Tag Archives: belajar kaidah fikih

Kaidah Fikih: Menjilat Air Ludah Sendiri

ludah sendiri

Sebuah pepatah mengatakan air ludah yang sudah keluar tak mungkin dijilat kembali. Pepatah ini mengandung makna bahwa apa yang telah keluar dari mulut seseorang berupa ucapan tidak mungkin ditarik kembali dan dilakukan ralat. Tentu hukum ini berlaku terhadap ungkapan yang mengandung hak dan kewajiban yang terkait dengan dirinya dan orang lain. Apapun yang telah menjadi keputusan yang melibatkan kehadirannya, bahkan …

Read More »

Kaidah Fikih: Bukti yang Valid Sama dengan Kenyataan

kaidah tentang bukti

Kaidah asal menyatakan bahwa pada prinsipnya setiap individu terbebas dari segala tanggung jawab, tuduhan, gugatan, dan segala hal yang berupa pembebanan dan ganti rugi. Hukum asal ini akan terus berlangsung secara normal, kecuali ditemukan dalam kenyataan individu tersebut telah melakukan hal-hal yang berakibat berubahnya hukum bara’ah (keterbebasan dari segala bentuk tanggung jawab). Misalnya, secara sah dan nyata seseorang telah melakukan …

Read More »

Kaidah Fikih: Faktor Tidak Sengaja Bukanlah Alasan Menggugurkan Tanggung Jawab

tidak sengaja

Pepatah agama menyatakan, manusia tempat salah dan lupa. Disebut manusia yang dalam bahasa Arab adalah al-insan dikarenakan sifat lupa yang melekat kepadanya, summiya al-insan li nisyanih. Sudah menjadi kodrat manusia bahwa salah dan lupa terkadang timbul bukan karena faktor kesengajaan. Akan tetapi, Islam sangat menghargai dan menjunjung tinggi kepemilikan dan hak orang lain. Dalam kaitan ini, Islam mengharamkan tindakan semena-mena …

Read More »

Kaidah Fikih: Legalitas Syariat Menafikan Tanggung Jawab

kaidah fikih ungkapan

Sesuatu yang dianggap benar dalam dunia ini tidak selalu berbanding lurus dengan kebaikan. Kebenaran tidak selalu berjalan monoton dan ajek. Kebenaran memiliki aspek keliru jika dipotret dari sudut pandang tertentu. Sebaliknya, sesuatu yang dianggap salah dalam konteks tertentu justru mengandung kebaikan. Konsep inilah yang kemudian memunculkan adagium, tak ada kebenaran yang sejati, tak ada kebenaran yang hakiki. Keragaman dan pluralitas …

Read More »

Kaidah Fikih: Siapa Cepat Dia Dapat

kaidah yang cepat

Segala yang ada di muka bumi Tuhan ciptakan untuk kepentingan makhluk yang bernama manusia. Tidak ada satupun yang sia-sia dalam ciptaan-Nya, hanya terkadang manusia belum mampu mengungkap mafaat apa yang terdapat di balik segala yang ada. Al-Qur’an dengan tegas menyatakan dalam surat Ali Imran [3] ayat 191: “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka …

Read More »

Kaidah Fikih: Instruksi yang Sia-sia

kaidah perintah

Sebuah perintah tidak boleh serta merta ditelan secara mentah-mentah. Dalam posisi normal perintah tetaplah harus dikaji dan dipikir secara matang. Apakah mengandung kebaikan atau malah mencelakakan. Tentu tidak boleh gegabah dalam menerima instruksi, sebab jika ternyata perintah tersebut tidak benar maka menjadi batal dan nonsen sebelum dilaksanakan. Kaidah berikut merupakan cabang dari kaidah sebelumnya tentang menghargai hak orang lain. Jika …

Read More »

Kaidah Fikih: Peran Seorang Penerjemah

kaidah penerjemah

Dalam kajian ushul fikih terdapat tema tentang bahasa. Pertanyaan yang muncul apakah bahasa bersifat tauqifiy, sesuatu yang datang dari Tuhan, bukan sebuah usaha kreasi manusia. Pendapat yang didukung jumhur ulama ini menjelaskan bahwa seluruh bahasa telah diajarkan Tuhan kepada manusia. Hal ini terbukti dari adu ketangkasan antara Adam dan malaikat yang protes mengapa manusia yang dijadikan khalifah di muka bumi. …

Read More »

Kaidah Fikih: Sesuatu yang Gugur Tidak akan Kembali

musim gugur

Setiap hak yang telah gugur, tidak akan pernah ada lagi untuk yang kedua kalinya. Hak yang telah gugur berposisi sama dengan barang yang tidak ada. Sebuah ungkapan atau pernyataan yang kadung meluncur dari lidah seseorang akan menjadi pijakan yang berkonsekuensi hukum, andai berkaitan dengan hak dan kewajiban. Dalam akad transaksi ungkapan dan pernyataan menjadi indikator keputusan yang diambil oleh kedua …

Read More »

Kaidah Fikih: Pengganti Yang Dapat Mewakili

wakil pengganti

Tak ada rotan akar pun jadi. Peribahasa ini mengungkapkan keterwakilan dalam kondisi terpaksa. Dari pada kosong pengganti lebih baik ada meskipun pas-pasan. Idealnya pengganti harus sama dengan yang digantikan. Dalam struktur organisasi selalu terselip jabatan pengganti yang diistilahkan dengan wakil. Wakil akan bertindak menggantikan posisi yang diwakili ketika dibutuhkan. Jika pemegang jabatan asal tidak ada, maka wakil tampil untuk menggantikan. …

Read More »

Kaidah Fikih: Dahan Pohon yang Tetap Kokoh Tanpa Akar

kaidah dahan pohon

Kaidah berbicara tentang eksistensi cabang yang tetap diperhitungkan walaupun asalnya sudah tidak ada. Ibarat sebuah pohon dengan akar yang menghunjam ke tanah, di saat akar tercerabut pohon menjadi tumbang dan ranting pun ikut tumbang. Ibarat sebuah bangunan di saat pondasi ambruk tembok pun ikut roboh. Itulah hukum alam yang berjalan sesuai koridor normalnya. Namun, jika terjadi berkebalikan dengan hukum normalnya, …

Read More »

Kaidah Fikih: Gagal Satu Gagal Semua

kaidah fikih

Kaidah ini merupakan penjabaran dari kaidah, idza saqatha al-ashl saqatha al-far’u (apabila asal telah gugur, maka cabang pun menjadi gugur). Ruang lingkup aplikasinya lebih spesifik. Topik pembahasan masih seputar asal dan cabang (al-far’u), cuma istilah yang digunakan sedikit berbeda. Kaidah ini menggunakan istilah kandungan atau cakupan (al-dlimn) untuk menggantikan istilah cabang. Penjelasan lebih lengkap seperti berikut ini: اِذَابَطَلَ الشَّيْءُ بَطَلَ …

Read More »

Kaidah Fikih: Pondasi Ambruk Bangunan Pun Roboh

kaidah fikih tentang pondasi

Kaidah ini berbicara tentang sesuatu yang keberadaannya menjadi asal dan pondasi terhadap keberadaan yang lain. Jika asal atau dasar gugur, sesuatu yang berpijak kepadanya juga gugur. Pondasi, dasar, asal, al-ashl (bahasa Arab) adalah sesuatu yang dijadikan pijakan oleh sesuatu yang lain. Sementara cabang, ranting, al-far’u (bahasa Arab) adalah sesuatu yang berpijak di atas sesuatu yang lain. Pondasi rumah adalah bangunan …

Read More »

Kaidah Fikih: Mengunggulkan Sisi Negatif

hitam dan putih

Kaidah ini berbicara apabila bercampur antara halal dan haram, maka haram dimenangkan, sehingga semua dihukumi haram. Dalam dunia bisnis dikenal istilah area hitam dan putih. Area hitam merupakan bisnis yang bergerak di dunia hitam, dunia terlarang, baik barang ilegal (black market) ataupun barang-barang terlarang, seperti narkoba dan semacamnya. Area putih adalah bisnis yang jelas halalnya, mulai dari proses hingga transaksinya. …

Read More »

Kaidah Fikih: Menimbang Dua Hal Yang Kontradiktif

kaidah tentang kontradiksi

Kaidah ini berbicara tentang cara menimbang dua hal yang kontradiktif atau bertentangan. Mana kira-kira yang didahulukan? Kontradiksi adalah hukum alam (sunnatullah) yang sengaja diciptakan agar terjadi dialektika demi keberlangsungan alam itu sendiri. Dialektika dalam dunia filsafat merupakan teori Hegel yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang terdapat di alam semesta merupakan hasil dari pertentangan antara dua hal yang memunculkan hal baru, …

Read More »

Kaidah Fikih: Ketika Badai telah Berlalu

kaidah badai

Kaidah kali ini tentang hukum yang terhalangi pemberlakuannya karena ada rintangan. Ketika penghalang itu sudah tidak ada, hukum dapat diberlakukan kembali. Idealisme selalu menempel pada tataran konsep. Karena konsep merupakan hasil pemikiran yang ideal. Pada tataran praktik akan berhadapan dengan berbagai macam persoalan. Demikian juga dengan hukum, pada tataran konsep sangat ideal dan sempurna, namun praktik di lapangan akan mengalami …

Read More »

Kaidah Fikih: Pengikut Yang Belum Mandiri

Pengikut Belum Mandiri

Kaidah ini berbicara tentang status hukum pengikut yang belum mandiri. Kemandirian dalam segala hal merupakan impian setiap manusia. Mulai dari lingkup kecil seperti keluarga hingga lingkup yang lebih luas semisal negara. Kemandirian adalah kemerdekaan dalam bersikap dan berdaulat. Founding fathers bangsa Indonesia mencita-citakan agar negara ini berdikari, berdiri di atas kaki sendiri. Artinya, sebagai sebuah negara yang bercita-cita agar rakyatnya …

Read More »

Kaidah Fikih: Pemakluman Terhadap Pengikut

kaidah pemakluman hukum

Kaidah ini berbicara tentang barang atau seseorang yang berposisi sebagai sebagai tabi’, akan mendapatkan toleransi atau pemakluman hukum yang tidak bisa didapatkan ketika ia berposisi sebagai matbu’. Dinamika kehidupan harus berjalan mengikuti rumus keseimbangan. Keseimbangan merupakan sunnatullah yang harus dipatuhi oleh semua makhluk apapun di muka bumi ini. Jika terdapat pihak-pihak yang melawan rumus keseimbangan dengan melakukan upaya-upaya yang bertentangan, …

Read More »

Kaidah Fikih: Kesetiaan Seorang Pengikut

kesetiaan pengikut

Kaderisasi dalam sebuah organisasi itu penting. Keberlangsungan sebuah organisasi ditentukan oleh bagaimana merekrut dan merawat kader. Kaderisasi yang mengacu pada kualitas akan lebih efektif dari pada kaderisasi yang hanya mementingkan kuantitas. Tidak perlu banyak orang, yang terpenting adalah militansi dan loyalitas terhadap organisasi. Loyalitas dan militansi kader yang akan banyak berperan dalam menghidupkan roh organisasi. Oleh karena itu, membangun mental …

Read More »

Kaidah Fikih: Tidak Boleh Melangkahi Pemimpin

kriteria pemimpin

Seperti yang telah dibahas dalam kaidah, at-tabi’u tabiun, pengikut harus ikut, bahwa sesuatu yang mengekor terhadap sesuatu yang lain tidak bisa berdiri sendiri, keberadaannya diposisikan sebagai barang yang tidak berwujud (ma’dum). Dengan demikian, kaidah ini memunculkan kaidah turunan sebagai konsekuensi ketidak mandirian sesuatu yang mengekor. Konsekuensi dari ketidakmandirian tersebut, ia tidak bisa menjadi objek hukum. Ia tidak memiliki status hukum …

Read More »

Kaidah Fikih: Pengikut Jangan Ambil Keputusan Sendiri

kaidah pengikut

Kepatuhan terhadap pemimpin mutlak dibutuhkan untuk mencapai ketertiban dan stabilitas dalam menjalankan sebuah cita-cita bersama. Seorang pemimpin sangat dibutuhkan untuk mengambil keputusan-keputusan agar satu suara untuk diarahkan pada tujuan yang sama. Spirit pemimpin dan yang dipimpin atau pengikut dalam Islam tercermin dalam persoalan yang sangat sederhana, yakni dalam situasi perjalanan (musafir). Ketika melakukan perjalanan dengan melibatkan beberapa orang, hendaklah satu …

Read More »

Kaidah Fikih: Pengikut Harus Ikut

kaidah fikih pengikut

Dalam sebuah transaksi apapun, yang menjadi objek transaksi adakalanya benda atau barang yang mempunyai bagian yang dapat dipisahkan. Kadangkala satu kesatuan yang tak terpisah dan benar-benar menyatu. Ragam objek transaksi ini memunculkan status hukum yang berbeda terkait bagian-bagian tersebut. Apakah bagian itu menjadi include dalam transaksi tanpa disebutkan secara detail ataukah harus ditegaskan dalam akad? Kaidah berikut menjadi pijakan dalam …

Read More »

Kaidah Fikih: Menghentikan Potensi Kejelekan

haram menyimpan

Suatu barang yang haram jika dikonsumsi atau dimanfaatkan, haram pula untuk menyimpannya. Tindakan preventif sangat dibutuhkan dalam segala aspek kehidupan. Sikap sigap sebelum terjadi merupakan bentuk ikhtiar yang harus ditempuh sebelum menyerahkan sepenuhnya (tawakkal) kepada Yang Mahakuasa. Sedia payung sebelum hujan, begitu pepatah mengatakan. Tak terkecuali dalam syariat Islam, tindakan pencegahan ini menjadi salah satu dalil yang diperhitungkan dalam deretan …

Read More »

Kaidah Fikih: Menyuruh Sama dengan Melakukan

kaidah menyuruh

Menyuruh sama dengan melakukan. Memerintah hal haram sama saja dengan melakukannya. Masih seputar perbuatan terlarang atau haram dalam bahasa fikih. Senada dengan pembahasan sebelumnya, bahwa segala bentuk barang haram yang dilarang bagi seseorang untuk mengambilnya, maka memberikan kepada orang lain juga haram. Karena perbuatan menyodorkan dengan cara hibah atau yang lain dianggap sebagai bentuk membantu terhadap perbuatan haram. Alhasil, segala …

Read More »