kaidah badai
kaidah badai

Kaidah Fikih: Ketika Badai telah Berlalu

Kaidah kali ini tentang hukum yang terhalangi pemberlakuannya karena ada rintangan. Ketika penghalang itu sudah tidak ada, hukum dapat diberlakukan kembali.


Idealisme selalu menempel pada tataran konsep. Karena konsep merupakan hasil pemikiran yang ideal. Pada tataran praktik akan berhadapan dengan berbagai macam persoalan. Demikian juga dengan hukum, pada tataran konsep sangat ideal dan sempurna, namun praktik di lapangan akan mengalami kendala-kendala. Aral dan rintangan yang menghalang akan selalu ada.

Lalu bagaimana jika dalam pelaksanaan hukum terkendala teknis, sehingga tidak bisa terlaksana, apakah hukum menjadi gagal dan hilang dari peredaran? Temukan jawabannya dalam kaidah berikut ini:

اِذَازَالَ اْلمَانِعُ عَادَاْلمَمْنُوْعُ

(idza zala al-mani’ ‘ada al-mamnu’)

Artinya: “Apabila penghalang telah sirna, maka yang terhalangi akan tampak kembali.”

Maksud kaidah ini bahwa apabila suatu hukum terhalang oleh sesuatu yang dapat menjadi penghalang dalam ketentuan syari’, ketika penghalang itu sudah tidak ada, hukum dapat diberlakukan kembali. Artinya, jika sebelum terhalang merupakan sesuatu yang wajib, sunnah, dan mubah, setelah kepergian dan sirnanya penghalang hukum tersebut kembali seperti semula.

Penghalang (mani’) adalah keberadaan sesuatu yang menyebabkan ketiadaan sesuatu yang lain. Misalnya, perkawinan yang sah seharusnya menimbulkan hukum waris antara suami istri, tetapi karena perbedaan agama di antara keduanya, maka tidak bisa saling mewarisi. Perbedaan agama adalah mani’, keberadaannya menyebabkan terhalangnya hak waris.  

Kaidah ini berkebalikan dengan kaidah lalu yang berbunyi, ma jaza li ‘udzrin bathala bi zawalih, suatu perbuatan yang diperbolehkan karena uzur, menjadi tidak belaku seiring dengan hilangnya uzur tersebut. Kaidah yang lalu berbicara soal hukum yang diperbolehkan karena sebab tertentu, lalu kembali tidak boleh seiring hilangnya sebab. Sementara kaidah ini berbicara soal hukum yang terhalang oleh sebab tertentu, lalu kembali boleh seiring sirnanya sebab yang menjadi penghalang.

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Pengganti Yang Dapat Mewakili

Aplikasi kaidah: seorang wanita yang sedang haid atau nifas terhalang atau tidak boleh melakukan shalat. Ketika haid dan nifas sudah selesai, artinya wanita tersebut sudah suci, maka shalat kembali wajib baginya.

Harta waris tidak adapat dibagikan kepada yang berhak karena terhalang hutang mendiang. Namun, setelah hutang terbayar, maka harta waris dapat dibagikan. Hutang menjadi penghalang (mani’) terhadap pelaksanaan pembagian waris.

Seorang anak yang belum baligh menjadi saksi atas peristiwa tertentu. Ketika belum baligh anak tersebut tidak bisa menjadi saksi di pengadilan atas peristiwa yang dilihatnya. Tetapi setelah baligh kesaksian anak tersebut dapat diterima.

Demikian juga orang yang buta tidak bisa menjadi saksi atas peristiwa yang dilihatnya sebelum buta, tetapi ketika ia sembuh dari butanya, kesaksiannya dapat diterima. Keadaan belum baligh dan kondisi buta menjadi penghalang (mani’) terhadap terkabulnya kesaksian mereka, tetapi ketika penghalang sudah tidak ada, maka kesaksian mereka dapat diterima.

Orang yang menyewa sebuah rumah mengizinkan pemilik rumah untuk menjual rumah yang disewakannya, sebelum habis masa sewa. Oleh sebab itu, penyewa tidak lagi berhak menempati rumah tersebut. Akan tetapi, jika selang beberapa waktu ternyata transaksi jual beli tersebut digagalkan karena alasan tertentu, maka penyewa berhak kembali melanjutkan akad sewanya yang belum berakhir.

Hikmah kaidah dalam kehidupan. Dalam menggapai sebuah impian dan cita-cita aral dan rintangan pasti datang silih berganti. Tetaplah berusaha, jangan patah semangat, karena badai pasti berlalu. Ketika aral dan rintangan dapat terlewati maka kesuksesan di depan mata. Habis gelap terbitlah terang. Ada saatnya aral dan rintangan menyingkir, lalau akan indah pada waktunya. []

Wallahu ‘alam

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

fatwa

Memahami Fatwa (10): Syarat-Syarat Mujtahid

Artikel ini melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang syarat-syarat mujtahid. Uraian sebelumnya telah mengulas syarat mujtahid yang …

fatwa

Memahami Fatwa (9): Syarat-syarat Mujtahid

Dalam beberapa artikel sebelumnya telah diulas tentang kriteria seorang mufti. Para ilmuwan Islam berpandangan bahwa …