kaidah fikih
kaidah fikih

Kaidah Fikih: Sulitnya Persyaratan Menentukan Keagungan Nilai

Syariat Islam hadir untuk mengatur kehidupan manusia yang mempunyai dua potensi dalam dirinya; sifat hewani dan rabbani. Syariat berfungsi sebagai kontrol agar manusia tetap berada pada rel kemanusiaan, bukan kebinatangan.

Untuk menjadi manusia yang baik, cukuplah menyandang sifat kemanusiaan dalam dirinya serta memanusiakan manusia lain. Oleh sebab itu, kehadiran syariat selalu bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Inilah alasan mengapa kajian maqashid syariah sangat urgen dalam legeslasi hukum Islam.

Dalam memunculkan sebuah produk hukum yang digali (istinbath) melalui sumber primer Al-Qur’an dan Hadis sekaligus ulama menyertakan berbagai atribut yang melingkupi sebuah produk hukum berupa syarat dan rukun. Syarat-rukun ini menjadi ajang ijtihad, sehingga antara satu mazhab dengan madzhab lain berbeda dalam memberikan ketentuan kategori syarat dan rukun.

Kaidah berikut ini menjadi semacam rambu-rambu yang harus diperhatikan dalam menetapkan syarat:

اَلشَّيْئُ اِذَا عَظُمَ قَدْرُهُ شُدِّدَ فِيْهِ وَكَثُرَتْ شُرُوْطُهُ.

 (Al-syai’u idza ‘adhuma qadruh syuddida fih wa katsurat syuruthuh)

Artinya: “Sesuatu yang memiliki nilai tinggi, maka dibuat ketat dan banyak persyaratannya”.

Maksud kaidah ini bahwa segala sesuatu yang memiliki nilai tinggi atau berisiko tinggi maka persyaratan yang melingkupi menjadi ketat dan banyak. Hal ini dalam rangka menjaga resiko yang ditimbulkan dan menghargai keagungan nilainya. 

Aplikasi kaidah: Akad pernikahan adalah sebuah ikatan yang agung dan perjanjian yang kuat serta sakral (mitsaqan ghalidha). Pernikahan bukan sekedar menyatukan dua hati yang saling terpaut cinta-kasih, namun penyatuan dua keluarga besar yang terkadang memiliki latar belakang sosial dan budaya yang berbeda. Selain itu, pernikahan juga membutuhkan pengakuan status sosial, bahwa mereka adalah pasangan suami istri yang sah. Dengan demikian, syariat memberikan kriteria yang ketat dalam pernikahan, sehingga mengharuskan adanya saksi, wali nikah, mahar, dan walimah.

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Tanggung Jawab Dipundak Pelaku

Menuduh orang lain melakukan perzinahan akan mencoreng martabat kemanusiaan tertuduh beserta keluarganya. Martabat kemanusiaan harus dipelihara dan dijunjung tinggi. Menjaga martabat termasuk dalam kategori menjaga lima prinsip yang terkandung dalam maqashid syariah, yaitu hidfdz al-‘irdl. Oleh karena itu, tuduhan perzinahan yang dalam fikih dikenal dengan istilah qadzaf harus diperkuat dengan empat orang saksi dengan syarat-syarat yang ketat.

Hikmah kaidah dalam kehidupan: Sebuah persoalan yang besar dan memiliki dampak sosial yang luas, butuh perjuangan dan mental yang kuat dalam menghadapi aral dan kerikil terjal yang selalu datang setiap saat. Setiap rintangan dan hambatan menjadi syarat mutlak keluhuran nilai yang ingin dicapai. Tetaplah konsisten karena hal itu menjadi modal dalam meraih kesuksesan. Kalimat hikmah mengajarkan, haitsuma tastaqim yuqaddir lakallahu najaha, keistikamahan (konsistensi) adalah modal menuju kesuksesan. []

Wallahu a’lam Bisshawab.

Referensi primer:

Ibrahim Muhammad Mahmud al-Hariri, Ak-Madkhal ila al-Qawaid al-Fiqhiyyah al-Kulliyah, Dar ‘Imar, 1998.

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

harus berdoa

Mengapa Harus Berdoa, Jika Takdir Telah Ditetapkan?

Pada tahun 1998 jagat pertelevisian Indonesia dihebohkan dengan lirik sebuah lagu yang dilantunkan oleh aktris …

kaidah ungkapan

Kaidah Fikih: Keterbatasan Sebuah Pengakuan

Kodrat alam menyatakan bahwa perjalanan kehidupan dunia adalah pertarungan dua kutub yang berlawanan, min-plus. Kehidupan …