imam abu hanifah
imam abu hanifah

Kisah Kepiawaian Berdebat Abu Hanifah Kecil Melawan Raja Ateis

Tulisan ini akan membahas potongan kisah menarik salah satu pendiri madzhab fiqih awal. Sosok pendiri madzhab yang akan kita simak kisahnya adalah Nu’man bin Tsabit yang masyhur sebagai Imam Abu Hanifah (w. 767 M). Beliau adalah pendiri madzhab Hanafi dan termasuk golongan tabi’in. Karena pernah bertemu sahabat Anas bin Malik dan beberapa veteran perang Badar.

Selain masyhur sebagai pendiri madzhab fiqih, sesungguhnya Abu Hanifah juga ahli dalam ilmu tauhid (teologi). Keahlian-keahliannya ini beliau dapat selain karena anugerah Allah juga dari belajar sejak kecil dengan guru utamanya bernama Syekh Hammad bin Abi Sulaiman asal Kuffah.

Di samping belajar dasar dan pokok ilmu tauhid, Abu Hanifah juga mempelajari ilmu kalam hingga ahli berdialektika atau berdebat untuk mencari prinsip-prinsip teologi Islam. Salah satu bukti kisah kepiawaian berdebat Imam Abu Hanifah, bahkan sejak beliau masih kecil itu tercatat oleh Syekh Muhammad Nawawi bin Umar Al-Jawi Asy-Syafi’i dalam kitab Fathul Majid.

Dikisahkan saat itu, Abu Hanifah masih berusia 7 tahun berani menantang debat seorang raja penganut dahriyah. Imam Ghazali mengklasifikasikan dahriyah sebagai kelompok atheis. Karena mereka tidak meyakini perwujudan Allah dan alam semesta raya ini ada dengan sendirinya. Saat itu, sudah banyak ulama’ yang kalah berdebat dengan raja atheis tersebut.

Dengan kesombongannya, ia selalu mencari-cari ulama yang belum pernah berdebat dengannya untuk dipermalukan di hadapan banyak orang dengan cara mengalahkan dalam sebuah perdebatan. Sampai pada akhirnya, tinggal guru Abu Hanifah yang belum pernah berdebat dengannya. Ia lantas memerintahkan ajudannya menyampaikan pesan tantangan untuk berdebat dengan Syekh Hammad bin Abi Sulaiman.

Pesan tantangan tersebut diketahui oleh Abu Hanifah dan beliau meminta diikut sertakan saat perdebatan itu diadakan. Karena Syekh Hammad sebelumnya bermimpi baik, yang dalam mimipinya ada seekor singa memakan babi. Beliau yakini sebagai isyarah kebaikan, maka Abu Hanifah diperkenankan ikut dalam perdebatan tersebut.

Baca Juga:  Mengambil Hikmah dari Kisah Nabi Yusuf

Dialog Abu Hanifah dengan Raja Ateis

Tibalah waktu perdebatan itu. Semua orang berkumpul untuk menyaksikannya, termasuk Abu Hanifah dan gurunya yang berada di bawah panggung singgahsana raja. Dalam suasana yang ramai itulah, sang raja berkata dengan congkaknya, “mana ulama yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaanku”.

 Keadaan sontak menjadi hening, hingga tiba-tiba anak berusia 7 tahun, yang tak lain tak bukan adalah Imam Abu Hanifah merespon tantangan sang raja dengan berkata, “Apa-apaan ini. Bertanyalah, Maka barang siapa tahu pasti ia akan menjawab pertanyaanmu”.

Raja ateis lalu berkata: “Siapa kamu hai anak ingusan, berani kamu bicara denganku. Tidakkah kamu tahu, bahwa banyak yang berumur tua, bersorban besar, para pejabat, dan para pemilik jubah kebesaran, mereka semua kalah dan diam dari pertanyaanku, kamu masih ingusan dan kecil berani menantangku…!

Abu Hanifah menjawabnya dengan mengatakan: “Allah tak menyimpan kemuliaan dan keagungan kepada pemilik sorban yang besar dan para pejabat dan para pembesar, melainkan kemuliaan cuma diberikan kepada Al-Ulama.

Mengetahui keberanian Abu Hanifah, raja Atheis tersebut kemudian menantang, “Apakah kamu akan menjawab pertanyanku?

Dengan yakin, Abu Hanifah berkata: “Ya aku akan menjawab pertanyaanmu dengan taufiq Allah.”

Sang raja penganut Dahriyah atau Atheis itu langsung mengajukan pertanyaan pertama, “Apakah Allah itu ada?”

Abu Hanifah: “Ya ada”

Raja Atheis: “Memangnya Dia dimana ?”

Abu Hanifah: “Dia, tiada tempat bagi Dia.”

Raja Atheis: “Bagaimana bisa disebut ada bila Dia tak punya tempat?

Abu Hanifah:  “Dalilnya ada di badan anda, yaitu Ruh.

Abu Hanifah lalu balik bertanya, “Saya tanya, kalau kamu yakin Ruh itu ada, maka di mana tempatnya? Di kepalamu, di perutmu atau di kakimu? Sang raja sontak diam seribu bahasa dengan muka malu tak bisa menjawab.

Baca Juga:  Selain Fatimah Az-Zahra, Inilah Satu-Satunya Orang yang Tangannya Pernah Dicium Rasulullah

Untuk lebih menjelaskannya, Abu Hanifah kecil kemudian meminta air susu pada gurunya dan sejurus kemudian beliau bertanya kepada sang raja, “Apakah anda yakin di dalam susu ini ada manis?

Raja Atheis: “Ya saya yakin di susu itu ada manis.”

Abu Hanifah: “Kalau anda yakin ada manisnya, saya tanya apakah manisnya ada di bawah, atau di tengah, atau di atas?

Lagi-lagi Dahriyah diam dengan penuh rasa malu.

Lalu Abu Hanifah menjelaskan: “Seperti Ruh atau manis yang tidak memiliki tempat, maka seperti itu pula tidak akan ditemukan bagi Allah tempat di Alam ini baik di Arsy atau dunia ini.”

Tak mau dipermalukan lagi, sang raja atheis lalu meluncurkan pertanyaan kedua, “sebelum Allah itu apa dan setelah Allah itu apa?

Abu Hanifah: ‘Tidak ada apa-apa sebelum ALLAH dan sesudahnya tidak ada apa-apa.”

Sang raja atheis: “Bagaimana bisa dijelaskan bila sebelum dan sesudahnya tak ada apa-apa?”

Abu Hanifah: “Dalilnya ada di jari tangan anda. Apakah sebelum jempol dan apakah setelah kelingking? Dan apakah anda mampu menjelaskan jempol duluan atau kelingking duluan? Demikianlah sifat Allah. Ada sebelum semuanya ada dan tetap ada bila semua tiada. Itulah makna kalimat Ada bagi hak Allah.”

Lagi-lagi kedua kalinya sang raja dahriyah itu dipermalukan di depan khalayak ramai.

Sang raja yang tak mau rusak reputasinya lalu ia berkata: “satu lagi pertanyaanku, apa yang Allah lakukan sekarang?

Sebelum menjawab, Abu Hanifah berkata : “sesungguhnya anda kebalik dari tadi, seharusnya yang bertanya itu di bawah mimbar dan yang ditanya di atas mimbar.”

Akhirnya sang raja turun dari mimbar dan langsung Abu Hanifah kecil naik ke atas mimbar.

Baca Juga:  Islam Periode Mekkah

Setelah itu, sang raja mengejar jawaban dari Abu Hanifah dengan mengulangi pertanyaannya: “Apa perbuatan Allah sekarang?”

Abu Hanifah lalu menjawab dengan penuh keyakinan: “Yang Allah lakukan sekarang ialah menjatuhkan orang yang tersesat seperti anda ke bawah jurang neraka dan menaikkan yang benar seperti saya ke atas mimbar keagungan.”

Dari sekilas kisah kepiawaian berdebat Abu Hanifah di atas, kita bisa tahu bahwa sesungguhnya yang menjaga agama Islam ialah Allah semata. Dengan berbagai cara, salah satu buktinya dengan mengutus seorang anak kecil untuk melawan seorang yang berniat merusak keyakinan umat Islam.

Bagikan Artikel ini:

About M. Alfiyan Dzulfikar

Avatar of M. Alfiyan Dzulfikar

Check Also

doa penutup

Inilah Doa atau Bacaan Penutup Acara yang Sering Dibaca Para Sahabat Rasulullah

  وَالْعَصْرِ إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. …

lelah

Jangan Khawatir, 7 Lelah Inilah yang Disukai Allah

Pasti kita sudah familiar dengan kalimat “biar lelah asal lillah” atau “semoga lelah ini membawa …