tindakan hewan
tindakan hewan

Kaidah Fikih: Menyikapi Tindak-Tanduk Hewan

Objek yang menjadi perhatian dalam hukum adalah perilaku manusia (fi’i al-mukallaf). Di luar perilaku tidak tersentuh oleh hukum, meskipun masih berhubungan dengan manusia. Karena secara definisi dalam syariat Islam, hukum adalah titah Tuhan yang berhubungan dengan perilaku manusia berupa tuntutan untuk mengerjakan atau meninggalkan serta pilihan di antara keduanya.

Oleh karena itu, jika terdapat perintah yang mengandung hukum, tetapi berhubungan langsung dengan benda, bukan perilaku, maka perlu dilakukan interpretasi yang berbentuk perilaku. Misalnya, dalam Al-Qur’an Allah berfirman, “diharamkan bagi kalian bangkai”. Redaksi ini menghubungkan hukum haram dengan benda berupa bangkai. Benda berupa bangkai tidak bisa memiliki status hukum. Hukum hanya menyentuh tataran perilaku. Dengan begitu, ulama memberikan interpretasi terhadap redaksi tersebut berupa perilaku, sehinga berbunyi, “diharamkan bagi kalian mengkonsumsi bangkai” atau “diharamakan bagi kalian memanfaatkan bangkai”.

Dengan demikian, hukum juga tidak berlaku terhadap perilaku yang dilakukan oleh makhluk hidup selain manusia. Semisal tindakan yang dilakukan oleh hewan yang berhubungan dengan hak manusia, meskipun hewan tersebut dimiliki oleh seseorang, sebagaimana kaidah berikut ini:

جِنَايَةُ اْلعَجْماَءِ جُباَرٌ.

 (Jinayat al-‘ajma’ jubarun)

Artinya: “Tindakan kriminal yang dilakukan oleh hewan adalah sia-sia.”

Maksud kaidah ini bahwa segala tindakan binatang yang dapat melukai, membahayakan jiwa atau harta menjadi sia-sia. Artinya, tindakan tersebut tidak berkonsekuensi sanksi ataupun ganti rugi terhadap pemiliknya. Tidak adanya sanksi atau ganti rugi ini apabila tindakan tersebut murni berasal dari kehendaknya sendiri, bukan terpicu dan terdorong oleh tindakan manusia dalam kondisi normal. Semisal karena ulah penunggangnya (rakib), penuntunnya (qaid), sopir transportasi yang menggunakan tenaga hewan, atau karena ulah seseorang yang memukulnya dan menakut-nakutinya. Jika hal itu yang terjadi, maka tindakan hewan tersebut berkonsekuensi ganti rugi terhadap orang yang menjadi penyebab dan pemicu.

Baca Juga:  Zakat Fitrah (5) : Berapa Ukuran Zakat Fitrah Yang Benar?

Kaidah ini didasarkan pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, dan ashabus sunan yang empat (pemilik kitab sunan: kitab hadis yang disusun berdasarkan bab fikih dan hanya berisi hadis marfu’, sedikit sekali terdapat atsar sahabat), yakni Sunan Nasa’i, Sunan Abu Daud, Sunan at-Turmudzi, dan Sunan Ibnu Majah. Hadis tersebut berbunyi:

الْعَجْمَاءُ جُرْحُهَا جُبَارٌ

Artinya: “Binatang, tindakan kriminalnya adalah sia-sia” (Shahih Bukhari, No. 6912).

Aplikasi kaidah: Pemilik ternaktidak bertanggung jawab terhadap kerusakan yang ditimbulkan oleh hewan peliharaannya, ketika mereka menjebol kandang dan merusak harta serta melukai jiwa orang lain. Akan tetapi, jika si pemilik lalai dalam menjaganya ia harus bertanggung jawab.

Kucing milik Pak Asrul tiba-tiba menyergap burung kesayangan milik Pak Indra yang sedang dijemur di depan rumahnya. Dalam peristiwa ini Pak Asrul tidak dikenai tanggung jawab ganti rugi atas tindakan kucing miliknya.

Dua orang peternak sedang menggembala hewan ternaknya di ladang masing-masing yang berdekatan. Tanpa sepengetahuan keduanya, hewan tersebut beradu hingga menyebabkan salah satunya mengalami luka atau bahkan mati. Maka pemilik ternak yang memenangkan pertarungan tersebut tidak dikenai tanggung jawab ganti rugi terhadap pemilik hewan yang menjadi korban. 

Hikmah kaidah dalam kehidupan: manusia yang memiliki tanggung jawab terhadap makhluk lain, bukan berarti mengabaikan terhadap kemungkinan-kemungkinan yang terjadi akibat tindakan makhluk tersebut. Manusia dengan daya pikirnya tentu harus mengantisipasi segala hal yang mengakibatkan orang lain dirugikan. Jangan berlindung di balik kedunguan binatang, jangan menjadikan binatang sebagai kambing hitam, jika sebenarnya manusianya yang lalai dalam menjaga binatang. Jangan salahkan binatang, tapi manusialah yang harus waspada! []

Wallahu a’lam Bisshawab.

Referensi utama:

Baca Juga:  Kaidah Fikih Cabang Kelima: Dialektika Teks Dan Konteks

Ahmad bin Syekh Muhammad al-Zarqa’, Syarh al-Qawaid al-Fiqhiyyah, hal. 457.

Muhammad Mushthafa al-Zuhaili, Al-Qawaid al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatuha fi al-Mazahib al-Arba’, hal. 570.

Ibrahim Muhammad Mahmud al-Hariri, Al-Madkhal ila al-Qawaid al-Fiqhiyyah al-Kulliyah, hal. 157.

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

kaidah tentang bukti

Kaidah Fikih: Bukti yang Valid Sama dengan Kenyataan

Kaidah asal menyatakan bahwa pada prinsipnya setiap individu terbebas dari segala tanggung jawab, tuduhan, gugatan, …

shalat hajat

Fikih Shalat Sunah (5): Shalat Hajat untuk Meraih Harapan

Manusia ideal tentunya memiliki berbagai rencana dan seabrek cita-cita untuk meraih masa depan yang terbaik. …