Jalan Sedekah

Agar Sedekah Kita Tidak Sia-sia (1) : Inilah Tata Cara Bersedekah yang Benar

Dalam QS. Al-Baqarah ayat 261, secara tegas Allah mengatakan bahwa orang yang bersedekah akan memperoleh rezeki berkali-kali. Bahkan orang yang bersedekah, masih dalam ayat yang sama, diibaratkan seperti menanam sebuah biji atau sebutir benih yang akan menumbuhkan tujuh buah. Pada masing-masing buah yang tujuh terdapat seratus biji yang tentu saja dapat menumbuhkan biji-biji baru.

Dalam sebuah hadis juga ditegaskan, dari Abu Hurairah ra, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tidaklah seorang yang bersedekah dengan harta yang baik, Allah tidak menerima kecuali (Allah) yang Maha Pengasih akan menerima sedekah itu dengan tangan kanan-Nya. Jika sedekah itu berupa sebuah kurma, maka di tangan Allah yang Maha Pengasih, sedekah itu akan bertambah menjadi lebih besar dari gunung, sebagaimana seseorang di antara kalian membesarkan anak kudanya atau anak untanya.” (HR. Muslim).

Meskipun begitu, sebagian kalangan mengatakan atau bahkan mengalami kondisi di mana mereka sudah bersedekah, bahkan jor-joran, namun tidak mendapatkan manfaat sebagaimana dijelaskan dalam Alquran, hadis dan cerita para da’i tentang keutamaan dan manfaat sedekah yang dapat melancarkan rezeki berlipat-lipat. Jawaban yang paling sederhananya adalah, bahwa mungkin mereka mempraktikkan sedekah dengan cara yang kurang tepat, jika tak ingin disebut salah.

Agar kita mendapatkan manfaat positif dari sedekah alias tidak sia-sia, penting bagi kita untuk mengevaluasi kembali sedekah dan cara kita bersedekah. Dalam buku ‘Sedekahlah, Allah Menjaminmu Hidup Berkah’ karya Masykur Arif (2019: 171-200) dijelaskan tentang tata cara bersedekah yang patut untuk diperhatikan.

Pertama, niat bersedekah.

Niat menjadi inti dalam sebuah amal. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya, segala amal perbuatan itu hendaklah dengan niat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam hadis lain, Nabi bersabda: “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Baca Juga:  3 Macam Tingkatan dalam Berwudhu

Oleh karena itu, hal pertama dan utama ketika hendak bersedekah adalah tancapkan dalam hati dengan tulus dan ikhlas, niatkan bersedekah semata-mata karena Allah (mendapatkan ridla Allah), bukan yang lain. Bukan karena hendak mendapat pujian dari orang lain, bukan pula agar mendapatkan rezeki yang berlipat. Jika Allah ridla, maka akan hidup kita akan mudah dan berkah karena sedekah yang niatnya benar.

Sementara ulama ada yang mengatakan: “Terkadang, amal yang sedikit menjadi banyak tersebab niat (yang benar). Sebaliknya, tidak jarang amal yang banyak menjadi sedikit hasilnya karena niat (yang salah).” Jadi, apabila diniatkan karena semata-mata mencari ridla Allah, maka balasannya akan mulia. Jika niat bersedekah mengejar dunia, maka hasilnya akan sedikit, bahkan bisa menjadi sia-sia.

Kedua, berikanlah kepada yang berhak menerima

Selain niat yang benar dan dilandasi dengan keikhlasan mendalam, kita juga harus memperhatikan objek sedekah. Artinya, berikanlah sedekah itu kepada orang atau golongan yang berhak menerima. Memang, pada dasarnya, semua orang berhak menerima sedekah, sebagaimana seluruh manusia juga bisa bersedekah. Meski begitu, ada orang atau golongan yang menjadi prioritas. Terkait urutan orang-orang yang berhak menerima sedekah, sudah dijelaskan dalam Alquran, salah satunya sebagaumana terdapat dalam QS. An-Nisa’: 36-37:

Artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,  (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.”

Baca Juga:  Kemiskinan yang Mendekatkan pada Kekufuran

Dari ayat di atas, dapat disimpulkan bahwa, orang yang berhak menerima sedekah adalah: kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang miskin, tetangga jauh dan dekat, teman sejawat, musafir, dan pembantu. Dalam ayat lain, juga ditegaskan tentang pemberian sedekah kepada orang-orang yang berhak menerimanya: kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, peminta-minta dan untuk memerdekakan budak (lihat QS. Al-Baqarah: 177).

Para ulama menjelaskan bahwa petunjuk Alquran sebagaimana di atas, harus dipahami secara proporsional, yakni hendaknya sedekah diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan dari beberapa kelompok yang disebutkan itu.

Ketiga, bersedekahlah saat merasa pelit.

Sebagian besar manusia mencintai harta yang dimilikinya. Oleh sebab itu, mereka berlomba-lomba untuk mengumpulkan harta benda lalu menyimpannya. Pada keadaan demikian, mereka sulit untuk mengeluarkan sedekah. Sifat pelitnya muncul. Tak hanya itu, mereka juga khawatir bahkan ketakutan mengeluarkan sebagian harta mereka karena menjadi berkurang.

Saat-saat sifat pelit dan khawatir itu mencekam dalam diri, jika kita mampu mengaturnya sehingga mau bersedekah, maka pahala dan manfaat/dampaknya sangat besar. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis. Seorang sahat bertanya kepada baginda Nabi Muhammad SAW:

“Sedekah yang bagaimana yang paling besar pahalanya, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: ‘Saat kamu bersedekah hendaklah kamu sehat dan dalam kondisi pelit (mengekang), dan saat kamu takut melarat tetapi mengharap kaya. Jangan ditunda sehingga ruhmu di tenggorokan, lalu kamu berkata, ‘Untuk Fulan sekian, dan untuk Fulan sekian.” (HR. Bukhari).

Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa orang pelit, selain takut kehilangan hartanya jika disedekahkan, juga meragukan hikmah, manfaat dan pahala di balik bersedekah. Semoga kita tidak termasuk orang pelit yang takut jika bersedekah, maka hartanya akan berkurang dan melarat. Jika pun sifat pelit itu muncul sebagai salah satu konsekuensi sebagai manusia (manusiawi), semoga kita dapat mengekangnya sehingga tetap bersedekah.

Baca Juga:  Mengukur Keberhasilan Puasa: Ini Buah Manis Puasa yang Mestinya Didapat

Jangan sampai kelak setelah meningga dunia, kita menjadi orang yang merengek-rengek meminta kepada Allah agar dihidupkan kembali karena menyesal dulu ketika masih hidup di dunia tidak mau sedekah. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Munafiqun: 10), yaitu: “Wahai Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda [kematian]ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah…”.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Avatar
Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir