Imam Abu Hanifah
Imam Abu Hanifah

Imam Abu Hanifah : Memilih Penjara dari Pada Harta dan Tahta

Imam Abu Hanifah merupakan pendiri salah satu madhzhab terbesar di dunia, yakni Mahzab Hanafi. Abu Hanifah dikenal sebagai seorang Ulama sekaligus pedagang yang sukses. Kekayaannya memberikan dia kebebasan yang cukup luas sehingga bisa berpikir secara independen.

Awalnya, Abu Haifah tidak terlalu serius dalam mempelajari agama Islam. Beliau belajar agama hanya sebagai pengisi waktu luangnya saja. Sebagian besar waktunya dia habiskan untuk berdagang di pasar. Namun pertemuannya dengan al-Sya’bi, seorang ulama besar saat itu. Membuatnya tertarik lebih dalam akan Islam. 

Al-Sya’bi menyarankan agar Abu Hanifah memperdalam ilmu agama dan mengikuti beberapa pengajian. Abu Hanifah memiliki otak yang cemerlang, kemampuan menghafal yang kuat, disertai kemampuan debat yang sulit ditandingi.

Abu Hanifah belajar dari ribuan guru dan kitab. Namun,hanya satu guru yang memiliki peranan paling besar dalam hidup Abu Hanifah. Ia adalah Syaikh Hammad bin Abu Sulaiman atau lebih dikenal sebagai Syaikh Hammad.

Abu Hanifah belajar selama 18 tahun sampai wafatnya sang guru di tahun 120 H. Setelah Syaikh Hammad wafat, Abu Hanifah yang ketika itu berusia 40 tahun. Setelah Syaikh Hammad meninggal, Abu Hanifah diminta mengisi halaqah keagamaan di Kufah menggantikan gurunya.

Kelebihan Abu Hanifah ialah mampu menggabungkan hukum syara’ dengan logika, antara sistem dengan substansi. Metode Ijtihad Abu Hanifah sangatlah demokratis dan terasa sangat modern bahkan untuk ukuran kita sekarang.

Keterbukaan Abu Hanifah terhadap berbagai macam aliran ini tidak lepas dari pengaruh kondisi sosial keagamaan yang ada di sekitarnya. Beliau hidup di tengah masyarakat yang plural dan beragam. Seperti berbagai macam aliran Syi’ah, Muktazilah, dan Khawarij.

Karena sudah terbiasa hidup dengan kelompok yang berbeda, Abu Hanifah selalu berpesan kepada murid-muridnya agar selalu menjaga adab dan tutur kata ketika berhadapan dengan masyarakat, terutama orang yang berilmu.

Baca Juga:  Sahabat Zubair Bin Awwam : Pembela Sejati Rasulullah

Pesan ini selalu disampaikan agar masyarakat bisa dekat dan tidak resah dengan pendapat yang disampaikan. Abu Hanifah menyatakan, “Kalau kalian berada di tengah masyarakat dan dihadapkan sebuah permasalahan, jawablah sesuai dengan pemahaman yang berkembang di masyarakat. Setelah itu, baru kemukakan pendapat pribadimu beserta argumentasinya”.

Pemahaman seperti ini sangatlah adil, karena tidak memaksakan pemahaman dan pendapat sendiri pada orang yang berbeda. Mengetahui aliran dan mazhab yang berkembang dalam sebuah masyarakat sangatlah penting, supaya bijak dalam berpendapat.

Kemahsyuran Abu Hanifah sampai pada Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur yang saat itu sedang mencari seorang Hakim Agung. Posisi yang istimewa dan strategis karena kedudukan ini hanya satu tingkat di bawah Khilafah.

Namun dengan menjadi hakim merupakan beban yang cukup berat, seorang hakim harus berani memutuskan segala sesuatu bukan karena emosi dan pemikinannya saja. Beliau takut akan membuat kesalahan tentang keputusan yang di buatnya.

Abu Hanifah merasa akan sulit baginya menjadi hakim yang adil. Abu Hanifahpun memutuskan untuk menolak permintaan Khalifah. Namun sayangnya, Khalifah Al-Mansur bukanlah seorang yang bisa menerima penolakan dengan baik. Khalifahpun murka dan memutuskan untuk memenjarakan Abu Hanifah karena dianggap membangkang.

Dipanggilnya Abu Hanifah untuk menuntut penjelasan penolakannya. Khalifah bertanya, “Kenapa kamu menolak tawaranku?”. Jawab Abu Hanifah “Maaf Baginda, saya tidak pantas menjabat sebagai Hakim,”. Khalifahpun murka dan berteriak “Pembohong!!”“Jika benar saya berbohong sesuai perkataan Yang Mulia, maka itu menjadi bukti bahwa saya tidak pantas menjadi Hakim Agung. Mana boleh Hakim Agung berbohong?” jawab Abu Hanifah.

Dengan marah Khalifah melemparkan Abu Hanifah ke dalam penjara ditambah dengan hukuman cambuk. Namun karena pengaruh Abu Hanifah cukup besar, akhirnya sang Khilafahpun memutuskan untuk membebaskannya.

Baca Juga:  Cerita Islami untuk Anak : Kisah Kelahiran Nabi Ibrahim dan Raja Dzalim (2)

Karena rasa penasarannya, Khalifah kembali mencoba membujuk Abu Hanifah dengan uang dalam jumlah besar. Namun lagi-lagi Abu Hanifah menolaknya. Karena penolakan inilah memicu kembali kemarahan Khalifah dan kembali menjebloskan Abu Hanifah ke penjara.

Selama d ipenjara Abu Hanifah tetap menerima murid, memberikan fatwa, dan tetap memiliki pengaruh kuat diantara umat. Penderitaan Abu Hanifah selama di penjara menimbulkan kegelisahan rakyat. Takut akan kemarahan rakyatnya, para menteripun mengusulkan agar Khalifah melepaskan Abu Hanifah sebagai tahanan rumah.

Dalam beberapa sumber dituliskan bahwa Abu hanifah dibebaskan dari penjara dan dijadikan tahanan rumahan, namun karena amarah sang khilafah, akhirnya ia membayar seseorang untuk meracuni makanan Abu Hanifah, sehingga akhirnya beliau meninggal diusia 68 tahun.

Abu Hanifah meninggal tahun 150 H. Ribuan orang mengantarkan jenazah Abu Hanifah ke tempat peristirahatan terakhirnya. Beberapa sumber menyebutkan bahwa ada sekitar 50 ribu orang yang ikut mensalati Abu Hanifah, termasuk Khalifah Abu Ja’far.

Demikianlah kisah hidup Abu Hanifah yang sangat mengesankan. Semoga teladannya bisa diikuti oleh ulama dan hakim kita saat ini. Tentu saja sikap penolakan Abu Hanifah bukan karena dasar ketidaktundukan kepada Khalifah, tetapi semata zuhud beliau untuk tidak terpengaruh dengan masalah duniawi. Kehati-hatiannya sangat luar biasa agar tidak memutuskan perkara dengan sembarangan.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Imam Santoso

Avatar