar kalimat yang terpantul dari lidah kita mengandung hikmah dan penuh makna. Sedikit kalimatnya, sarat maknanya (qalla lafdhuhu wa katsura ma’nahu). []

Wallahu ‘alam

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

fatwa

Memahami Fatwa (10): Syarat-Syarat Mujtahid

Artikel ini melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang syarat-syarat mujtahid. Uraian sebelumnya telah mengulas syarat mujtahid yang …

fatwa

Memahami Fatwa (9): Syarat-syarat Mujtahid

Dalam beberapa artikel sebelumnya telah diulas tentang kriteria seorang mufti. Para ilmuwan Islam berpandangan bahwa …