Imam Abu Hanifah: Generasi Tabiin Pendiri Madzhab

0
150
Imam Abu Hanifah

Salah satu pernyataan Abu Hanifah yang sering diucapkan oleh para muridnya yakni, “Jika kalian berada di tengah masyarakat dan dihadapkan sebuah permasalahan, jawablah sesuai dengan pemahaman yang berkembang di masyarakat. Setelah itu, baru kemukakan pendapat pribadimu beserta argumentasinya”.


Ketika masa Rasulullah seluruh pertanyaan keagamaan langsung mendapatkan jawaban langsung dari Nabi. Tidak ada kesulitan bagi umat terdahulu ketika menemui persoalan pelik keagamaan karena sumber hukum masih hidup bersama para sahabat.

Ketika Rasulullah wafat, persoalan keagamaan semakin muncul dan berkembang. Islam telah melebar ke berbagai penjuru. Persoalan hukum Islam semakin mendapatkan tantangan. Orang yang pertama menyederhanakan pemikiran keislaman untuk menjawab tantangan zaman adalah Imam Abu Hanifah. Beliau menyusun kajian hukum Islam agar generasi berikutnya mendapatkan pegangan dalam menjalankan syariat Islam.

Imam Abu Hanifah memiliki nama Nu’man bin Tsabit, sementara kun-yah atau panggilannya adalah Abu Hanifah. Beliau adalah orang Persia yang lahir kalangan pedagang sutra. Ia cucu dari seorang mantan tahanan tentara muslim pada Era Umar bin Khattab ketika perang Irak bernama Zuthi. Ketika di tahanan Zuthi mulai mengenal Islam dan menjadikan dirinya sebagai seorang mualaf.

Imam Abu Hanifah lahir di Kufah pada tahun 699 M. Semasa kecil Abu Hanifah tumbuh seperti halnya anak kecil pada umumnya. Kecerdasannya mulai tampak sejak kecil. Di umur yang masih dini Ia sudah mampu menghafal al-Quran.

Karena hidup di keluarga pedagang, dalam kesehariannya Beliau menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berdagang membantu keluarganya di pasar. Namun, di tengah kesibukan bisnis, beliau juga menyempatkan diri untuk mempelajari ilmu agama.

Suatu ketika Abu Hanifah bertemu dengan seorang ulama besar bernama al-Sya’bi. Beliau menyarankan kepada Abu Hanifah untuk memperdalam ilmu agama serta mulai mengikuti halaqah (pengajian) para ulama.

Baca Juga:  Imam Syafi’I (W. 204) di Mata Para Khalifah

Karena nasihat dari Al-Sya’bi, Abu hanifahpun mulai berfikir untuk mempercayakan dagangannya kepada orang lain sembari tetap selalu mengkontrol hasil penjualannya.

Abu Hanifahpun mulai mengikuti halaqah Hammad bin Abu Sulaiman. Beliau adalah guru yang sangat berpengaruh dalam kehidupan Abu Hanifah. Dia belajar selama 18 tahun kepada Hammad. Setelah Hammad meninggal, Abu Hanifah diminta menggantikannya mengisi halaqah keagamaan di Kufah.

Abu Hanifah dikenal sebagai ahli fikih, sebelumnya iapun mendalami ilmu kalam (teologi Islam). Mazhab fikih yang dirumuskan oleh Abu Hanifah dikenal dengan ahlu ra’y (kaum rasionalis). Adapun murid-murid Abu Hanifah adalah Muhammad al-Syaibani dan Abu Yusuf. Mereka adalah pengarang kitab dan sekaligus penulis yang banyak mengutip pendapat fikih gurunya.

Salah satu pernyataan Abu Hanifah yang sering diucapkan oleh para muridnya yakni, “Jika kalian berada di tengah masyarakat dan dihadapkan sebuah permasalahan, jawablah sesuai dengan pemahaman yang berkembang di masyarakat. Setelah itu, baru kemukakan pendapat pribadimu beserta argumentasinya”.

Pentingnya untuk mengetahui mahzab yang sedang berkembang dalam lingkungan masyarakat bertujuan agar kita mampu bijak dalam berpendapat dan yang perlu di ingat jangan sampai memaksakan pendapat pribadi terhadap masyarakat yang sudah memiliki pandangan keagamaannya sendiri.

Pada usia yang menginjak 40 tahun, Abu Hanifah ditawari untuk menjadi qadhi (hakim pengadilan), namun ia menolaknya. Penolakan tersebut ternyata berimbas pada dirinya dipenjara oleh raja Dinasti Abbasiyah, yang kala itu dipimpin oleh Abu Ja’far al-Manshur. Imam Abu Hanifah dipenjara hingga sampai akhir hayatnya.

Abu Hanifah meninggal diusianya yang ke 150 tahun. Ribuan orang menyolatinya serta mengantarkan Abu Hanifah ke tempat peristirahatan terakhirnya termasuk juga Khalifah Abu Ja’far.

Namun, wafatnya Imam besar ini tidak menyebabkan jasa dan karyanya menjadi musnah. Madzhab fikihnya terus dipelajari dan diajarkan oleh umat Islam. Bahkan Madzhab hanafiyah menjadi madzhab resmi beberapa kerajaan Islam pada masa-masa kekhalifahan seperti Abbasiyah, Mughal dan Turki Ustmani.

Baca Juga:  Berjihad secara Kaffah, Bukan Latah

Saat ini madzhab Hanafiyah memang tidak populer di Asia Tenggara seperti Indonesia. Sebaran pengikut madzhab ini tersebar di daerah seperti Turki, Suriah, Irak, Mesir dan India. Imam Abu Hanifah adalah generasi tabiin yang menancapkan jasa besar terhadap perkembangan ilmu fikih hingga saat ini.

Tinggalkan Balasan